Happy Cat Kaoani /* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

Rabu, 15 Maret 2017

SEMESTER 3 - MATA KULIAH BPMP

NAH DISINI AKU MAU SHARE APA YANG AKU BUAT DI SEMESTER 3 TENTANG BELAJAR DAN MENGAJAR MANAJEMEN PERKANTORAN, CHECK THIS OUT....
AKU MEMBUAT BAHAN UNTUK PRESENTASI TENTANG JUDUL DI BAWAH INI..

Teori Pengolahan Informasi dan Kontruktivisme


TERNYATA JUDUL KU YANG SATU INI MALAH BERGUNA UNTUK SKRIPSI AKU EHHEHHE, ASLI TUHAN ITU SELALU SAJA BAIK KEPADA KU, PASTI ADA SAJA HAL YANG AKU LEWATKAN ITU, YANG NANTINYA PASTI UNTUK AKU JUGA HHEHEHE...
INI DIA PEMBAHASANNYA...


Bab 5
Teori Pengolahan Informasi

Teori Pengolahan Informasi
Teori – teori pengolahan informasi memfokuskan perhatian pada bagaimana orang memperhatikan peristiwa – peristiwa lingkungan, mengkodekan informasi-informasi untuk dipelajari, dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang baru dalam memori, dan menariknya kembali ketika dibutuhkan (Shuell, 1986). Prinsip-prinsip dan tori tersebutadalah sebagai berikut : “Manusia merupakan pemproses informasi. Pikiran merupakan sebuah sistem pengolahan informasi. Kognisi adalah serangkaian proses mental. Pembelajaran adalah penguasaan representasi-respresentasi mental” (Mayer, 1996, hlm. 154).
Bab ini mula-mula membicarakan tentang asumsi-asumsi pengolahan informasi dan memberikan sebuah gambaran umum tentang prototipe model memori dua-penyimpanan (disebut juga penyimpanan –ganda). Bab ini juga membahas pemahaman bahasa, dan bagian akhir terdapat pembahasan mengenai pencitraan mental dan aplikasi-aplikasi pengajaran.
Ketika anda telah selesai mempelajari bab ini, Anda diharapkan dapat melakukan hal-hal berikut ini:
§  Mendeskripsikan komponen-komponen utama dari pengolahan informasi: Perhatian, persepsi memori jangka pendek (memori kerja), dan memori jangka panjang.
§  Menjelaskan perbedaan pandangan tentang perhatian, dan ,menjelaskan bagaimana perhatian mempengaruhi pembelajaran.
§  Membandingkan dan menjelaskan perbedaan antara teori Gestalt dan teori pengolahan informasi yang berkenaan dengan persepsi.
§  Mendiskusikan bentuk-bentuk utama dari penelitian pembelajaran verbal.
§  Menyampaikan perbedaan antara memori jangka pendek dan memori jangka  panjang berdasarkan kapasitas, durasi, dan proses-proses komponen.
§  Mendefinisikan proposisi, dan menjelaskan perannya dalam mengkodekan dan penarikan informasi memori jangka panjang.
§  Menjelaskan faktor-faktor utama yang mempengaruhi pengkodean, penarikan, dan lupa.
§  Membahas komponen-komponen utama dari pemahaman bahasa.
§  Menerangkan teori dual-code (dua-kode) dan mengaplikasikannya pada pencitraan mental.
§  Mengidentifikasi prinsip-prinsip pengolahan informasi yang berada dalam aplikasi-aplikasi pengajaran yang meliputi organisator-organisator pengantar, kondisi-kondisi pembelajaran, dan muatan kognitif.


SISTEM PENGOLAHAN INFORMASI
Asumsi – asumsi
Teori-teori pengolahan informasi yang ada memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam hal proses-proses kognitif yang mana yang tergolong penting dan bagaimana cara kerjanya, tetapi teori-teori  tersebut memiliki asumsi-asumsi yang sama.
Para peneliti juga berasumsi bahwa pengolahan informasi terlibat dalam semua aktivitas kognitif: melihat/merasakan, mengulang, berpikir, memecahkan masalah, mengingat, lupa, dan mencitrakan (Farnham-Diggory, 1992; Matlin, 2009; Mayer, 1996; Shuell, 1986; Terry, 2009). Pengolahan informasi menjangkau lebih dari konsep tradisional tentang pembelajaran manusia. Bab ini membahas tentang fungsi-fungsi informasi terutama yang paling berkaitan dengan pembelajaran.
Model Memori Dua-Penyimpanan
Gambar 5.1 menunjukkan sebuah pengolahan informasi yang menggabungkan tahapan pengolahan. Meskipun umum, model ini sangat berhubungan dengan model klasik yang diusulkan olehAtkinson dan Shiffrin (1968, 1971).
Model pengolahan informasi pembelajaran dan memori

  
                                              (GAMBAR TIDAK MUNCUL)

Alternatif-alternatif Model  Dua-Penyimpanan

PERHATIAN
Kata perhatian sering didengar dalam setting-setting pendidikan. Para guru dan orang tua mengeluhkan bahwa siswa tidak memerhatikan instruksi-instruksi atau arahan-arahan. Parasiswa dengan prestasi belajar yang tinggi sekalipun tidak selalu memrhatikan peristiwa-peristiwa yang terkait dengan pelajaran. Objek-objek visual, bunyi, bau, rasa, dan hal-hal yang dirasakan secara fisik membobardir kita. Dengan demikian, perhatian dapat dipahami sebagai proses memilih bebrapa dari banyaknya potensi input.
Teori-Teori tentang Perhatian
Penelitian telah mempelajari bagaimana orang menyeleksi input-input untuk diperhatikan.
Broadbent (1958) mengusulkan sebuah model perhatian yang dikenal sebagai teori filter (leher botol). Dalam pandangannya, informasi yang masuk ke dari lingkungan disimpan sebentar dalam sebuah sistem indrawi.
Perhatian dan Pembelajaran
Perhatian merupakan persyaratan penting dalam pembelajaran. Untuk belajar membedakan huruf-huruf, seorang anak mempelajari ciri-ciri yang berbeda: Untukmembedakan antara b dan d, ia harus memerhatikan posisinya pada garis vertikal di sebelah kiri atau kanan lingkaran, bukan hanya keberadaan lingkaran yang melekat pada garis vertikal. Untuk belajar dari guru, siswa harus memerhatikan suara guru dan mengabaikan bunyi-bunyi lainnya.
Perhatian dan Keterampilan Membaca
Sebuah temuan yang umum dihasilkan dalam penelitian adalah kenyataan bahwa siswa cenderung mengingat elemen-elemen bacaan yang penting daripada elemen-elemen bacaan yang kurang penting (R. Anderson, 1983; Grabe, 1986).
PERSEPSI
Persepsi (pengenalan pola) mengacu pada pelekatan makna pada input-input lingkungan yang diterima melalui pancaindra. Supaya sebuah input dirasakan, input tersebut harus disimpan dalam satu atau lebih register sensorik dan dibandingkan dengan pengetahuan LTM.
Register-register Sensorik
Input-input lingkungan diperhatikan dan diterima melalui pancaindra: penglihatan, pendengaran, peraba, pembau, dan perasa. Teori-teori pengolahan informasi menyatakan bahwa tiap indra memiliki regsternya sendiri yang menyimpan informasi sebentar dalam dalam bentuk yang sama dengan saat deiterima.
MODEL MEMORI DUA-PENYIMPANAN
Model memori dua-penyimpanan (dual) berperan sebagai perspektif dasar pengolahan informasi untuk pembelajaran dan memori meskipun, sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, tidak semua peneliti setuju dengan model ini (Maltin,2009). Penelitian terhadap pembelajaran verbal dibahas di bawah ini untuk memberikan latar belakang historisnya.
Pembelajaran Verbal
Asosiasi-Asosiasi Stimulus – Respons. Pencetus penelitian terhadap pembelajaran verbal adalah tulisan ilmiah Ebbinghaus (Bab 1), yang menyatakan pembelajaran sebagai penguatan asosiasi-asosiasi antarstimulus verbal secara berangsur-angsur.
Memori Kerja jangka-pendek
WM adalah memori kita dari pikiran sadar yang dapat segera diakses . WM memiliki dua fungsi penting: pemerintahan dan penarikan (Unsworth & Engle, 2007). Informasi yang datang dipertahankan dalam kondisi aktif dalam jangka waktu yang pendek dan diproses dengan cara diulang atau dihubungkan dengan informasi yang ditarik dari memori jangka panjang (long-term memory/LTM).
Memori Jangka panjang
Representasi pengetahuan dalam LTM bergantung pada frekuensi dan kontiguitas (Baddeley, 1998). Makin sering suatu fakta, peristiwa, atau ide dijumpai, makin kuat representasinya dalam memori.
  
Karakteristik-karakteristik dan perbedaan-peredaan dari sistem-sistem Memori
Tiper Memori
Karakteristik
Jangka pendek (sedang digunakan/working momory)
Kapasitas terbatas (sekitar tujuh item), durasi singkat (jika tidak dilakukan pengulangan), pikiran sadar yang dapat segera diakses.
Jangka Panjang
Scara teoritis kapasitasnya tidak terbatas, penyimpanan yang permanen, informasi teraktifkan ketika ada tanda untuk mengaktifkan
Episodik
Informasi dalam LTM yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa, waktu-waktu, dan tempat-tempat tertentu
Semantik
Informasi dalam LTM yang melibatkan pengetahuan dan konsep-konsep umum yang tidak terikat dengan konteks-konteks tertentu
Verbal
Proposisi-proposisi (unit-unit informasi)
Visual (iconic)
Informasi-inforamasi yang dikodekan dalam bentuk gambar-gambar, citra-citra tertentu, kejasdian-kejadian.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengkodean
Pengkodean (encoding) adalah proses penempatan informasi yang baru (yang masuk) ke dalam sistem pengolahan informasi dan mempersiapkannya untuk disimpan dalam LTM. Pengkodean biasannya dilaksanakan dengan membuat informasi-informasi yang telah diketahui dalam LTM.
Penjelasan. Penjelasan adalah proses mengembangkan informasi yang baru bagi seseorang dengan menambahkan atau menghubungkannya dengan hal-hal yang telah diketahuinya. Penjelasan membantu pengkodean dan penarikan dari memori karena cara ini dapat menghubungkan informasi yang harus diingat dengan pengetahuan-pengetahuan lain.
Skema. Skema (bentuk jamknya: Skema-skema atau skemata)adalah struktur yang mengorganisasikan sejumlah besar informasi menjadi sebuah sistem yang bermakna. Skemata adalah rencana-rencana yang kita pelajari dan gunakan dalam interaksi-interaksi kita dengan lingkungan.
MEMORI JANGKA PANJANG (LTM) : GUDANG PENYIMPANAN
Karekterisasi LTM dalam bab ini meliputi sebuah struktur dengan pengetahuan yang direpresentasikan sebagai lokasi-lokasi atau simpul-simpul dalam jaringan-jaringan sementara jaringan-jaringan tersebut saling berhubungan  (berasosiasi).
Gudang Penyimpanan Pengetahuan
Pengetahuan deklaratif. Pengetahuan deklaratif (mengetahui bahwa sesuatu demikian adanya) meliputi fakta-fakta,  keyakinan-keyakinan, pendapat-pendapat, generalisasi, teori-teori, hipotesis-hipotesis, dan sikap-sikap mengenai diri sendiri, orang lain, dan peristiwa-peristiwa didunia (Gupta & Cohen, 2002; Paris et al., 1983).
Aktivasi yang Menyebar. Aktivasi yang menyebar membantu menjelaskan bagaiman informasi yang baru dihubungkan dengan pengetahuan yang ada dalam LTM (Anderson, 1983, 1984, 1990, 2000; Collins & Loftus, 1975). Prinsip-prinsip dasar yang melandasinya adalah sebagai berikut (Anderson, 1984):
§  Pengetahuan manusia dapat direpresantasikan sebagai sebuah jaringan simpul-simpul, dimana simpu-simpul tersebut berkorespondensi dengan konsep-konsep dan terhubung dengan asosiasi-asosiasi antarkonsep-konsep ini.
§  Simpul-simpul dalam jaringan ini dapat berada dalam berbagai kondisi yang berhubungan dengan level-level aktivasi mereka. Simpul-simpul yang lebih banyak akan diproses dengan “lebih baik”
§  Aktivasi dapat menyeber disepanjang jalur-jalur jaringan ini dengan sebuah mekanisme di mana simpul-simpul dapat menyebabkan simpul-simpul yang ada di dekat mereka menjadi aktif.

Sistem-sistem Produksi dan Model-Model Koneksionis
Sistem-sistem produksi dan model-model moneksionis memberikan paradigma-paradigma untuk meneliti cara kerja proses-proses pembelajaran kognitif (Anderson, 1996, 2000; Smith, 1996).
Sistem-sistem Produksi.ACT – sebuah teori aktivasi – mengemukakan bahwa sistem roduksi (atau produksi) adalah sebuah jaringan dari rangkaian-rangkaian (aturan-aturan) antara kondisi dan tindakan, dimana kondisi merupakan sekumpulan situasi yang mengaktifkan sistem dan tindakan merupakan sekumpulan aktiitas yang terjadi (Anderson, 1990, 1996,2000; Anderson, Reder & Lebiere, 1996; Andre, 1986).
ACT pada dasarnya adalah sebuah program komputer yang dirancang untuk membuat simulasi pembelajaran secara koheren.

Model-model Koneksionis. Seperti produksi, model-model koreksionis menyajikan simulasi-simulasi komputer dari proses-proses pembelajaran.
Unit-unit koneksionis mengandung beberapa kemiripan dengan produksi-produksi; keduanya mencakup aktivasi memoridan ide-ide yang terkait. Di samping itu, ada juga perbedaan-perbedaan. Dalam model-model koneksionis semua unit serupa sedangkan produksi tediri dari kondisi-kondisi dan tindakan-tindakan. Perbedaan yang lainnya berkaitan dengan aturan-aturan. Produksi dikendalikan oleh aturan-aturan. Koneksionis tidak mempunyai aturam-aturan yang pasti.


1.       MEMORI JANGKA PANJANG : PENARIKAN INFORMASI DAN KONDISI LUPA

A.     Penarikan Informasi

o   Strategi-strategi Penarikan.
 Jika proposisi-proposisi yang diaktifkan tidak menjawab pertanyaannya, aktivasinya akan menyebar sampai jawabannya ditemukan. Ketika waktunya tidak mencukupi untuk menyebarkan aktivasi untuk menemukan jawabannya, siswa dapat menebak jawabanya berdasarkan pengetahuan atau pengalaman yang dimilikinya (Anderson, 1990).
Karena, pengetahuan dikodekan sebagai proposisi, penarikan akan terjadi meskipun informasi yang harus ditarik tidak berada dalam bentuk persisnya seperti dalam memori.

o   Spesifisitas Pengkodean.
Penarikan tergantung pada cara pengkodean. Menurut hipotesis kespesifikasi pengkodean (Brown & Craik, 2000; Thomson & Tulving, 1970), cara pengetahuan dikodekan menentukan tanda-tanda penarikan yang mana akan dapat mengaktifkan pengetahuan tersebut secara efektif. Dalam pandangan ini, penarikan terbaik terjadi ketika tanda-tanda penarikan cocok dengan tanda-tanda yang hadir saat pembelajaran (Baddeley,1998).

Ketika orang diberi nama-nama kategori selagi mereka mengkodekan contoh-contoh spesifik dari kategori-kategori tersebut, mereka akan mengingat contoh-contoh dari kategori-kategori tersebut dengan lebih baik jika mereka di beri nama-nama kategori tersebut saat sedang mengingat dari pada jika mereka tidak diberi nama-nama kategori tadi (Matlin,2009).

Brown (1968) memberikan sebagian daftar negara-negara bagian AS pada sejumlah siswa untuk dibaca, sementara sejumlah siswa lainnya tidak memperoleh daftar tersebut. Setelah itu semua siswa mengingat nama-nama negara bagian AS sebanyak yang mereka bisa. Para siswa yang mendapatkan daftar tersebut dapat lebih banyak mengingat nama-nama negara bagian yang ada dalam daftar dari pada negara-negara yang tidak ada dalam daftar.

o   Penarikan Pengetahuan Deklaratif.
Meskipun pengetahuna deklaratif sering diproses secara otomatis, tidak ada jaminan bahwa pengetahuan ini akan dipadukan dengan informasi-informasi yang relevan dalam LTM. Informasi mengenai variabel-variabel dan operasi aljabar kurang dapat dipahami maknanya bagi siswa, dan mereka tidak bisa menggabungkannya dengan informasi-informasi yang telah ada di dalam memori. Kebermakaan, penjelasan, dan organisasi meningkatkan potensi diprosesnya dan ditariknya informasi deklaratif dari memori secara efektif.

o   Penarikan Pengetahuan Prosedural
Penarikan pengetahuan procedural serupa dengan penarikan pengetahuan deklaratif. Tanda-tanda penarikan memicu asosiasi-asosiasi dalam memori, dan proses aktivasi yang menyebar mengaktifkan dan menarik ingatan terhadap pengetahuan yang relevan.
Pengetahuan deklaratif dan prosedural berbeda di mana prosedur-prosedur mentransformasi atau mengubah informasi. Perbedaan lainnya adalah dalam hal kecepatan pengolahan. Penarikan pengetahuan deklaratif sering kali lambat dan dilakukan secara sadar.

B.     Pemahaman Bahasa

Sebuah aplikasi yang menggambarkan penyimpanan dan penarikan informasi dalam LTM adalah pemahaman bahasa (Carpenter, Miyake, & Just, 1995; Corballis, 2006; Clark, 1994; Matlin, 2009).
Pemahaman bahasa sangat relevan dengan pembelajaran di sekolah dan terutama dengan makin banyaknya siswa yang bahasa aslinya bukan bahasa inggris (Fillmore & Valdez, 1986; Handcock, 2001; Padilla,2006).

Pemahaman bahasa memiliki 3 komponen utama:
1)      Persepsi (perception)
Meliputi memerhatikan dan mengenali sebuah input; pola-pola bunyi diterjemahkan menjadi kata-kata dalam memori kerja (WM).
2)      Penguraian Kalimat (parsing)
Adalah membagi pola-pola bunyi secara mental menjadi unit-unit makna.
3)      Pemanfaatna atau Penggunaan (utilization)
Mengacu pada pengaturan dari representasi mental yang diuraikan : menyimpannya dalam LTM jika representasi mental tersebut berupa sebuah tugas pembelajaran, memberikan jawaban jika itu berupa pertanyaan, mengajukan sebuah pertanyaan jika itu tidak dapat dipahami, dan seterusnya.

o   Penguraian Kalimat

            Penelitian lingusitik menunjukkan bahwa orang memahami aturan-aturan gramatikal dari bahasa mereka sendiri, meskipun mereka biasanya tidak dapat melisankannya (Clark & Clark, 1997).
Penguraian kalimat mencakup lebih dari sekadar menyesuaikan bahasa ke dalam produksi-produksi. Poin pentingnya dalam hal ini adalah bahwa semua komunikasi tidak utuh. Orang bicara tidak memberikan seluruh informasi yang relevan dengan topik yang dibicarakan. Ia menghilangkan informasi-informasi yang sangat mungkin diketahui oleh orang yang mendengarkan (Clark & Clark, 1977).
Penguraian kalimat yang efektif membutuhkan pegetahuan dan penyimpulan-penyimpulan (Resnick, 1985). Jaringan-jaringan ini membuat orang memahami komunikasi-komunikasi yang tidak utuh . Orang sering salah menginterpretasikan komunikasi-komunikasi karena mereka mengisi informasi-informasi yang hilang dengan konteks yang salah.
Skema-skema interpretatif yang penting dalam benak seseorang digunakan untuk memahami bacaan-bacaan yang menyulitkan. Pada banyak keterampilan linguistik lainnya, interpretasi-interpretasi komunikasi menjadi makin dapat diandalkan seiring dengan pertumbuhan saat anak-anak mulai menyadari baik makna literal dari sebuah pesan maupun maksud yang terkandung di dalamnya (Beal & Belgrad, 1990).
Kintsch dan van Dijk (1978) menunjukan bahwa karakteristik-karakteristik komunikasi memengaruhi pemahaman. Pemahaman menjadi makin sulit ketika lebih banyak kaitan yang hilang dan ketika proposisi-proposisinya makin berjauhan (dalam artian bahwa diperlukan penarikan kesimpulan-kesimpulan untuk menutup celah-celahnya). Ketika banyak materi harus disimpulkan, WM menjadi kelebihan beban dan pemahaman menjadi terhambat.
Just dan Carpenter (1992) merumuskan sebuah teori kapasistas untuk pemahaman bahasa yang menyatakan bahwa pemahaman tergantung pada kapasistas WM dan masing-masing individu memilik kapasistas yang berbeda-beda.
Dalam membangun represtasi-representasi, orang memasukan informasi yang penting dan menghilangkan detail-detail (Resnick, 1985). Representasi-representasi inti ini memuat proposisi-proposisi yang paling sesuai dengan pemahaman. Kemampuan pendengar untuk memahami sebuah teks tergantung pada apa yang ia ketahui tentang topic di dalamnya (Chiesi et al., 1979; Spilich et al., 1979).

o   Pemanfaatan
Mengacu pada apa yang dilakukan orang dengan komunikasi-komunikasi yang mereka terima. Untuk menggunakan kalimat-kalimat secara benar, sebagaimana yang dimaksudkan oleh pembicaranya, pendengarnya harus mengkodekan tiga bagian informasi :
1.      Tindak Tutur ( Speech act)
Adalah maksud pembicara dalam mengutarakan komunikasi, atau hal yang ingin dipenuhi oleh pembicara melalui tutur yang disampaikannya (Austin, 1962; Searle, 1969).
2.      Muatan Proposisi
Adalah informasi yang dapat dinilai benar atau salah.
3.      Muatan Tematis
Mengacu pada konteks dari tuturan yang disampaikan.
Pembicara membuat asumsi-asumsi tentang apa yang diketahui oleh pendengarnya. Ketika mendengarkan sebuah tuturan, pendengar menyimpulkan informasi yang tidak diucapkan secara eksplisit, tetapi berkaitan dengan bagaimana informasi tersebut digunakan. Tindak tutur, muatan proposisi, dan muatan tematis cenderung dikodekan dengan produksi-produksi.
            Hal khusus yang juga penting bagi pembelajaran di sekolah adalah bagaimana siswa mengkodekan penegasan (assetion). Ketika guru mengucapkan sebuah penegasan berarti ia menyampaikan pada para siswanya bahwa ia menyakini bahwa proposisi yang disebutkan benar.

C.    Lupa

Merupakan hilangnya informasi dari memori atau ketidakmampuan mengakses informasi. Para peneliti berselisih pendapat dalam hal apakah informasi hilang dari memori atau apakah ia masih ada, namun tidak dapat ditarik karena telah berubah, tanda-tanda penarikannya tidak mencukupi, atau ada informasi lain yang mengganggu usaha mengingatnya.
·         Teori Hambatan (Interference Theory)
Menurut teori ini, asosiasi-asosiasi yang dipelajari tidak pernah benar-benar dilupakan. Lupa diakibatkan oleh asosiasi-asosiasi yang saling berebut atau bersaing yang menurunkan probabilitas diingatnya asosiasi yang benar. Ini berarti materi-materi lain menjadi terasosiasikan dengan stimulus awal (Postman, 1961). Permasalahannya ada pada penarikan informasi dari memori, bukan pada memori itu sendiri (Crouse, 1971).
Teori hambatan dibagi 2 :
1)      Hambatan retroaktif
Yaitu hambatan yang terjadi ketika asosiasi-asosiasi verbal yang baru membuat usaha mengingat yang mendahului asosiasi menjadi sulit.
2)      Hambatan proaktif
Yaitu asosiasi-asosiasi yang lama yang membuat pembelajaran yang baru menjadi lebih sulit.

Skinner (1953; Bab 3) tidak mengemukakan tentang jejak memori internal tetapi menyampaikan bahwa kondisi lupa disebabkan oleh kurangnya kesempatan untuk merespons akibat tidak adanya stimulus selama beberapa waktu. Teori hambatan mengatasi masalah-masalah ini dengan mengemukakan bagaimana informasi dalam memori bercampur aduk dengan informasi-informasi lainnya. Teori ini juga menentukan model penelitian untuk menelusuri proses-proses ini.

·         Pengolahan Informasi
Menurut perspektif pengolahan informasi, hambatan mengacu pada terblokirnya penyebaran aktivasi ke jaringan memori yang berbeda-beda (Anderson, 1990).
1.      Faktor pertama yang dapat memengaruhi apakah struktur-struktur teraktifkan adalah kekuatan dari pengkodean awal.
2.      Faktor kedua adalah jumlah jalur jaringan alternatif yang menjadi lintasan penyebaran aktivasi (Andrson,1990).
3.      Faktor ketiga adalah jumlah perubahan atau penggabungan informasi.
Penggabungan dan penggolongan tersebut memfasilitasi pembelajaran resepsi yang bermakna (Ausubel, 1963, 1968) tetapi kadang-kadang perubahan dan penggabungan tersebut dapat menyebabkan hambatan dan membuat proses mengingat menjadi sulit disbanding jika informasi diingat berdasarkan informasi itu sendiri.
            Hambatan merupakan penyebab penting dari kondisi lupa, tetapi tidak mungkin menjadi satu-satunya penyebab (Anderson, 1990).Tampaknya sejumlah informasi dalam LTM menghilang secara sistematis seiring berjalannya waktu, terpisah dari hambatan manapun.

2.      PENCITRAAN MENTAL

            Pencitraan mental sangat penting bagi setudi LTM (Matlin, 2009). Bagian ini membahas tentang bagaimana informasi direpresentasikan dalam bentuk gambar-gambar dan tentang perbedaan-perbedaan masing-masing individu dalam kemampuan menggunakan pencitraan.

A.    Representasi Informasi Spasial
Pencitraan mental mengacu pada representasi mental dari pengetahuan visual/spasial termasuk karakter-karakter fisik dari objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang direpresentasikan.
Pencitraan mental juga banyak berpengaruh dalam penemuan-penemuan. Kebalikan dari gambar-gambar, proposisi adalah representasi yang berbeda dari makna yang strukturnya tidak menyerupai referennya.

B.     Pencitraan dalam Memori Jangka-panjang (LTM)
Teori dua-kode (dual-code theory) memerhatikan persoalan ini secara langsung (Clark & Paivio, 1991; Paivio, 1971, 1978, 1986). LTM memiliki dua sarana untuk merepresentasikan pengetahuan:
·         Sistem verbal memasukan pengetahuan yang diekspresikan dengan bahasa
·         Sistem imaginal atau sistem gambar menyimpan informasi visual dan spasial.
Berbeda dengan teori dua-kode, Teori uniter (Unitary theory) menyatakan bahwa semua informasi direpresentasikan dalam LTM dalam bentuk kode-kode verbal (proposisi-proposisi). Gambar-gambar dalam WM direkontruksikan dari kode-kode LTM verbal. Dukungan tak langsung untuk pandangan ini datang dari Mandler dan Johnson (1976) dan juga Mandler dan Ritchey (1977).

C.    Perbedaan-perbedaan Individual
Kosslyn (1980) menyampaikan bahwa anak-anak cenderung menggunakan pencitraan untuk menyimpan dan mengingat informasi daripada orang dewasa yang lebih mengandalkan representasi proposisi.
Perbedaan-perbedaan antarindividu dalam pencitraan dapat terjadi karena orang berbeda-beda dalam hal seberapa efektif kedua proses tersebut berjalan dalam diri mereka (Kosslyn, 1988).

3.      APLIKASI-APLIKASI DALAM PENGAJARAN

Tiga aplikasi pengajaran yang mencerminkan prinsip-prinsip pengolahan informasi adalah organistaor pengantar, kondisi-kondisi pembelajaran, dan muatan kognitif.
1.      Organisator pengantar (advance organizer)
Adalah pernyataan umum yang disajikan diawal pelajaran yang membantu mengkoneksikan materi yang baru dengan pembelajaran sebelumnya (Mayer, 1984)
o   Organisator ekspositoris
Memberi siswa pengetahuan baru yang diperlukan untuk memahami pelajaran. Organisator eksplositoris mencakup definisi-definisi dan generalisasi-generalisasi konsep.
o   Organisator komparatif
Memperkenalkan materi baru dengan menarik analogi-analogi dengan materi-materi yang telah dikenal. Organisator-organisator komparatif mengaktifkan dan menghubungkan jaringan-jaringan dalam LTM.

2.      Kondisi-kondisi Pembelajaran
Salah satu teori pengajaran yang paling popular berdasarkan prinsip-prinsip kognitif dirumuskan oleh Robert Gagne (1985). Teori ini mengemukakan tentang kondisi-kondisi pembelajaran, atau situasi-situasi yang berpengaruh ketika pembelajaran berlangsung (Ertmer, Driscoll, & Wager, 2003).
o   Hasil-Hasil Pembelajaran
Gagne (1984) mengidentifikasi 5 tipe hasil pembelajaran yaitu:
a.       Keterampilan-keterampilan intelektual mencakup aturan-aturan, prosedur-prosedur, konsep-konsep.
b.      Informasi-informasi verbal atau pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang kenyataan dari sesuatu.
c.       Strategi-strategi kognitif adalah proses-proses control eksekutif.
d.      Keterampilan-keterampilan motorik dikembangkan melalui peningkatan yang bertahap dalam kualitas (kelancaran dan pengaturan waktu) gerakan-gerakan yang dicapa melalui praktik.
e.       Sikap-sikap adalah keyakinan-keyakinan internal yang memengaruhi tindakan-tindakan dan mencerminkan karakteristik-karakteristik seperti kemurahan hati, kejujuran, dan komitmen terhadap hidup sehat.
o   Peristiwa-peristiwa Pembelajaran
Lima tipe hasil pembelajaran memiliki kondisi yang berbeda-beda.
a.       Kondisi-kondisi internal adalah keterampilan-keterampilan prasyarat dan kebutuhan-kebutuhan akan pengolahan kognitif.
b.      Kondisi-kondisi eksternal adalah stimulus-stimulus lingkungan yang mendukung proses-proses kognitif pembelajar.
o   Hirarki-Hirarki Pembelajaran
Adalah kumpulan-kumpulan keterampilan intelektual yang terorganisir. Elemen tertinggi dalam sebuah hierarki adalah keterampilan target.
a.      Fase-fase Pemelajaran
Pengajaran merupakan sekumpulan peristiwa eksternal yang dirancang untuk memfasilitasi proses-proses pembelajaran internal.
o   Persiapan untuk belajar mencakup aktivitas-aktivitas pembelajaran pendahuluan. Harapan siswa mengarahkan siswa kepada tujuan (mempelajari keterampilan motorik, mempelajari pengurangan bilangan pecahan).
o   Fase-fase pembelajaran utama adalah penguasaan dan praktik. Presepsi selektif bermakna bahwa register-register sensorik mengenali karakteristik-karakteristik stimulus yang relevan da mentransfernya ke WM.
o   Fase-fase transfer pembelajaran mencakup pemberian tanda untuk penarikan dan neralisasibilitas.
o    
Muatan Kognitif
Teori muatan kognitf memperhitungkan keterbatasan-keterbatasan pengolahan ini dalam rancangan pelajaran (DeLeeuw & Mayer, 2008; Schnotz & Kurschner, 2007; Sweller, van Merrienboer, & Paas, 1998).
Muatan kognitif, atau tuntutan-tuntutan terhadap sistem pengolahan informasi, dapat dibagi menjadi dua tipe.
o   Muatan kongnitif intrinsik,tergantung pada karakter-karakter informasi yang tidak dapat diubah yang akan dipelajari dan hanya akan mudah dicapai jika siswa mendapatkan sebuah skema kognitif yang efektif untuk mengelola informasi.
o   Muatan kognitif ekstrinsik disebabkan oleh cara bagaimana materi-materi disajikan atau oleh aktivitas-aktivitas yang perlu dimiliki oleh siswa. (Brunning et al., 2004)

Dengan cara yang serupa Mayer dan Moreno (2003) membedakan tiga tipe tuntutan kognitif :
a.      Pengolahan esensial mengacu pada proses-proses kognitif yang diperlukan untuk memahami materi (mirip dengan muatan intrinsik).
b.      Pengolahan incidental mengacu pada pengolahan yang tidak disyaratkan untuk belajar tetapi dapat membantu meningkatkan pemahaman.
c.       Penyimpanan representasional merupakan penyimpanan informasi sementara dalam memori ketika informasi lain sedang diproses.


Bab 6

Konstruktivisme


Konstruktivisme adalah perspektif psikologis dan filosofis yang memandang bahwa masing-masing individu membentuk atau membangun sebagian besar dari apa yang mereka pelajari dan pahami (Bruning et al., 2004)

A.    KONSTRUKTIVISME : ASUMSI-ASUMSI DAN PERSPEKTIF-PERSPEKTIF

Banyak peneliti dan praktisi mempertanyakan beberapa asumsi psikologi kognitif tentang pembelajaran dan pengajaran karena mereka yakin bahwa asumsi-asumsi ini tidak sepenuhnya menjelaskan pembelajaran dan pemahaman siswa.
Tidak seperti teori-teori lainnya yang dibahas dalam buku ini, tidak ada konsistensi tentang arti dari konstruktivisme (Harlow, Cummings, & Aberasturi, 2006). Yang pasti, konstruktivisme bukanlah teori, tetapi sebuah epistemology, atau penjelasn filosofis tentang sifat pembelajaran (Huyslop-Margison & Strobel, 2008; Simpson, 2002).
o   Asumsi-asumsi. Konstruktivisme menyoroti interaksi orang-orang dan situasi-situasi dalam penguasaan dan penyempurnaan keterampilan-keterampilan dan pengetahuan (Cobb & Bowers, 1999). Konstruktivisme juga bertentangan dengan teori-teori pengolahan informasi yang menempatkan lokus pembelajaran di dalam benak individu dan tidak terlalu memerhatikan konteks di mana pembelajaran tersebut terjadi.
Berbagai Perspektif dalam konstruktivisme

1.      Berbagai Perspektif dalam Konstruktivisme
Konstruktivisme bukan merupakan sudut pandang tunggal; paham ini memiliki perspektif yang berbeda-beda (Bruning et al., 2004; Moshman, 1982; Phillips, 1995).
o   Konstruktivisme eksogenus mengacu pada pemikiran bahwa penguasaan pengetahuan merepresentasikan sebuah konstruksi ulang dari struktur-struktur yang berada dalam dunia eksternal.
o   konstruktivisme endogenus menekankan pada koordinasi tindakan-tindakan kognitif (Bruning et al., 2004).
Di antara dua titik pandangan yang berlawanan ini terdapat konstruktivisme dialektikal yang berpandangan bahwa pengetahuan diperoleh dari interaksi-interaksi antara orang-orang dan lingkungan-lingkungan mereka.

2.      Kognisi Berkonteks (Situated Cognition)
Kognisi berkonteks (atau pembelajaran dalam situasi tertentu) merupakan hubungan-hubungan antara seseorang dengan sebuah situasi tertentu; proses-proses kognitif tidak hanya berada dalam benak seseorang (Greeno, 1989).
Kognisi berkonteks memerhatikan pandangan intuitif yang mengatakan bahwa banyak proses saling berinteraksi untuk menghasilkan pembelajaran. Kita tahu bahwa motivasi dan pengajaran saling terkait dimana pengajaran yang baik dapat meningkatkan motivasi untuk belajar dan pembelajar-siswa yang termotivasi mencari lingkungan-lingkungan pengajaran yang efektif (Schunk, 1995).
Kognisi berkonteks sesuai dengan gagasan konstruktivis yang menyatakan bahwa konteks merupakan bagian yang menjadi sifat bawaan pembelajaran. Gagasan ini makin menunjukan kevalidannya terutama dalam wilayah-wilayah bidang studi.

3.      Kontribusi dan Aplikasi
Mengingat bahwa konstruktivisme baru muncul belakangan ini, penelitian yang meneliti asumsi-asumsi konstruktivis tentang pembelajaran masih dalam tahap awal pertumbuhan.
Faktor lain yang membuat penentuan kontribusi dari konstruktivisme sulit adalah bahwa pendekatan ini bukan pendekatan yang menyatu yang dapat menawarkan hipotesis-hipotesis spesifik untuk diuji.
Kekurangan dari banyak konstruktivisme adalah penekanan terhadap relativisme (Phillips, 1995); yaitu pandangan bahwa semua bentuk pengetahuan dapat dibenarkan karena dibangun oleh para siswa terutama jika pengetahuan-pengetahuan tersebut mencerminkan konsensus masyarakat.
Konstruktivisme memiliki implikasi-implikasi penting bagi pengajaran dan rancangan kurikulum (Philips, 1995). Konstruktivisme juga menggarisbawahi fokus perhatian saat ini terhadap pengajaran reflektif. Pandangan-pandangan konstruktivis social (misalnya; pandangan Vygotsky) menegaskan bahwa pembelajaran dalam kelompok sosial dan kerja sama dengan teman sebaya adalah cara yang bermanfaat (Ratner, Foley, & Gimpert, 2002).

B.     TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET

Teori Piaget tidak banyak mendapat perhatian ketika baru pertama muncul, tetapi perlahan-lahan teori ini naik ke posisi atas dalam bidang ilmu perkembangan manusia. Yang akan dipaparkan berikut ini adalah gambaran singkat mengenai poin-poin utama yang relevan dengan konstruktivisme dan pembelajaran. Meskipun tidak lagi menjadi teori perkembangan kognitif yang paling diikuti, teori Piaget tetap penting dan memiliki beberapa implikasi yang bermanfaat bagi pengajaran dan pembelajaran.

Proses-Proses Perkembangan Kognitif
Ekuilibrasi. Menurut Piaget, perkembangan kognitif tergantung pada 4 faktor : Pertumbuhan biologis, Pengalaman dengan lingkungan fisik, Pengalaman dengan lingkungan sosial, dan ekuilibrasi.
Ekuilibrasi mengacu pada dorongan biologis untuk menciptakan sebuah kondisi keseimbangan atau ekuilibrium (atau adaptasi) yang optimal antara struktur-struktur kognitif dan lingkungan (Ducan, 1995).
Dua proses komponen dari ekuilibrasi: asimilasi dan akomodasi. Asimilasi mengacu pada menyesuaikan realita eksternal dengan struktur kognitif yang telah ada. Akomodasi adalah mengubah struktur-struktur internal untuk memberikan konsistensi dengan realitas eksternal.
o   Tahapan-tahapan. Dari penelitiannya Piaget menyimpulkan bahwa perkembangan kognitif anak-anak berjalan melalui sebuah rangkaian tetap. Pola operasi yang dapat dilakukan anak-anak dapat dikatakan sebagai sebuah level atau tahapan.
1.      Tahapan sensorikmotor
tindakan-tindakan anak spontan dan menunjukan usaha untuk memahami dunia.
2.      Tahapan operasional konkret
ditandai dengan pertumbuhan kognitif yang luar biasa dan merupakan tahapan formatif dalam pendidikan sekolah, karena ini masanya bahasa dan penguasaan keterampilan-keterampilan dasar anak-anak bertambah cepat secara dramatis.
3.      Tahapan operasional formal
mengembangkan pikiran operasional konkret. Pikiran anak-anak pada tahapan ini tidak lagi hanya terfokus pada hal-hal yang dapat dilihat; anak-anak mampu berpikir tentang situasi-situasi hipotesis atau pengandaian.

o   Mekanisme Pembelajaran. Ekuilibrasi adalah sebuah proses internal (Duncan, 1995). Dengan demikian, perkembangan kognitif dapat terjadi hanya ketika disequilibrium (ketidakseimbangan) atau konflik kognitif terjadi.


Implikasi-implikasi bagi Pengajar Menurut Piaget
A.    Pahami Perkembangan Kognitifnya
Guru dapat mencoba untuk memastikan level-levelnya dan menjalankan pengajaran mereka sesuai dengan hal itu. Menurut Piaget (Wadsworth, 1996) semua siswa dalam sebuah kelas tidak seharusnya diharapkan untuk beroperasi pada level yang sama. Kognitif adalah cara seorang murid menerima semua pelajaran atau ilmu yang dia dapatkan yaitu berupa teori atau pengetahuan yang  sudah akurat kejelasannya.
B.     Jaga agar Siswa tetap aktif
Menurut Piaget seorang anak-anak membutuhkan lingkungan yang kaya memberinya kesempatan untuk bereksplorasi secara aktif dan menjalin kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif mereka.
C.    Ciptakan Ketidaksesuaian
Ketidaksesuaian dapat diciptakan dengan membiarkan siswa menyelesaikan soal-soal dan mendapatkan jawaban-jawaban yang salah. Teori yang dikemukakan Piaget tidak menyebutkan bahwa anak-anak selalu harus berhasil dalam menjawab dan guru yang menunjukan jawaban-jawaban yang salah dapat memunculkan ketidakseimbangan.
D.    Memberikan Interaksi Sosial
Lingkungan sosial merupakan sumber utama bagi perkembangan kognitif siswa. Kegiatan-kegiatan yang memberikan interaksi sosial akan bermanfaat. Belajar bahwa orang lain dapat memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dapat membantu anak-anak untuk tidak egosentris.
TEORI SOSIOKULTURAL VYGOTSKY
Vygotsky menempatkan lebih banyak penekanan pada lingkungan sosial sebagai fasilitator perkembangan dan pembelajaran (Tudge & Scrimshe, 2003). Latar belakang kehidupan Vygotsky, beliau lahir di Rusia tahun 1896. Ia adalah seorang pengajar untuk kuliah-kuliah bidang psikologis dan sastra, menulis kritik sastra, dan mengedit sebuah jurnal.
Teori Vygotsky menitikberatkan interaksi dari faktor-faktor interpersonal (sosial), kultural-historis, dan individual sebagai kunci dari perkembangan manusia (Tudge & Scrimsher, 2003). Aspek-aspek kultural-historis  dari teori Vygotsky menonjolkan pemikiran bahwa pembelajaran dan perkembangan tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. Jadi “Sekolah” bukan hanya sekedar sebuah kata atau sebuah stuktur fisik, tetapi juga sebuah institusi yang berupaya mendukung pembelajaran dan kewarganegaraan.
Vygotsky menganggap bahwa lingkungan sosial sangat penting bagi pembelajaran dan berpikir bahwa interaksi-interaksi sosial mengubah atau mentransformasi pengalaman-pengalaman belajar. Aktivitas sosial adalah sebuah fenomena yang membantu menjelaskan perubahan-perubahan dalam pikiran sadar dan membentuk teori psikologis yang menyatukan perilaku dan pikiran (Kozulin, 1986; Wertsch, 1985).
Lingkungan sosial memengaruhi kognisi melalui “alat-alat”nya yaitu, objek-objek kulturalnya (misalnya; mobil, mesin) serta bahasa dan institusi-institusi sosialnya (misalnya; sekolah, gereja). Perubahan kognitif didapatkan dari penggunaan alat-alat kultural dalam interaksi-interaksi sosial dan internalisasi dan transformasi interaksi-interaksi ini secara mental (Bruning et al., 2004). Pandangan Vygotsky merupakan bentuk kontruktivisme dialektikal (kognitif) karena ia menyoroti interaksi antara orang-orang dan lingkungan-lingkungan mereka. Proses yang paling berpengaruh adalah bahasa. Vygotsky berpikir bahwa komponen penting dari perkembangan psikologis adalah menguasai proses-proses eksternal dari transmisi perkembangan kultural dan berpikir melalui simbol-simbol seperti bahasa, berhitung dan menulis. Tujuan dari lingkungan-lingkungan pembelajarab kontruktivisme adalah memberikan pengalaman-pengalaman yang kaya yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Kelas-kelas dengan model kontruktivisme mengajarkan konsep-konsep besar dengan banyak menggunakan aktivitas siswa, interaksi sosial dan penilaian-penilaian autentik.
ZONA PERKEMBANGAN PROKSIMAL
Zona perkembangan proksimal (ZPD/zone of proximal development) adalah perbedaan antara apa yang dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak dan apa yang dapat mereka lakukan dengan bantuan orang lain. Interaksi dengan orang-orang dewasa dan teman-temannya sebaya dalam ZPD mendorong perkembangahn kognitif. (Meece, 2002). ZPD mencerminkan ide marxist tentang aktivitas kolektif, di mana mereka yang tahu lebih banyak atau lebih terlatih mengajarkan pengetahuan dan keterampilan tersebut untuk menyelesaikan tugas bersama mereka yang pengetahuannya lebih sedikit (Bruner, 1984).
Keyakinan Vygotsky bahwa sekolah itu penting bukan karena sekolah adalah tempat di mana anak-anak mendapatkan struktur penyangga, tetapi lebih karena sekolah memberi kesempatan mereka mengembangkan kesadaran yang lebih besar tentang diri mereka sendiri, bahasa mereka, dan peran mereka dalam tatanan dunia.
Dalam sebuah situasi pembelajaran, seorang guru mula-mula mengajarkan sebagian besar tugasnya, baru setelah itu ia dan para siswa berbagi tanggung jawab. Ketika siswa sudah semakin kompeten, guru tersebut perlahan-lahan menarik pemberian bantuan pengajarannya sehingga siswa dapat melakukan tugasnya sendiri (Compione et al., 1984). Kuncinya adalah memastikan bahwa pemberian bantuan pengajarannya menjaga siswa agar tetap berada dalam ZPD yang nantinya akan ditinggikan selagi mereka mengembangkan kapabilitas mereka. Pemberian bantuan dalam belajar sesuai untuk digunakan ketika seorang guru ingin memberikan siswa sejumlah informasi atau menyelesaikan bagian-bagian dari tugas untuk mereka sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada bagian dari tugas yang berusaha mereka kuasai.

TUTURAN PRIBADI DAN PEMBELAJARAN DENGAN MEDIASI SOSIAL
A.    Tuturan Pribadi
Tuturan pribadi (private speech) mengacu pada sekumpulan fenomena tuturan atau tuturan yang memiliki fungsi pengaturan-diri, tetapi tidak komunikatif secara sosial (Fuson, 1979).
Menurut Luria ada tiga tahapan dalam perkembangan kontrol verbal dari prilaku motorik. Awalnya, ucapan atau tuturan orang lain lebih banyaj bertanggung jawab terhadap pengarahan perilaku (usia 1 ½ sampai 2 ½ tahun). Tahapan kedua (usia 3 – sampai 4 tahun), verbalisasi terbuka anak mendorong perilaku-perilaku motorik tetapi tidak mesti menghambatnya. Ketiga, tuturan pribadi si anak menjadi mampu mendorong, mengarahkan, dan menghambat perilaku-perilaku motorik (usia 4 ½ sampai 5 ½ tahun).
B.     Verbalisasi dan Prestasi
Verbalisasi bermanfaat bagi siswa yang sering mengalamai kesulitan dan melakukan tugas dengan cara yang kurang mendukung (Denney, 1975; Denney & Turner, 1979). Cara ini memaksa siswa memerhatikan tugas-tugas dan mengulang materi-materi; dua hal yang dapat meningkatkan pembelajran. Verbalisasi tampaknya tidak menunjang pembelajran ketika siswa dapat mengatasi tuntutan-tuntutan tugas secara memadai tanpa melisankannya. Karena verbalisasi berarti tugas tambahan, pelaksanaannya bisa jadi menghalangi pembelajaran karena bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari tugas utama yang mereka hadapi.
Berk (1986) meneliti tuturan pribadi dari anak-anak kelas satu dan tiga. Hasil ini diperoleh dari penelitian terhadap anak-anak kelas satu dengan kecerdasan tinggi dan anak-anak kelas tiga dengan kecerdasan rata-rata. Daugherty dan White (2008) menemukan bahwa tuturan pribadi berhubungan positif dengan indeks-indeks kreativitas pada anak-anak yang menjalani program Head Start dan pada anak-anak usia prasekolah dengan status sosial-ekonomi yang rendah.
Keeney, Cannizzo dan Flavell (1967) memberikan pra-tes pada anak-anak berusia 6 dan 7 tahun. Pra-test ini berupa serangkaian tugas mengingat. Asarnow dan Meichenbaum (1979) mengidentifikasi para siswa TK yang tidak secara spontan mengulan materi untuk menghadapi serangkaian tes mengingat. Sebagian dari mereka dilatih untuk menggunakan strategi pengulangan yang serupa dengan strategi Keeney st al., sementara sebagian yang lainnya memperoleh latihan pengajaran-diri, dan ternyata yang mendapat perlakuan pengajaran-diri lebih efektif.Verbalisasi cenderung lebih meningkatkan prestasi siswa jika relevan dengan tugas dan tidak menghalangi kinerja. Verbalisasi sebaiknya disertakan ke dalam pelajaran untuk para siswa yang memiliki kesulitan-kesulitan dalam belajar.
Keutamaan dari mediasi sosial terlihat dalam pengaturan-diri dan lingkungan-lingkungan pembelajaran kontruktivisme. Anak-anak kecil memperoleh konsep-konsep spontan dengan mengamati dunia mereka dan merumuskan hipotesis-hipotesis. Contohnya, mereka mendengar suara bising yang berasal dari mobil-mobil dan suara berisik dari truk, lalu mereka meyakini bahwa benda-benda yang lebih besar mengeluarkan bunyi yang lebih berisik. Mereka mengalami kesulitan dalam mengakomodasikan pengamatan-pengamatan yang berbeda-beda (misalnya; sepeda motor lebih kecil daripada mobil atau truk, tetapi mengeluarkan suara yang lebih berisik dari keduanya).
C.    Pengaturan-diri
Dalam teori Vygotsky, pengaturan-diri melibatkan koordinasi proses-proses mental (kognitif) seperti perencanaan, penggabungan, dan pembentukan konsep-konsep (Henderson & Cunningham, 1994).
Faktor-faktor Konsektual
Organisasi dan Struktur
Topik yang relevan dengan kontruktivisme adala organisasi dan struktur dari lingkungan-lingkungan pembelajaran; yaitu bagaiman para siswa dikelompokkan dalam pengajaran, bagaimana hasil belajra dievaluasi dan dihargai, bagaiman otoritas dibangun, dan bagaimana waktu dijadwalkan.
Aspek penting dari organisasi adalah dimensionalitas (Rosenholtz & Simpson, 1984). Kelas yang tidak dimensional adalah kelas yang memiliki sedikit aktivitas yang hanya melibatkan cakupan yang terbatas untuk kemampuan-kemampuan siswa. Kelas multidimensional memiliki lebih banyak aktivitas dan mengakomodir keragaman dalam kemampuan dan kinerja belajar siswa. Makin sedikit pembedaan struktur, makin besar kemungkinannya aktivitas sehari-hari menghasilkan kinerja belajar yang konsisten dan masing-masing siswa dan maik besar kemungkinannya siswa akan membandingkan pekerjaan maereka dengan pekerjaan teman yang lainnya untuk mengetahui posisi relatif sosialnya di kelas.
           
Karakteristik-karakteristik Dimensionalitas

Karakteristik
Tidak dimensional
Multidimensional
Pembedaan struktur tugas
Tidak dibedakan; siswa mengerjakan tugas-tugas yang sama
Dibedakan; siswa mengerjakan tugas yang berbeda-beda
Otonomi siswa
Rendah; siswa memiliki sedikit pilihan
Tinggi; siswa mempunyai banyak pilihan
Pola-pola pengelompokan
Seluruh kelas; siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan
Kerja individual; siswa tidak dikelompokkan berdasarakan kemampuan
Evaluasi-evaluasi kinerja belajar
Siswa mendapat nilai untuk tugas-tugas yang sama; nilai-nilanya bersifat publik; banyak perbandingan sosial
Siswa mendapat nilai untuk tugas yang berbeda-beda; penilaiannya bersifat lebih tidak publik; tidak banyak perbandingan sosial.
           
            Otonomi mengacu pada tingkatan di mana siswa mempunyai pilihan-pilihan untuk apa yang harus dilakukan serta kapan dan bagaimana melakukannya. Perbandingan-perbandingan sosial menjadi makin menonjol ketika siswa mengikuti aktivitas-aktivitas kelas yang sama yang diperuntukan bagi seluruh kelas atau siswa dikelompokkan menurut beraktivitas secara individual atau dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok dengan campuran tingkatan kemampuan di dalamnya. Kelas yang tidak dimensional, siswa mendapatkan nilai untuk tugas-tugas yang sama dan nilai-nilainya bersifat publik atau diumumkan sehingga semua orang mengetahui nilai-nilai yang diberikan.
Dalam kelas tidak dimensional, prestasi belajar terlihat jelas (Rosenholtz, 1981). Hal ini dapat memotivasi para siswa berprestasi tinggi untuk belajar, tetapi kondisi ini sering menghasilkan efek negatif pada para siswa yang lainnya. Kelas-kelas multidimensional cenderung memotivasi lebih banyak siswa karena kelas seperti ini menyuguhkan lebih banyak pembedaan dan otonomi, lebih sedikit pengelompokan berdasarkan kemampuan, dan lebih banyak fleksibilitas dalam penilaian selain juga penilaiannya tidak bersifat publik.
TARGET adalah sebuah singkatan dari task design (rancangan tugas),  distribution of authority (distribusi otoritas), recognition of student (pengakuan terhadap siswa), grouping arrangements (aturan pengelompokan), evaluation practices (praktik-praktik evaluasi, dan time allocation (alokasi waktu) (Epstein, 1989).

Faktor-faktor TARGET yang Memengaruhi Motivasi dan Pembelajaran
Faktor
Karakteristik
Tugas (task)
Merancang Kegiatan-kegiatan belajar dan tugas-tugas
Otoritas (authority)
Kondisi di mana siswa mendapat tanggung jawab untuk memimpin dan mengembangkan kemandirian serta kontrol atas aktivitas-aktivitas belajar
Pengakuan (recognition)
Penggunaan formal dan informal dari imbalan, insentif, maupun pujian
Pengelompokan (grouping)
Individual, kelompok kecil, kelompok besar
Evaluasi (evaluation)
Metode-metode untuk memantau dan menilai pembelajaran
Waktu (time)
Kesesuaian beban kerja, ritme pelajara, waktu yang dialokasikan untuk menyelesaikan tugas


Kerja kelompok juga dapat mendorong lebih banyak siswa untuk berbgai tanggung jawab dalam pembelajaran sehingga tugas-tugas yang diberikan tidak semua dikerjakan oleh beberapa siswa saja. Strategi-strategi yang efektif untuk meningkatkan motivasi dan pembelajaran adalah menyesuaikan waktu atau persyaratan-persyaratan tugas siswa yang mengalami kesulitan dan memberi mereka kesempatan untuk merencanakan jadwal-jadwal mereka dan pengaturan waktu-waktu untuk membuat kemajuan.

          Teori-teori Implisit
            Para peneliti motivasi telah mengidentifikasi dua teori (atau pola pikir) implisit yang berbeda tentang peran kemampuan dalam prestasi belajar: teori entitas (pola pikir tetap/fixed mindset) dan teori incremental (pola pikir maju dan berkembang/ growth mindset). Pola pikir yang maju dan berkembang meyakini bahwa kemampuan adalah yang dapat mereka tingkatkan dengan belajar (Dweck, 1999; Dweck & Legget, 1988; Dweck & Molden, 2005).

Harapan-harapan Guru
                        Ketika guru telah membentuk harapan-harapan, mereka dapat menyampaikannya kepada siswa melalui iklim sosial-emosional, input verbal, output verbal, dan umpan-balik (Rosenthal, 1974). Iklim sosial-emosional mencangkup senyuman, anggukan kepala, kontak mata, dan tindakan-tindakan yang mendukung dan bersahabat. Input verbal adalah kesempatan-kesempatan untuk mempelajari materi-materibaru dan tingkat kesulitan dan materinya. Output verbal mengacu pada jumlah dan lamanya interaksi akademik. Unpan-balik merupakan penggunaan pujian dan kritik.
                        Praktik-praktik berikut ini dapat membantu mencegah efek-efek negatif dari harapan:
§  Menerapkan aturan-aturan secara adil dan konsisten.
§  Anggap semua siswa mampu belajar dan sampaikan harapan tersebut pada mereka.
§  Jangan membeda-bedakan harapan untuk siswa berdasarkan hal-hal yang tidak terkait dengan kinerja belajar (misalnya; gender, suku, latar belakang orang tua).
§  Jangan menerima alasan-alasan untuk hasil kerja yang buruk.
§  Sadari bahwa batas-batas atas dari kemampuan siswa tidak diketahui dan tidak relevan dengan pembelajaran di sekolah.

LINGKUNGAN - LINGKUNGAN PEMBELAJARAN KONTRUKTIVISME
Prinsip-prinsip Penuntun untuk Lingkungan-lingkungan Pembelajaran Kontruktivisme
ü  Prinsip pertama adalah guru harus menghadirkan masalah-masalah yang semakin jelas relevansinya untuk siswa di mana relevansinya telah ada sebelumnya atau timbul melalui mediasi guru.
ü  Prinsip kedua adalah pembelajaran harus disusun di sekitar konsep-konsep pokok. Ini berarti bahwa guru merancang aktivitas-aktivitas seputar kelompok-kelompok pertanyaan dan permasalahan konseptual sehingga ide-ide yang ada disajikan secara holistik atau menyeluruh, bukan secara terpisah (Brooks & Brooks, 1999). Metode holistik berupa penyampaian tema-tema yang berulang dalam sejarg dan penyusun materi yang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan tema-tema ini dalam era-era yang berbeda.
ü  Prinsip ketiga adalah mencari tahu dan menghargai suatu pandang siswa. Memahami perspektif-perspektif siswa adalah hal yang sangat penting untuk merencanakan aktivitas-aktivitas yang menantang dan menarik.
ü  Keempat, kita harus mengadaptasikan kurikulum untuk memerhatikan asumsi-asumsi siswa.
ü  Kelima, pendidikan kontruktivisme menghimbau agar kita menilai pembelajaran siswa dalam konteks pengajaran.
Dalam lingkungan kontruktivis, penilaian terjadi secara berkelanjutan selama pelajaran berlangsung dan merupakan penilaian baik untuk siswa maupun untuk guru.

Prinsip-prinsip Pembelajaran Berbasis-siswa a la APA
Prinsip-prinsip ini dikelompokkan menjadi empat kategori utama: faktor-faktor kognitif dan metakognitif, faktor-faktor motivasional dan efektif, faktor-faktor perkembangan dan sosial, dan perbedaan-perbedaan individu. Faktor-faktor kognitif dan metakognitif meliputi sifat dari proses pembelajaran, tujuan-tujuan pembelajaran, konstruksi pengetahuan, pemikiran strategis, berpikir tentang pikiran, dan muatan pembelajaran. Faktor-faktor motivasional dan afektif mencerminkan pengaruh-pengaruh motivasional dan emosional terhadap pembelajaran, motivasi intinsik untuk belajar, dan efek-efek motivasi terhadap usaha. Faktor-faktor perkembangan dan sosial mencakup pengaruh-pengaruh perkembangan dan sosial terhadap pembelajaran.

            APLIKASI-APLIKASI DALAM PENGAJARAN
Beberapa metode pengajaran yang selaras dengan kontruktivisme adalah belajar-menemukan, pembelajaran berbasis-penelitian, pembelajaran dengan bantuan teman sebaya, diskusi dan debat, dan pengajaran refleksi. Belajar-menemukan membantu siswa mendapatkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri melalui pemecahan masalah. Untuk penemuan, guru harus mengatur aktivitas-aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat membentuk dan menguji hipotesis. Dalam hal ini guru tidak sekedar membiarkan siswa melakukan apa yang ingin mereka lakukan.  Mengajarkan Penemuan memerlukan pengajuan pertanyaan-pertanyaan, permasalahan-permasalahan, atau situasi-situasi yang membingungkan untuk diselesaikan dan dorongan bagi para siswa untuk membuat tebakan-tebakan jawaban yang intutif jika mereka tidak yakin. Metode penemuan tampaknya lebih sesuai ketika proses belajarnya penting, seperti aktivitas-aktivitas pemecahan masalah yang memotivasi siswa untuk mempelajari dan mendapatkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan, tetapi, membangun situasi-situasi penemuan sering memakan waktu dan eksperimen-eksperimennya bisa jadi tidak berhasil.
Pembelajaran berbasis-penelitian merupakan bentuk belajar-menemukan yang mungkin mengikuti prinsip-prinsip Socrates dengan banyak pengajuan pertanyaan oleh guru kepada siswa. Pembelajaran dengan bantuan teman sebaya mengacu pada pendekatan pengajaran di mana teman-teman sebaya siswa berperan sebagai pelaku aktif dalam proses belajar. Tutoring oleh teman sebaya dan pembelajaran kooperatif adalah bentuk-bentuk pembelajaran dengan bnatuan teman sebaya. Diskusi dan debat dapat menjadi metode belajar yang bermanfaat jika tujuannya adalah mendapatkan pemahaman konsep yang lebih tinggi atau beberapa sudut pandang dari sebuah topik.
Pengajaran reflektif adalah pengambilan keputusan yang cermat yang memperhitungkan faktor-faktor seperti siswa, konteks, proses-proses psikologis, pembelajaran, motivasi, dan pengetahuan personal dan profesional, strategi-strategi perencanaan, dan keterampilan-keterampilan penilaian. Guru-guru yang reflektif adala orang-orang aktif yang mencari solusi-solusi untuk permasalahan-permasalahan, bukan hanya menunggu orang lain memberi tahu mereka apa yang harus mereka lakukan.


NAH ITULAH YANG SAYA BAHAS DALAM MATA KULIAH INI HOHO..
SEKARANG ADA BEBERAPA PERTANYAAN YANG DISURUH DIBUAT UNTUK UAS HOHO.. INI DIA!!!
Pertanyaan      :

1.      Siapa peneliti yang  mengusulkan sebuah model perhatian yang dikenal sebagai teori filter (leher botol)?
a. Anderson, 1996, 2000; Smith, 1996
b. Gupta & Cohen, 2002; Paris et al., 1983
c. Mayer, 1996, hlm. 154
d. Broadbent, 1958

2.      Serangkaian proses mental adalah pengertian dari ?
a.       Kognisi
b.      Pembelajaran
c.       Perhatian
d.      Persepsi

3.      Penguasaan representasi-respresentasi mental adalah pengertian dari ?
a.   Kognisi
b.   Pembelajaran
c.   Perhatian
d.   Persepsi

4.      Menurut Baddeley, 1998 Representasi pengetahuan dalam LTM bergantung pada?
a.       Tipe memori
b.      Skema
c.       Koneksionis
d.      frekuensi dan kontiguitas

5.      WM adalah memori kita dari pikiran sadar yang dapat segera diakses . WM memiliki dua fungsi penting yaitu :
a.       Pemerintahan dan penarikan
b.      Penyambungan dan penyatuan
c.       Pengambilan dan pengembalian
d.      Pengisian dan perencanaan

6.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Motifasi dan Pembelajaran disingkat TARGET, dibawah ini termasuk faktor-faktor tersebut, kecuali?
a.       Tugas (task)
b.      Pengakuan (recognition)
c.       Pengelompokan (grouping)
d.      Mempengaruhi (influence) (Benar)

7.      Pemahaman Bahasa memiliki poin penting dalam hal ini adalah bahwa semua komunikasi tidak utuh. Ini merupakan salah satu pengertian dari?
a.       Penguraian Kalimat (parsing) (Benar)
b.      Pemanfatan atau penggunaan
c.       Persepsi
d.      Utilization

8.      Proses perkembangan kognitif ini adalah mengubah struktur-struktur internal untuk memberikan konsistensi dengan realitas eksternal. Merupakan pengertian dari?
a.       Asimilasi
b.      Akomodasi (Benar)
c.       Ekuilibrasi
d.      Teori Piaget

9.      Menurut perspektif pengolahan informasi, hambatan mengacu pada terblokirnya penyebaran aktivasi ke jaringan memori yang berbeda-beda (Anderson, 1990). Apa yang mempengaruhi perspektif ini?
a.       Kekuatan dari pengkodean awal (Benar)
b.      Jumlah jalur ingatan alternatif
c.       Pengambilan informasi
d.      Jumlah Pembaharuan

10.  Pencitraan Memori jangka panjang (LTM) memiliki dua sarana untuk merepresentasikan pengetahuan salah satu nya yaitu?
a.       Sistem Marjinal
b.      Sistem Dual-kode
c.       Sistem Pencitraan
d.      Sistem Verbal (Benar)





MY INSTAGRAM @TARIPUTRAM
Semoga Bermanfaat Ya, Tulisan Dalam Blog Ini
HALLO FRIEND, THIS IS MY ROOM