AKU MEMBUAT BAHAN UNTUK PRESENTASI TENTANG JUDUL DI BAWAH INI
LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DAN REMEDIAL
YANG ISI PERMASALAHANNYA SEPERTI INI :
A. Rumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksud diagnosis kesulitan belajar?
2. Apakah
yang dimaksud dengan remedial?
3. Bagaimana
langkah-langkah dalam mendiagnosis kesulitan belajar?
4. Bagaimana
pelaksanaan remedial dalam pembelajaran?
5. Apakah
kaitan antara diagnosis kesulitan belajar dengan remedial?
NAH KITA BAHAS YA....
Kata
remedial berasal dari bahasa Inggris yang artinya menyembuhkan, membetulkan.
Ini berarti bahwa pembelajaran remedial adalah pembelajaran yang bersifat
menyembuhkan sehingga menjadi baik atau sembuh dari masalah pembelajaran yang
dirasa sulit. Menurut Natawija dalam bukunya Pengajaran Remedial,
mengemukakan bahwa dilihat dari arti katanya remedial berarti bersifat
menyembuhkan/ membetulkan atau membuat menjadi baik.
Menurut
Nafsiah Ibrahim dan Partino dalam bukunya Pengantar Diagnostik Kesulitan
Belajar dan Pengajaran Remedial, pembelajaran remedial perlu diadakan bila
telah diketahui terlebih dahulu apa dan bagaimana kesulitan belajar yang
dialami peserta didik, pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran
yang meliputi cara mengajar, cara belajar, materi pelajaran, metode mengajar, cara
belajar, materi pelajaran, fasilitas dan lingkungan yang ikut mempengaruhi
proses belajar tersebut.
Syamsudin
dalam Ishak dan Warji menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan perbaikan
adalah segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis, sifat
kesulitan belajar, faktor-faktor penyebanya serta cara mendapatkan kemungkinan
mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif
(pencegahan) berdasarkan data informasi yang seobjektif mungkin.
Dengan
demikian pembelajaran remedial adalah sebuah bentuk pembelajaran yang sifatnya
memperbaiki kekeliruan-kekeliruan siswa dalam belajar atau untuk lebih
memberikan pemahaman yang lebih bagi siswa yang mengalami kelambanan dalam
belajar, ini berarti bahwa pengajaran remedial merupakan lanjutan dari
kegiatan-kegiatan diagnostik kesulitan belajar.
Dalam
menangani dan memecahkan kasus kesulitan belajar secara operasional, M. Entang
dalam bukunya Diagnosa Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial, ada 6 (enam)
langkah yang harus dilakukan :
- Identifikasi
murid yang diduga mengalami kesulitan belajar.
- Lokalisasi
jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi.
- Lokalisasi
jenis factor, sifat kesulitan, dan serta factor yang menyebabkanya.
- Perkiraan
kemungkinan bantuan.
- Kemungkinan
cara-cara mengatasinya.
- Follow
Up atau
tindak lanjut.
Pada
pembelajaran remedial kegiatan perbaikan bertujuan memberikan bantuan baik yang
berupa perlakuan pengajaran maupun yang berupa bimbingan dalam mengatasi
kesulitan belajar yang dihadapi siswa yang mungkin disebabkan oleh faktor
internal maupun eksternal. Secara operasional kegiatan perbaikan yang
dilaksanakan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar bertujuan
untuk memberikan bantuan yang berupa perlakuan pengajaran kepada siswa yang
lamban, sulit, gagal belajar, agar mereka secara tuntas dapat menguasai bahan
pelajaran yang diberikan.
Fungsi pembelajaran remedial dalam proses belajar
mengajar di sekolah adalah sebagai penunjang terlaksananya kegiatan belajar
siswa ke arah yang lebih baik. Untuk itu sangat perlu siswa diberikan bantuan
serta bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajarnya. Dengan jalan ini kita
menggunakan suatu bentuk pengajaran mengatasi kekeliruan-kekeliruan yang
menjadi penyebab kesulitan belajar sehingga ia dapat memahami kembali konsep-konsep
pelajaran yang pernah didapatkannya.
NAH ITU ADALAH PEMBAHASANNYA, DANTERNYATA REMEDIAL ITU ADA TAHAPAN UNIK UNTUK MEMBERIKAN KEBERHASILAN BAGI PESERTA DIDIK. SEPERTI DIBAWHA INI :
Berikut
tahapan-tahapan yang baik untuk memberikan keberhasilan pada peserta didik :
I.
TAHAP
PERENCANAAN
Keberhasilan suatu kegiatan
terpancar dari bagaimana kegiatan tersebut direncanakan. Langkah-langkah yang
dijalankan selama tahap perencanaan antara lain:
A. Membaca dan memahami tugas observasi
yang telah diterima melalui email.
B. Merencanakan sekolah yang akan
dijadikan pilihan sebagai tempat pelaksanaan observasi.
C. Meminta surat ijin observasi ke
kantor administrasi FPMIPA UPI.
D. Meminta ijin kepada pihak sekolah
yang dijadikan tempat observasi dengan menyerahkan surat ijin dari fakultas.
E. Menentukan kelas yang akan dipilih
sebagai populasi.
F. Menentukan siswa yang dipilih
sebagai responden dan melakukan koordinasi dengan guru Mata Pelajaran
Matematika terkait.
II.
TAHAP PERSIAPAN
Sebelum kegiatan dilaksanakan, ada
berbagai persiapan yang dilakukan agar pelaksanaan observasi berjalan lancar,
di antaranya:
A. Membaca buku sumber mengenai
diagnosik kesulitan belajar dan remedial
teaching.
B. Berkoordinasi dengan guru mata
pelajaran terkait mengenai materi yang telah diujikan dan perlu emndapat remedial teaching.
C. Berkenalan dengan siswa yang telah
dipilih sebagai responden.
D. Merumuskan teknis pengumpulan data
kesulitan belajar siswa dengan cara:
1. Meminta laporan hasil belajar siswa
kepada guru mata pelajaran terkait.
2. Memberikan angket kepada siswa.
3. Melaksanakan wawancara.
E. Merancang angket yang akan diberikan
kepada siswa. (terlampir)
F. Merancang pertanyaan-pertanyaan yang
akan diajukan kepada siswa saat wawancara. (terlampir)
G. Merumuskan teknis pelaksanaan remedial teaching antara lain:
Menguasai materi yang ditujukan, membatasi materi yang
dianggap sulit, menyiapkan strategi belajar, menyiapkan soal-soal, menyiapkan
semangat agar responden ikut termotivasi.
III. TAHAP DIAGNOSTIK
KESULITAN BELAJAR
Menurut Thorndike dan Hagen (1955:
530-532), diagnosis dapat diartikan sebagai:
1) Upaya atau proses menemukan
kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan
studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya;
2) studi yang saksama terhadap fakta
tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan
sebagainya yang esensial;
3) keputusan yang dicapai setelah
dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu
hal.
Di dalam konsep diagnosis tersebut,
secara implisit telah tersimpul konsep prognosisnya. Dengan demikian, di dalam
pekerjaan diagnostik bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan
karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit
tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan
kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Seorang siswa dianggap mengalami
kesulitan belajar kalau yang bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf
kualifikasi hasil belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan
seperti yang dinyatakan dalam TIK atau ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan
dalam program pelajaran time allowed dan
atau tingkat perkembangannya).
Diagnostik kesulitan belajar adalah
suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang
kesulitan-kesulitan belajar dengan menghimpun dan mempergunakan berbagai
data/informasi selengkap dan seobjektif mungkin sehingga memungkinkan untuk
mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternative kemungkinan
pemecahannya.
Burton (1952: 640-652) menggariskan
tahapan-tahapan diagnosis berdasarkan kepada teknik dan instrument yang
digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut.
1. General Diagnosis
pada tahap ini lazim dipergunakan tes baku, seperti yang
dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar.
Sasarannya untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan
tertentu.
2. Analystic Diagnostik
Pada tahap ini yang lazimnya digunakan ialah tes diagnostik.
Sasarannya untuk mengetahui dimana letak kelemahan tersebut.
3. Psychological Diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan instrument yang
digunakan antara lain:
a.
Observasi;
b.
Analisis karya tulis;
c.
Analisis proses dan respon lisan;
d.
Analisis berbagai catatan objektif;
e. Wawancara;
f.
Pendekatan laboratories dan klinis;
g.
Studi kasus.
Perbedaan pokok dengan prosedur dan
teknik bimbingan belajar yang bersifat umum ialah bahwa hasil akhir layanan
bimbingan itu berupa perubahan pada diri siswa setelah menjalani tindakan
penyembuhan. Sedangkan hasil akhir dari layanan diagnostik kesulitan belajar
baru sampai pada rekomendasi tentang kemungkinan alternative tindakan
penyembuhan.
Langkah-langkah operasional
diagnostik kesulitan belajar:
1. Menandai siswa yang diduga mengalami
kesulitan belajar.
2. Melokalisasikan letak kesulitan
(permasalahan).
a.
Mendeteksi kesulitan belajar pada bidang
studi tertentu.
b.
Mendeteksi pada kawasan tujuan
belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran manakah kesulitan terjadi
c.
Analisis terhadap catatan mengenai
proses belajar.
3. Mengidentifikasi faktor penyebab
kesulitan belajar.
a.
Stimulus Variables
1)
Learning Experience Variables: Method Variables, Task
Variables
2)
Environmental Variables
b.
Organismic Variables
1)
Characteristic of the learners
2)
Mediating processes
c.
Response Variables
Burton membagi faktor-faktor
penyebab kesulitan belajar ke dalam dua
ketegori, yaitu yang berasal dari dalam diri siswa dan dari luar diri siswa.
1. Faktor-faktor yang terdapat dalam
diri siswa, antara lain:
a.
Kelemahan secara fisik, seperti:
1)
Suatu pusat susunan syaraf tidak
berkembang secara sempurna.
2)
Panca indera berkembang kurang
sempurna.
3)
Ketidakseimbangan perkembangan dan
reproduksi serta berfungsinya kelenjar-kelenjar tubuh.
4)
Cacat tubuh atau perkembangan yang
kurang sempurna.
5)
Penyakit menahun.
b.
Kelemahan secara mental, antara
lain:
1)
Taraf kecerdasan kurang.
2)
Kurang minat, kebimbangan, kurang
usaha, aktivitas yang tidak terarah, kurang semangat, kurang menguasai keterampilan,
dan kebisaaan fundamental dalam belajar.
c.
Kelemahan emosional, antara lain:
1)
Rasa tidak aman.
2)
Penyesuaian yang salah.
3)
Phobia.
4)
Ketidakmatangan.
d.
Kelemahan yang disebabkan
kebisaaan-kebisaaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain:
1)
Tidak menentu dan kurang minat
terhadap pekerjaan-pekerjaan sekolah.
2)
Banyak melakukan aktivitas yang
bertentangan dan tidak menunjang pelaaran sekolah, menolak, atau malas belajar.
3)
Kurang berani dan gagal untuk
berusaha memusatkan perhatian.
4)
Kurang kooperatif dan menghindari
tanggung jawab.
5)
Tak bernafsu untuk belajar.
6)
Sering tidak mengikuti pelajaran.
7)
Nervous.
e.
Tidak memiliki
keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan, seperti:
1)
Ketidakmampuan membaca, menghitung,
kurang menguasai pengetahuan dasar untuk suatu bidang studi yang sedang
didikuti, kurang menguasai bahasa.
2)
Memiliki kebisaaan belajar dan cara
bekerja yang salah.
2. Faktor-faktor yang terletak di luar
diri siswa, antara lain:
a.
Kurikulum yang seragam, bahan dan
buku yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan-perbedaan
individu.
b.
Ketidaksesuaian standar
administrative, penialaian, pengelolaan kegiatan, pengalaman belajar-mengajar,
dan sebagainya.
c.
Terlalu berat beban belajar siswa
dan atau emngajar guru.
d.
Terlalu besar populasi siswa dalam
kelas.
e.
Terlalu sering pindah sekolah atau
program, tinggal kelas, dan sebagainya.
f.
Kelemahan dari system
belajar-mengajar pada tingkat pendidikan sebelumnya.
g.
Kelemahan yang terdapat dalam
kondisi rumah tangga.
h.
Terlalu banyak kegiatan di luar jam
pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakulikuler.
i.
Kekurangan gizi.
Setelah melaksanakan diagnostik
kesulitan belajar, hendaknya: (1) menarik suatu kesimpulan umum meskipun hanya
secara tentative, (2) membuat perkiraan apakah masalah itu mungkin untuk
diatasi, selanjutnya (3) memberikan saran tentang kemungkinan cara
mengatasinya.
(Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, 2007)
IV.
TAHAP REMEDIAL
TEACHING
Pengajaran remedial dapat
didefinisikan sebagai upaya guru (dengan atau tanpa bantuan/kerja sama dengan ahli/pihak
lain) untuk menciptakan suatu situasi (kembali/baru/berbeda dari yang bisaa)
yang memungkinkan individu atau kelompok siswa (dengan karakteristik) tertentu
lebih mampu mengembangkan dirinya (meningkatkan prestasi, penyesuaian kembali)
seoptimal mungkin sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang
diharapkan, dengan melalui suatu proses interaksi yang terrencana,
terorganisasi, terarah, terkoordinasi, dan terkontrol dengan lebih memerhatikan
taraf kesesuaiannya terhadap keragaman kondisi objektif individu dan atau
kelompok siswa yang bersangkutan serta daya dukung sarana dan lingkungannya.
Prosedur pelaksanaan pengajaran
remedial diantaranya:
1. Penelaahan kembali kasus dengan
permasalahannya.
Sasaran pokok:
a. Memperoleh gambaran yang lebih
definitive mengenai karakteristik kasus berikut permasalahannya.
b. Memperoleh gambaran yang lebih
definitive mengenai fasibilitas alternative tindakan remedial yang
direkomendasikan.
2. Menentukan alternative pilihan
tindakan.
3. Layanan bimbingan dan konseling/
psikoterapi. (Jika diperlukan)
4. Melaksanakan pengajaran remedial.
5. Mengadakan pengukuran prestasi
belajar kembali.
6. Mengadakan re-evaluasi dan
re-diagnostik.
7. Remedial pengayaan dan atau
pengukuran (tambahan).
(Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, 2007)
INILAH DAFTAR PUSTAKA YANG MENJADI RUJUKAN
Wojowasito
Purwadarminta, Kamus Lengkap Inggris Idonesia, Bandung: Hasta,1982).
Natawijaya, Pengajaran
Remedial, (Jakarta :Depdikbud 1983).
Nafsiah
Ibrahim dan Partino, Pengantar Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran
Remedial, Jayapura: FKIP Universitas Cenderawas, 1983).
M. Entang,
Diagnosa Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial (Jakarta : Remaja
Rosdakarya, 1981).
SEMOGA MEMBANTU KALIAN YA, SEMANGAT....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar