Happy Cat Kaoani /* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

Kamis, 02 November 2017

SPAI



A.    Kajian Teori

1.      Pengertian Majlis Ta’lim

Menurut Munawir yang dikutip oleh Hasbullah (1996 : 95) menjelaskan mengenai pengertian dari Majlis Taklim, yaitu “Majelis adalah tempat duduk atau tempat sidang. Sedangkan Ta’lim diartikan dengan pengajaran”.
Dalam kamus bahasa Indonesia pengertian majlis adalah Lembaga (Organisasi) sebagai wadah pengajian dan kata Majlis dalam kalangan ulama’ adalah lembaga masyarakat nonpemerintah yang terdiri atas para ulama islam. Adapun arti Ta’lim adalah pengajaran. Maka menurut artu dan pengertian diatas maka secara istilah Majlis Ta’lim adalah Lembaga Pendidikan Non Formal Islam yang memiliki kurikulum sendiri atau aturan sendiri yang diselenggarakan secara berkala dan teratur dan diikuti oleh jama’ah yang relatif banyak dan bertujuan untuk membina dan mengembangkan hubungan yang santun dan serasi antara manusia dan Allah, manusia dan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya, dalam rangka membina masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Menurut istilah (terminologi) para ahli pengertian Majelis Ta’lim sebagaimana menurut Saefudin (1996 : 45-46) Majelis Ta’lim adalah:
Tempat atau wadah umat untuk melaksanakan proses belajar mengajar tentang iman, Islam dan ihsan, tentang aqidah, syari’ah dan akhlak. Tentang tauhid, fikih dan tasawuf, tentang surga dan neraka, pahala dan dosa, tentang ekonomi, zakat, infak, sadaqah dan lain sebagainya.

Lain halnya dengan Arifin (1991 : 202) yang menulis bahwa pengertian majelis ta’lim dalam strategi pembinaan umat, maka pengertian Majelis Ta’lim merupakan “Wadah / wahana dakwah Islamiah yang murni Instruksional keagamaan Islam”.
Hasil Musyawarah Majelis Ta’lim se-DKI Jakarta tahun 1980, merumuskan pengertian majelis ta’lim sebagai berikut Majelis Ta’lim adalah
Lembaga pendidikan non formal yang memiliki kurikulum tersendiri diselenggarakan secara berkala dan teratur diikuti oleh jamaah yang relatif banyak, yang bertujuan untuk membina, mengembangkan hubungan yang santun dan serasi antara manusia dengan sesamanya, dan

 antara manusia dengan lingkungannya, dalam rangka membina masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. (Hasbullah, 1996 : 202).

Dari beberapa pengertian majelis ta’lim yang telah dikemukakan di atas, selanjutnya dapat diberikan kesimpulan pengertian Majelis Ta’lim adalah secara umum Majelis Ta’lim dapat diartikan sebagai sebuah lembaga pendidikan non formal, tempat berkumpul sekelompok orang / individu untuk membicarakan masalah yang menyangkut kepentingan kelompok tersebut dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan secara khusus Majelis Ta’lim berarti suatu tempat / wadah untuk berkumpul dan melaksanakan pengajian yang membahas materi ke-Islaman secara menyeluruh. Majlis Ta’lim pun harus mengahdirkan orang yang paham mengenai agama Islam (ulama). Ulama adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang lurus dan pemahaman yang mendalam, Allah Ta'ala berfirman:
وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاَّ الْعَالِمُونَ
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (Al-'Ankabuut:43)
Dari pengertian di atas tentunya Majlis Ta’lim mempunyai perbedaan  dengan lembaga lembaga lainnya, tentunya sebagai lembaga nonformal memiliki ciri-ciri sebagai berikut  :
1.         Sebagai lembaga non formal maka kegiatannya dilaksanakan dilembaga-lembaga khusus masjid, mushola, atau rumah-rumah anggota bahkan sampai ke hotel-hotel.
2.         Tidak ada aturan kelembagaan yang ketat sehingga sifatnya suka rela. Tidak ada kurikulum, yang materinya adalah segala aspek ajaran agama.
3.         Bertujuan mengkaji , mendalami dan mengamalkan ajaran Islam disamping berusaha menyebarluaskan.
4.         Antara ustadz pemberi materi dengan jamaah sebagai penerima materi berkomonikasi secara langsung.
Berarti Majlis Ta’lim adalah wadah pembentuk jiwa dan kepribadian yang agamis yang berfungsi sebagai stabilisator dalam seluruh gerak aktivitas kehidupan umat Islam Indonesia, maka sudah selayaknya kegiatan-kegiatan yang bernuansa Islami mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat, sehingga tercipta insan-insan yang memiliki keseimbangan antara potensi intelektual dan  mental spiritual dalam upaya menghadapi perubahan zaman yang semakin global dan maju.

2.      Fungsi Majlis Ta’lim

Setelah mengetahui pengertian secara gamblang diatas maka kita pun harus melihat dari pedoman baik al-qur’an atau hadist yang menerangkan mengenai Majlis Ta’lim. Ada sebuah hadist riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa :
“… Dan tidaklah orang-orang berkumpul pada salah satu dari rumah-rumah Allah Ta’ala (masjid-masjid) sedang mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka,  melainkan akan turun ketenangan kepada mereka serta diliputi oleh Rahmat dan mereka akan dikelilingi oleh para Malaikat…”. (HR. Muslim)

Sungguh betapa pentingnya untuk membaca, belajar dan mengamalkan sebuah ilmu mengenai sebuah ajaran islam kepada sesama umat. Dan islam memberikan wadah tersebut yang bernama Majlis Ta’lim.
Majlis Ta’lim memiliki berbagai manfaat yang diberikan baik itu bersifat sosial yaitu bertemu dengan individu lainnya ataupula dalam hal batiniah, yaitu diberi ketenangan batin. Sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi saw., beliau bersabda:
Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari Majelis-Majelis Zikir. Apabila mereka mendapati satu Majelis Zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit.

            Betapa hebat dan indahnya sebuah kegiatan yang memang benar dijalani dengan niat dan dengan tata cara yang diperintahkan islam. Orang-orang yang

 hadir di majelis dzikir adalah suatu kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka. Bahkan terkadang seorang pendosa yang duduk bersama mereka dirahmati karenanya. Terkadang di antara yang hadir ada yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ahlul majelis seluruhnya beroleh anugerah. Dalam sebuah sabda tertulis bahwa Majelis dzikir adalah Taman-Taman Surga sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا. قَالُوْا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: مَجْلِسُ الذِّكْرِ
“Apabila kalian melewati Taman-Taman Surga maka singgahlah.”
Para sahabat bertanya, “Apa taman-taman surga itu?”
“Majelis dzikir”, jawab beliau.

(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma. Dalam sanadnya ada rawi yang dhaif, namun hadits ini ada syahidnya, diriwayatkan oleh Al-Hakim dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’. Lihat Adh-Dha’ifah no. 1150 dan Ash-Shahihah no. 2562).
Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan menghadiri Majelis Dzikir/Ta’lim. Demikian tingginya nilai ta’lim sehingga dikatakan oleh Rasulullah SAW nilainya lebih baik dari shalat sunat 100 raka’at. Seperti yang dijelaskan oleh hadist berikut :
Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Abu Dzar. Hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari satu ayat dari kitab Allah, lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Dan hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan, adalah lebih baik daripada kamu shalat 1.000 rakaat.
(HR. Ibnu Majah dengan Sanad Hasan)
           
            Adapun fungsi yang dimiliki oleh sebuah kegiatan Majlis Ta’lim ini adalah, sebagai berikut :
1.      Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.
2.      Sebagai taman rekreasi rohaniyah karena penyelenggaraannya bersifat santai (tapi serius).
3.      Sebagai ajang berlangsungnya silaturaahim masa yang dapat menghidupsuburkan dakwah dan ukhwah islamiyah
4.      Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama dan umara dengan umat.
5.      Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya.           
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, seorang ulama salaf mengatakan dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, sebagai berikut :
Orang yang duduk menghadiri Majelis Ta’lim, sekalipun tidak dapat mengingat ilmu yang disampaikan, akan meperoleh tujuh kemuliaan:
·         Kemuliaan orang yang menuntut ilmu
·         Mengekang kelakuan dosa selama duduk dalam majelis
·         Ketika berangkat menuju majelisnya dilimpahi rahmat Allah
·         Akan ikut memperoleh rahmat yang dilimpahkan Allah kepada majelis
·         Dituliskan sebagai amal kebajikan sepanjang memperhatikan apa yang dibicarakan
·         Diliputi para malaikat dengan sayapnya
·         Setiap langkah ditulis sebagai kebaikan dan sebagai penebus dosa.
Kemuliaan tersebut adalah bagi mereka yang tidak mampu mengingat pokok bahasan. Bagaimana dengan orang yang bisa mengingatnya dan mengambil pelajaran darinya? Tentu akan semakin lebih besar kemuliaan yang diperoleh seperti yang dikatakan oleh Umar bin Khatab ra :
Terkadang orang keluar rumah dengan menanggung dosa sebesar gunung Thihamah. Tetapi ketika ia mendengarkan ilmu yang dibahas di Majelis Ta’lim, dia merasa takut dan bertaubat. Maka ketika pulang dia menjadi bersih dari segala dosa. Oleh karena itu dekatilah Majelis Ta’lim, karena tiada majelis yang lebih mulia dari Majelis Ta’lim.

3.      Peranan Majlis Ta’lim

Majlis Ta’lim merupakan lembaga pendidikan masyarakat yang tumbuh dan berkembang dari kalangan masyarakat Islam itu sendiri yang kepentingannya untuk kemaslahatan umat manusia.


Pertumbuhan Majlis Ta’lim dikalangan masyarakat menunjukkan kebutuhan dan hasrat anggota masyarakat tersebut akan pendidikan agama. Pada kebutuhan dan hasra masyarakat yang lebih luas yakni sebagai usaha  memecahkan masalah – masalah menuju kehidupan yang lebih bahagia. Meningkatkan tuntutan jamaah dan peranan pendidikan yang bersifat nonformal,  menimbulkan pula kesadarana dari dan inisiatif dari para ulama beserta anggota masyarakat untuk memperbaiki , meningkatkan  dan mengembangkan kwalitas dan kemampuan , sehingga eksistensi dan peranan serta fungsi majlis ta’lim benar benar berjalan dengan baik.
Disamping peranan Majlis Ta’lim terdapat pada fungsi di atas , namun disini H.M. Arifin mengatakan bahwa “ Peranan secara fungsional majelis taílim adalah mengokohkan landasan hidup  manusia  muslim  Indonesia  pada  khususnya di  bidang  mental  spiritual keagamaan  Islam  dalam  upaya  meningkatkan  kualitas  hidupnya  secara  integral, lahiriah  dan  batiniahnya,  duniawi  dan  ukhrawiah persamaan  (simultan),  sesuai tuntunan  ajaran  agama  Islam  yaitu  iman  dan  taqwa  yang  melandasi  kehidupan duniawi  dalam  segala  bidang  kegiatannya.  Fungsi  demikian  sejalan  dengan pembangunan nasional kita”.

4.       Materi Yang Disampaikan Dalam Majlis Ta’lim

Menurut  pedoman  Majlis  Ta’lim  materi  yang  disampaikan  dalam majlis ta’lim adalah :
a.       Kelompok Pengetahuan Agama
Bidang pengajaran kelompok  ini meliputi  tauhid,  tafsir, Fiqih, hadits, akhlak, tarikh, dan bahasa Arab.
b.      Kelompok Pengetahuan Umum 
Karena  banyaknya  pengetahuan  umum, maka  tema-tema  atau maudlu’  yang    disampaikan  adalah  yang  langsung  berkaitan  dengan  kehidupan masyarakat. Kesemuanya  itu  dikaitkan  dengan  agama,  artinya  dalam  menyampaikan uraian-uraian tersebut berdasarkan dalil-dalil agama baik berupa ayat-ayat Al-Qur’an

dan  hadits-hadits  atau  contoh-contoh  dari  kehidupan  Rasulullah SAW.
Sebagaimana diungkapkan pada ciri-ciri Majlis Ta’lim di atas , maka majlis ta’lim dengan perkembangannya tentunya juga adanya perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman saat ini. Misalnya di Jakarta Majlis Ta’lim sudah diorganisir secara lebih baik, sehingga tujuan, arah kegiatan sampai pada model pendekatannya dalam pengajarannya dan bahkan sampai pada rumusan materi pendidikannya sudah dirumuskan.
            Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat maka pola pengembangan da’wah majelis ta’lim tidak cukup hanya berorientasi kepada tema – tema da’wah yang sifatnya menghibur dan menentramkan , tetapi juga bersifat memperluas dan meningkatkan yaitu meningkatkan wawasan dan kwalitas keilmuan.

5.      Pendekatan Yang Dilakukan Dalam Majlis Ta’lim

Dalam usaha pembinaan masyarakat khususnya dalam bidang keagamaan, ada beberapa pendekatan yang dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan dan fungsi majlis ta’lim, baik itu dalam menentramkan rohaniahnya maupun memperluas dan meningkatkan wawasan dan pengetahuannya. Adapun pendekatan – pendekatan yang dilakukan dalam majlis ta’lim diantaranya adalah :
1.      Permasyarakatan doktrin ( ajaran ) Jihad.
Yaitu semangat untuk mencapai prestasi yang bersifat horisontal. Dalam hal ini majlis ta’lim mengarahkan jama’ahnya untuk memahami tugas dan tanggung jawab sebagai makhluk sosial.
2.      Permasyarakatan doktrin Ijtihad.
Yaitu menumbuhkan semangat perjuangan dalam tataran intelektual. Dalam hal ini da’wah dalam majlis ta’lim mampu mempertajam intelektual jamaahnya melalui sikap bersedia mendengarkan perkataan, pengumpulan informasi untuk memperoleh bukti serta data yang akurat, selanjutnya memilih , memutuskan dan mengikuti yang terbaik.
3.      Permasyarakatan doktrin Mujahadah.
Yaitu usaha terus menerus untuk mencapai kebenaran atau kedekatan diri kepada Tuhan ( Taqorrabanilallah ), melalui tindakan-tindakan atau perbaikan amaliyah ubudiyah. Hal ini dilakukan spritual religius  yang berorientasi untuk memperlembut hati nurani dan memperluas kepekaan ruhaniah. Dalam majlis ta’lim memberikan bimbingan – bimbingan praktis terhadap jamaahnya dalam bentuk peribadatan vertikal ( hablum minaallah ) seperti sholat, dzikir , do’a - do’a, wirid dan peribadatan lainnya yang mengarah pada kesadaran atau kehadirat Allah dalam kehidupan.
            Melihat bentuk – bentuk pendekatan tersebut tentunya majlis ta’lim sangatlah perlu dan  dibutuhkan masyarakatan. Dan tentunya dalam hal ini bukan hanya tugas majelis ta’lim tapi juga tugas masyarakat.
Ilmu adalah hal yang sangat harus dimiliki oleh setiap manusia di bumi ini. Sebagaimana Allah beritakan tentang sebuah kaum yang Allah beri ilmu namun ilmu itu tidak memberi mereka manfaat. Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruklah kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim”. (QS. Al Jumuah: 5).
Ayat-ayat Al-Qur`an yang Menjelaskan Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukan Ulama Allah Ta'ala berfirman menerangkan keutamaan ulama dan apa-apa yang mereka miliki dari kedudukan dan ketinggian:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الأَلْبَابِ
"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az- Zumar: 9).

Sistem Manajemen Mutu



Pada awalnya manusia hanya penyedia barang saja yang hanya menerima pesanan dari setiap langganan yang datang. Hingga suatu hari permintaan menjadi lebih banyak dan harus memikirkan penambahan tenaga marketing, tenaga pengiriman, sopir dan tambahan lainnya.
Zaman semakin berkembang. Berbagai industri penyedia barang dan jasa mulai banyak bermunculan hingga pada ahirnya pelanggan mencari dan mulai memilah barang-barang yang mereka inginkan. Hingga para pengusaha pun banyak membuat berbagai standar yang diinginkan konsumennya. Hal inilah yang mendasari perusahaan untuk menerapkan standar sistem manajemen mutu,
Tujuan utama sistem ini adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan cara memproduksi barang sesuai dengan standar yang diterapkan.
1.      Standar : kesepakatan yang berisi spesifikasi atau kriteria lain dan digunakan sebagai aturan, penuntun atau definisi dari karakteristik. Fungsinya untuk memastikan barang, produk, proses dan jasa sesuai dengan tujuannya.
2.      Sistem manajemen mutu : aktivitas terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi dalam mencapai sasaran yang diharapkan berkenaan dengan mutu.
3.      ISO (Internasional Organization for Standarization) : suatu badan standar interasional yang bergerak di bidang standarisasi. Organisasi ini dibentuk oleh badan-badan standar nasional dari 156 negara.
4.      ISO 9001 : standar internasional yang diakui untuk sertifikasi sistem manajemen mutu.  Tujuannya, menciptakan konsistensi untuk mencapai kepuasan pelanggan.

Telaah Kurikulum dan Perencanaan Pembelajaran Manajemen Perkantoran



A.    Pengembangan Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan yang mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara-cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, yang mana didalamnya mencakup beberapa hal diantaranya adalah: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
       Penerapan kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang. Seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.  
            Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
            Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembangan kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi. Selain harus memperhatikan unsur-unsur diatas, di dalam mengembangkan sebuah kurikulum juga harus menganut beberapa prinsip dan melakukan pendekatan terlebih dahulu, sehingga di dalam penerapannya sebuah kurikulum dapat mencapai sebuah tujuan seperti yang di harapkan dan mengenai prinsip-prinsip dan pendekatan itu akan kami jelaskan selengkapnya dalam pembahasan.
B.     Asas & Prinsip Pengembangan Kurikulum
1.      Asas Psikologis, Hal-hal yang mengacu pada aspek psikologi :
– tahap perkembangan
– kebutuhan psikologis
2.      Asas Sosiologis, Mengacu pada gejala sosial
– hubungan individu dengan individu, golongan, dan masyarakat
3. Asas Filosofis: Mengarah pada falsafah bangsa & pendidikan yang dianut
4.  Asas Teknologi/Organisatoris: Mengacu pada perkembangan & kebutuhan masyarakat
PRINSIP-PRINSIP UMUM PENGEMBANGAN KURIKULUM
1.      RELEVANSI :
a.       Relevansi ke luar : komponen-komponen kurikulum sesuai dengan tuntutan, kebutuhan, perkembangan masyarakat
b.      Relevansi ke dalam : konsistensi antar komponen-komponen kurikulum à keterpaduan internal
2.      FLEKSIBILITAS : Kurikulum solid tetapi pada pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian
3.      KONTINUITAS : Adanya kesinambungan sebab proses belajar siswa berlangsung secara berkesinambungan
4.      PRAKTIS : Biasa disebut efisien, dengan biaya yang murah dapat dilaksanakan dengan mudah
5.      EFEKTIVITAS : Keberhasilan yang tinggi baik dari segi kuantitas maupun kualitas
Karakteristik kurikulum :
1. kurikulum menekankan isi/materi ajaran
2. isi kurikulum berasal dari disiplin ilmu (solid-sistematis)
3. peranan guru sangat dominan
4. penyajian : ekspositori & inkuiri
Sumber : Pendidikan Klasik (filsafat perenialisme, esensialisme)

 

KURIKULUM SUBJEK AKADEMIS
1. orientasi masa lalu
2. asumsi : ilmu, nilai, budaya telah solid
3. tugas pendidikan memelihara & mewariskan ilmu, nilai budaya
4. guru adalah ekspert & model
PENDEKATAN DALAM PERKEMBANGAN KURIKULUM SUBJEK AKADEMIS
1.Pendekatan berdasarkan struktur pengetahuan
2.Pendekatan bersifat integratif (integrated curriculum)
–Thema yang membentuk kesatuan (unifying theme)
–Menyatukan beberapa disiplin ilmu (contoh social studies)
–Menyatukan berbagai metode belajar
3.Pendekatan fundamen (Az-Zikro, 2013)talis
–Mata pelajaran membaca menulis berhitung
–Mata pelajaran lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis
KURIKULUM HUMANISTIK
Sumber : Pendidikan Pribadi (filsafat eksistensialisme)
1.orientasi ke masa sekarang
2.asumsi : anak punya potensi
3.pendidikan ibarat bertani
4.guru adalah psikolog, bidan, motivator, fasilitator
Karakteristik kurikulum :
1.siswa adalah subjek, punya peran utama
2.isi/bahan sesuai minat/kebutuhan siswa
3.menekankan keutuhan pribadi
4.penyampaian : discovery, inquiry, penekanan masalah
MODEL KONSEP KURIKULUM
KURIKULUM KONFLUEN
Menekankan keutuhan pribadi, individu merespon secara utuh (pikiran, perasaan, tindakan)à dasarnya Gestalt
Ciri :
–Partisipasi
–Integrasi
–Relevansi
–Pribadi anak
–Tujuan : mengembangkan pribadi yang utuh
Metode belajar konfluen :
–Mengidentifikasi topik/tema yang mengandung self-judgment
–Materi disampaikan dalam bentuk open-ended
KURIKULUM TEKNOLOGIS
Sumber : Pendidikan Teknologis (filsafat realisme)
1.orientasi ke masa sekarang dan y.a.d
2.menekankan kompetensi
3.kompetensi diuraikan menjadi perilaku yang dapat diamati
4.peranan guru tidak dominan (dapat diganti alat-alat teknologi)
5.pendidikan bersifat ilmiah (science, experimental, terukur0
6.pendidikan – sistem
Karakteristik kurikulum :
1.tujuan dirinci menjadi objektif
2.menekankan isi (uraian kompetensi)
3.disain pengajar disusun sistemik (menggunakan analisis approach)
4.isi disajikan dalam media tulis & elektronik
5.evaluasi menggunakan tes objektif
KURIKULUM REKONSTRUKSI SOSIAL
Sumber : Pendidikan Interaksional (filsafat pragmatisme)
1.orientasi ke masa lalu dan sekarang
2.asumsi : manusia mahluk sosial
3.menekankan pemecahan problema masyarakat
4.tujuan pendidikan pembentukan masyarakat lebih baik
5.pendidikan adalah kerjasama : interaksi guru-siswa-siswa
Karakteristik kurikulum :
1.tujuan pemecahan masalah masyarakat
2.isi kurikulum ; problema dalam masyarakat
3.metode mengajar kooperatif / gotong royong / kerja kelompok
4.guru & siswa belajar bersama

C.    Landasan Pengembangan Kurikulum
1.      Landasan Filosofi : suatu pandangan hidup yang ada padasetiap orang. Dengan kata lain bahwa setiap orang mempunyai filsafatdalam arti pandangan hidup pada dirinya.
2.      Landasan Psikologi : Terdapat dua landasan psikologi yang digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu psikologi belajar (psychology of learning) dan psikologi perkembangan. Psikologi belajar digunakan sebagai landasan dalam men-screen tujuan pembelajaran umum/standar kompetensi/SK (tentative general objective) yang sudah dirumuskan untuk merumuskan precise education (kompetensi dasar/KD), dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar yang akan dirumuskan dalam kurikulum. Sedangkan psikologi perkembangan lebih berperan dalam pengorganisasian pengalaman-pengalaman belajar, yaitu pada tingkat pendidikan mana atau pada kelas berapa suatu pengalaman belajar tertentu harus diberikan karena harus sesuai dengan perkembangan jiwaanak. Pada dasarnya dua landasan psikologi tersebut sangat diperlukandalam pengembangan kurikulum yaitu pada langkah merumuskan tujuan pembelajaran, menyeleksi serta mengorganisasi pengalaman belajar.
3.      Landasan Sosiologi : Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusiadalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.
4.      Landasan Ipteks : aplikasi dari ilmu pengetahuan untuk memecahkan  masalah-masalah praktis. Seni merupakan hal yang penting yang dapat memperhalus budi pekerti.
Pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan kurikulum meliputi: (1) Pengambil keputusan yang terkaitdengan penetapan kurikulum, (2) Ahli kurikulum, (3) Ahli disiplin keilmuan, (4)Ahli psikologi, dan (5) Pengajar.

Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu.
1.      Komponen Tujuan.
Tujuan pendidikan memiliki klasifikasi berjenjang, tujuan pendidikan nasional,  tujuan institusional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional. Menurut Bloom,  ada tujuan afektif, kognitif dan psikomotor.
2.      Komponen Isi / Materi Pelajaran 
Isi kurikulum berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki mahasiswa.  Isi kurikulum menyangkut aspek pengetahuan atau materi pelajaran, maupun kegiatan mahasiswa.
3.      Komponen Metode / Strategi 
Komponen ini berhubungan dengan implementasi kurikulum dan cara penyampaian  materi. Mengingat kemampuan mahasiswa yang beragam, dosen dituntut dapat menyampaikan materi dengan metode yang berfariasi.
4.      Komponen Evaluasi
Melalui evaluasi dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum,      apakah suatu kurikulum dapat dipertahankan atau tidak.  Dengan evaluasi dapat ditentukan pula apakah tujuan yang direncanakan  sudah tercapai atau belum

Poblematika Kurikulum
1. Permasalahan yang terjadi pada perubahan kurikulum.
Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975-1984 Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik, Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. Kurikulum 1994 kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:
ü Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran
ü Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
2. Solusi dalam Perubahan Kurikulum.
Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:
ü Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
ü Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
ü Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
ü Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
ü Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.


Daftar Pustaka

Amin, J. (2013). prinsip prinsip pengembangan kurikulum. Dipetik October 5, 2015, dari prinsip prinsip pengembangan kurikulum: http://jumajuma27.blogspot.co.id/2013/02/prinsip-prinsip-pengembangan-kurikulum.html
Asmoni S., P. (2009). menganalisis perkembangan kurikulum. Dipetik October 5, 2015, dari menganalisis perkembangan kurikulum: http://asmoni-best.blogspot.co.id/2009/04/menganalisis-perkembangan-kurikulum-s-m.html
Az-Zikro. (2013, November 17). asas prinsip pengembangan kurikulum. Dipetik October 5, 2015, dari asas prinsip pengembangan kurikulum: https://paudazzikro.wordpress.com/2013/11/17/asas-prinsip-pengembangan-kurikulum/
Tarmizi, A. (2012, October 22). Prinsip Pengembangan Kurikulum. Dipetik October 5, 2015, dari Makalah Prinsip Pengembangan Kurikulum: http://aadesti.blogspot.co.id/2012/10/makalah-prinsip-pengembangan-kurikulum.html
Dea (2011), Prinsip – Prinsip Pengembangan Kurikulum. (Online) tersedia: http://dheekape.blogspot.com/2011/11. Diakses 22 Oktober 2012.
Komaruddin, Yooke dan Kurniawan, Deni, (2011), “Prinsip – Prinsip pengembangan Kurikulum “ dalam Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta : Tim Pengembang MKDP FIP UPI, Rajawali Pers.
Sukmadinata, Nana S. (2012). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

MY INSTAGRAM @TARIPUTRAM
Semoga Bermanfaat Ya, Tulisan Dalam Blog Ini
HALLO FRIEND, THIS IS MY ROOM