Model – Model Pembelajaran....
Sebelum saya
membahas 5 Model Pembelajaran, kita harus tau terlebih dahulu apa yang dimaksud
dengan Model Pembelajaran.
Model pembelajaran
adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan
secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus
atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Untuk menentukan model pembelajaran yang akan
dilaksanakan dapat mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
- Kesesuaian model pembelajaran dengan kompetensi sikap pada KI-1 dan KI-2 serta kompetensi pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan KD-3 dan/atau KD-4.
- Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-1 (jika ada) dan KD-2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-3 dan KD-4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan.
- Penggunaan pendekatan saintifik yang mengembangkan pengalaman belajar peserta didik melalui kegiatan mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba/mengumpulkan informasi (experimenting/ collecting information), mengasosiasi/menalar (assosiating), dan mengomunikasikan (communicating).
Pelajaran atau Mata Kuliah di Manajemen Perkantoran yang Produktif dalam
bidang tersebut adalah sebagai berikut. :
1.
Manajemen Perkantoran
2.
Korespondensi (Bahasa Indonesia/ Bahasa Inggris)
3.
Akuntansi
4.
Bisnis
5.
Kesekertarisan
6.
Pemasaran
7.
Ekonomi
8.
Mengetik
9.
Stenografi
10. Kearsipan
Saya akan bahas 5 model pembelajaran yang pas untuk mata pelajaran diatas
tersebut
1.
Metode belajar Cooperative script
Skrip kooperatif adalah metode
belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan
bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1.
Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2.
Guru membagikan wacana /
materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3.
Guru dan siswa menetapkan
siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai
pendengar.
4.
Pembicara membacakan
ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam
ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide
pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok
dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5.
Bertukar peran, semula sebagai
pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di
atas.
6.
Kesimpulan guru.
7.
Penutup.
Kelebihan:
·
Melatih pendengaran,
ketelitian / kecermatan.
·
Setiap siswa mendapat peran.
·
Melatih mengungkapkan kesalahan
orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
·
Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
·
Hanya dilakukan dua orang
(tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang
tersebut).
Model
Pembelajaran ini bisa digunakan ketika mengajar Kearsipan, Korespondensi dan
Kesekertarisan. Dimana Mata Kuliah tersebut harus adanya inovasi baru dalam
pembelajaran karena dengan adanya motivasi baru memungkinkan siswa-siswa yang
mengalami pembalajaran tersebut bisa meningkatkan motivasi dan semangat
belajar.
Kenapa
memilih model pembelajaran ini? Karena Kearsipan ada kegiatan mengarsipkan
disitu seorang guru bisa memberikan pembelajaran bermain peran dimana ada yang
menjadi seseorang yang ingin mengarsipkan surat berharganya dan ada yang
menjadi arsiparisnya. Sehingga siswa mengerti dan paham bagaimana menjadi
arsiparis yang baik ketika menghadapi masalah problema yang ada di kehidupan
nyata. Sama halnya dengan mata pelajaran Korespondensi dan Kesekretarisan.
2.
Model pembelajaran Kepala bernomor struktur
Untuk mengembangkan potensi to live together salah
satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran
kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan,
konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam
kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara
siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Slavin (Ibrahim,
2000:16) tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap hasil belajar pada
semua tingkat kelas dan semua bidang studi menunjukkan
bahwa kelas kooperatif menunjukkan hasil belajar akademik yang signifikan lebih
tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT (Numbered Heads Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variasi model pembelajaran sebelumnya. Dibentuk kelompok heterogen, setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa, setiap anggota memiliki satu nomor, guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama dalam kelompok. Guru menunjuk salah satu nomor untuk mewakili kelompoknya. Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam diskusi kelompok.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe NHT (Numbered Heads Together). Model ini dapat dijadikan alternatif variasi model pembelajaran sebelumnya. Dibentuk kelompok heterogen, setiap kelompok beranggotakan 3-5 siswa, setiap anggota memiliki satu nomor, guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama dalam kelompok. Guru menunjuk salah satu nomor untuk mewakili kelompoknya. Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam diskusi kelompok.
Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran
yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan
melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di
depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk
(1993). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural,
yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi
pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling
bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Struktur tersebut
dikembangkan sebagai bahan alternatif dari sruktur kelas tradisional seperti
mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk
menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini menimbulkan
kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam mendapatkan
kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008). Menurut Kagan
(2007) model pembelajaran NHT ini secara tidak langsung melatih siswa untuk
saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan
penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran.
·
Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif (Dalam model
Pembelajaran Kepala bernomor struktur)
1)
Penomoran
Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT, dalam
tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang
beranggotakan tiga sampai lima orang dan memberi siswa nomor sehingga setiap
siswa dalam tim mempunyai nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di
dalam kelompok.
2)
Pengajuan Pertanyaan
Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru
mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil
dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat
pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum
dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.
3)
Berpikir
Bersama
Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru,
siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada
anggota dalam timnya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari
masing-masing pertanyaan.
4)
Pemberian Jawaban
Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor
dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan
menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih
kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang
nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri
untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban
tersebut.
·
Langkah – langkah Kepala bernomor struktur
1. Siswa dibagi
dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2. Penugasan
diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai
Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan
soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya
3. Jika perlu,
guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari
kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok
lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu
atau mencocokkan hasil kerja sama mereka
4. Laporkan hasil
dan tanggapan dari kelompok yang lain
5. Kesimpulan
·
Kelebihan dan kekurangan
1.
Kelebihan
a.
Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b.
Mampu memperdalam pamahaman siswa.
c.
Melatih tanggung jawab siswa.
d.
Menyenangkan siswa dalam belajar.
e.
Mengembangkan rasa ingin tahu siswa.
f.
Meningkatkan rasa percaya diri siwa.
g.
Mengembangkan rasa saling memiliki dan kerjasama.
h.
Setiap siswa termotivasi untuk menguasai materi.
i.
Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan
tidak pintar.
j.
Tercipta suasana gembira dalam belajar. Dengan
demikian meskipun saat pelajaran menempati jam terakhir pun,siswa tetap
antusias belajar.
2.
Kelemahan
a.
Ada siswa yang takut diintimidasi bila Memberi nilai
jelek kepada anggotanya (bila kenyataannya siswa lain kurang mampu menguasai
materi)
b.
Ada siswa yang mengambil jalan pintas dengan meminta
tolong pada temannya untuk mencarikan jawabnya.Solusinya mengurangi poin pada
siswa yang membantu dan dibantu .
c.
Apabila pada satu nomer kurang maximal mengerjakan
tugasnya, tentu saja mempengaruhi pekerjaan pemilik tugas lain pada nomer
selanjutnya.
Menurut saya Model Pembelajaran ini bisa digunakan semua
mata pelajaran karena model pembelajran ini sebenarnya bisa membuat inovasi
yang membuat siswa tertantang untuk mempertahankan apa yang dia miliki dan bisa
membuat mereka senang dengan pelajaran tersebut. Tetapi saya lebih menekankan
kepada mata pelajaran Manajemen Perkantoran. Mata pelajaran ini lumayan banyak
sekali BAB nya, sangat membosankan pastinya jika kita melakukan pembelajaran
dengan metode ceramah terus, maka dihadirkanlah model pembelajaran bernomor
ini, sekalian membuat siswa melatih otak mereka dengan ingatan baik mereka.
Karena jika salah menjawab, maka membuat poin mereka menurun dan itu pasti juga
bisa melatih siswa tersebut untuk belajar tanggung jawab dengan apa yang mereka
lakukan dan membuat berfikir dengan baik sebelum memutuskan sesuatu.
3. METODE MAKE A MATCH
Pembelajaran terpusat pada guru sampai saat ini masih
menemukan beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat
berlangsungnya proses pembelajaran di kelas, interaksi aktif antara siswa
dengan guru atau siswa dengan siswa jarang terjadi. Siswa kurang terampil
menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep yang diajarkan. Siswa kurang
bisa bekerja dalam kelompok diskusi dan pemecahan masalah yang diberikan. Mereka
cenderung belajar sendiri-sendiri. Pengetahuan yang didapat bukan dibangun
sendiri secara bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri. Karena siswa
jarang menemukan jawaban atas permasalahan atau konsep yang dipelajari.
Ternyata suatu penelitian telah membuktikan setelah
dilakukan evaluasi terhadap hasil belajar siwa tenyata dengan pendekatan
seperti itu hasil belajar siswa dirasa belum maksimal. Hal ini tampak pada
pencapaian nilai akhir siswa.
Rendahnya pencapaian nilai akhir siswa ini, menjadi indikasi
bahwa pembelajaran yang dilakukan belum efektif. Nilai akhir dari evaluasi
belajar belum mencakup penampilan dan partisipasi siswa dalam pembelajaran,
hingga sulit untuk mengukur keterampilan siswa .
Untuk memperbaiki hal tersebut perlu disusun suatu
pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensip dan dapat mengaitkan
materi teori dengan kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya .Atas dasar
itulah mencoba dikembangkan pendekatan kooperatif dalam pembelajaran dengan
metode make a match.
Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah
homo homini socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial
(Lie, 2003:27). Sedangkan menurut Ibrahim (2000:2) model pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi
akademik dan hubungan sosial. Ciri khusus pembelajaran kooperatif mencakup lima
unsur yang harus diterapkan, yang meliputi; saling ketergantungan positif,
tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi
proses kelompok (Lie, 2003:30)
Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama
sekali baru bagi guru. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model
pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada
dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang
dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya,
suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran
kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk
menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa
dalam kelas, guru menerapkan metode pembelajaran make a match. Metode make a
match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat
diterapkan kepada siswa. Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa
disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas
waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
·
PRINSIP ATAU CIRI-CIRI
Teknik metode
pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran
(1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil
belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
1.
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa
konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan
bagian lainnya kartu jawaban.
2.
Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan
soal/jawaban.
3.
Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang
dipegang.
4.
Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan
kartunya.Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan bela negara akan berpasangan
dengan kartu yang bertuliskan soal “sikap dan perilaku warga negara yang
dijiwai oleh kecintaannya kepada negara dalam menjamin kelangsungan hidup
bangsa dan negara”.
5.
Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum
batas waktu diberi poin.
6.
Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan
kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan
mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7.
Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa
mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8.
Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa
lainnya yang memegang kartu yang cocok.
9.
Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan
terhadap materi pelajaran.
Pada penerapan metode make a match, diperoleh beberapa
temuan bahwa metode make a match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab
pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses
pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias
mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat
siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Hal ini merupakan suatu ciri
dari pembelajaran kooperatif seperti yang dikemukan oleh Lie (2002:30) bahwa,
“Pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang menitikberatkan pada gotong royong dan kerja sama kelompok.”
·
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Pembelajaran
kooperatif metode make a match memberikan manfaat bagi siswa, di antaranya
sebagai berikut:
1.
Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan
menyenangkan
2.
Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik
perhatian siswa
3.
Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf
ketuntasan belajar secara klasikal 87,50% .
4.
Suasana kegembiraan akan tumbuh dalam proses
pembelajaran (Let them move)
5.
Kerjasama antar sesama siswa terwujud dengan dinamis.
6.
Munculnya dinamika gotong royong yang merata di
seluruh siswa.
Tak ada gading yang tak retak , begitu pula pada
metode ini. Di samping manfaat yang dirasakan oleh siswa, pembelajaran kooperatif
metode make a match berdasarkan temuan di lapangan mempunyai sedikit kelemahan yaitu:
1.
Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan
kegiatan
2.
Waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa
terlalu banyak bermain-main dalam proses pembelajaran.
3.
Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.
4.
Pada kelas yang gemuk (<30 siswa/kelas) jika kurang
bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang
tidak terkendali. Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas
di kiri kanannya. Apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara. Tetapi hal ini
bisa diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen ketertiban dengan siswa
sebelum ‘pertunjukan’ dimulai. Pada dasarnya menendalikan kelas itu tergantung
bagaimana kita memotivasinya pada langkah pembukaan.
·
KESIMPULAN
Berdasarkan
pada kegiatan belajar mengajar penggunaan metode make a match, siswa nampak
lebih aktif mencari pasangan kartu antara jawaban dan soal. Dengan metode
pencarian kartu pasangan ini siswa dapat mengidentifikasi permasalahan yang
terdapat di dalam kartu yang ditemukannya dan menceritakannya dengan sederhana
dan jelas secara bersama-sama.
Pada penerapan
metode make a match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode make a match dapat
memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu
yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak
sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan
keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya
masing-masing.
Kegiatan yang
dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian sehingga pada
akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini
sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116), “Motivasi yang kuat erat
hubungannya dengan peningkatan keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan
strategi pembelajaran tertentu, dan motivasi belajar dapat ditujukan ke arah
kegiatan-kegiatan kreatif. Apabila motivasi yang dimiliki oleh siswa diberi berbagai
tantangan, akan tumbuh kegiatan kreatif.” Selanjutnya, penerapan metode make a
match dapat membangkitkan keingintahuan dan kerja sama di antara siswa serta
mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan
dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses
pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu: berpusat pada siswa;
mengembangkan keingintahunan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri, bekerja
sama, dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan; mengembangkan
beragam kemampuan dan pengalaman belajar; karakteristik mata pelajaran.
Model Pembelajaran ini bisa digunakan ketika mengajar
sesuatu yang banyak sekali pembahasan dan sampai berada di titik jenuh dengan
banyaknya Teori yang ada. Ini juga bisa dipakai mata pelajaran Manajemen
Perkantoran, Pemasaran dan Ekonomi. Walaupun ekonomi ada bagian yang
menghitung-hitungnya tetapi percuma saja ketika hafal rumus dan bisa
menggunakan rumus tersebut, tetapi kita tidak paham dengan teori yang ada.
Karena jurusan Manajemen Perkantoran masuk kepada pelajaran IPS maka mau tidak
mau jurusan tersebut menyerap mata pelajaran tersebut.
4. Model Pembelajaran Role
Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan
bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya
sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih
dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
·
Tujuan pembelajaran Role Playing
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk: (a) menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak; (b) melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan (c) melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
·
Langkah-langkah model pembelajaran role playing
Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan dan refleksi.
Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan dan refleksi.
·
Pengertian dan ciri-ciri pembelajaran Role Playing
Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang
didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill
Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di
luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan
menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, role Playing sering kali dimaksudkan
sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya
seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu,
2000).
Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek
pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan
menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.
Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid
(Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran PKn standar kompetensi
memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan
lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam
bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima
kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif
berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari
(Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa
adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian
sejenis yang telah dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing
adalah: Pertama, role playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana
murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan
sedang mereka pelajari. Kedua, role playing melibatkan jumlah murid yang cukup
banyak, cocok untuk kelas besar. Ketiga, role playing dapat memberikan kepada
murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan
bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke
dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 12)
·
Kelebihan dan kekurangan role playing
-
Kelebihan Metode Role Playing
1.
Kelebihan metode Role Playing melibatkan seluruh siswa
berpartisipasi, mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerja
sama. Siswa juga dapat belajar menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Selain
itu, kelebihan metode ini adalah, sebagai berikut:
1)
Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara
utuh.
2)
Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat
digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3)
Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui
pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4)
Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam
ingatan siswa. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk
dilupakan
5)
Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas
menjadi dinamis dan penuh antusias
6)
Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri
siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
7)
Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan
mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan
penghayatan siswa sendiri
8)
Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional
siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja.
2.
Kelemahan Metode Role Playing
Hakekatnya sebuah ilmu yang tercipca oleh manusia
tidak ada yang sempurna,semua ilmu ada kelebihan dan kekurangan.Jika kita
melihat metode Role Playing dalam dalam cakupan cara dalam prooses mengajar dan
belajar dalam lingkup pendidikan tentunya selain kelebihan terdapat kelemahan. Kelemahan
metode role palying antara lain:
1)
Metode bermain peranan memelrukan waktu yang relatif
panjang/banyak
2)
Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi
dari pihak guru maupun murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya
3)
Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa
malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu
4)
Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran
mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi
sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai
5)
Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui
metode ini
5.
MODEL PEMBELAJARAN COURSE REVIEW HORAY
Model
pembelajaran Course Review Horay merupakan model pembelajaran yang dapat
menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena setiap siswa
yang dapat menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak’hore!’ atau yel-yel
lainnya yang disukai.
Jadi, model
pembelajaran course review horay ini merupakan suatu model pembelajaran yang
dapat digunakan guru agar dapat tercipta suasana pembelajaran di dalam kelas
yang lebih menyenangkan. Sehingga para siswa merasa lebih tertarik. Karena
dalam model pembelajaran course review horay ini, apabila siswa dapat menjawab
pertanyaan secara benar maka siswa tersebut diwajibkan meneriakan kata “hore”
ataupun yel-yel yang disukai dan telah disepakati oleh kelompok maupun individu
siswa itu sendiri.
Model
pembelajaran course review horay juga merupakan suatu metode pembelajaran
dengan pengujian pemahaman siswa menggunakan soal dimana jawaban soal
dituliskan pada kartu atau kotak yang telah dilengkapi nomor dan untuk siswa
atau kelompok yang mendapatkan jawaban atau tanda dari jawaban yang benar
terlebih dahulu harus langsung berteriak “horay” atau menyanyikan yel-yel
kelompoknya.
Jadi, dalam
pelaksanaan model pembelajaran course review horay ini pengujian pemahaman
siswa dengan menggunakan kotak yang berisi nomor untuk menuliskan jawabannya.
Dan siswa yang lebih dulu mendapatkan tanda atau jawaban yang benar harus
langsung segera menyoraki kata-kata “horay” atau menyoraki yel-yelnya.
Agar pemahaman
konsep materi yang akan dibahas dapat dikaji secara terarah maka seiring dengan
perkembangan dunia pendidikan pembelajaran Corse Review Horay menjadi salah
satu alternative sebagai pembelajaran yang mengarah pada pemahaman konsep.
Pembelajaran Course Review Horay, merupakan salah satu pembelajaran kooperatif
yaitu kegiatan belajar mengajar dengan cara pengelompokkan siswa ke dalam
kelompok-kelompok kecil.
Pembelajaran
Course Review Horay yang dilaksanakan merupakan suatu pembelajaran dalam rangka
pengujian terhadap pemahaman konsep siswa menggunakan kotak yang diisi dengan
soal dan diberi nomor untuk menuliskan jawabannya. Siswa yang paling terdahulu
mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay atau yel-yel lainnya. Melalui
Pembelajaran Course Review Horay diharapkan dapat melatih siswa dalam
menyelesaikan masalah dengan pembentukkan kelompok kecil.
·
Langkah-Langkah Model
Pembelajaran Course Review Horay
1.
Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.
Guru menyajikan atau mendemonstrasikan materi sesuai
topik dengan tanya jawab
3.
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok.
4.
Untuk menguji pemahaman siswa disuruh membuat kartu
atau kotak sesuai dengan kebutuhan dan diisi dengan nomor yang ditentukan guru.
5.
Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan
jawabannya didalam kartu atau kotak yang nomornya disebutkan guru.
6.
Setelah pembacaan soal dan jawaban siswa telah ditulis
didalam kartu atau kotak, guru dan siswa mendiskusikan soal yang telah
diberikan tadi.
7.
Bagi yang benar,siswa memberi tanda check list ( √ )
dan langsung berteriak horay atau menyanyikan yel-yelnya.
8.
Nilai siswa dihitung dari jawaban yang benar dan yang
banyak berteriak horay .
9.
Guru memberikan rewardv pada yang memperoleh nilai
tinggi atau yang banyak memperoleh horay.
10.
Penutup
·
Kelebihan Model Pembelajaran
Corse Review Horay
a.
Pembelajarannya menarik dan mendorong siswa untuk
dapat terjun kedalamnya.
b.
Pembelajarannya tidak monoton karena diselingi sedikit
hiburan sehingga suasana tidak menegangkan.
c.
Siswa lebih semangat belajar karena suasana
pembelajaran berlangsung menyenangkan
d.
Melatih kerjasama
·
Kelemahan Model Pembelajaran
Course Review Horay
a.
Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan
b.
Adanya peluang untuk curang
Model Pembelajaran ini juga bisa digunakan di mata pelajaran Mengetik,
Bisnis, Akuntansi, Stenografi atau mata pelajaran lainnya. Model pembelajaran
ini bisa meningkatkan motivasi siswa terhadap pembelajaran. Apalagi (contoh)
mata pelajaran tersebut berada di jam siang dan itu pasti siswa sudah tidak ada
konsentrasi dalam belajar. Maka hadirkanlah model pembalajaran ini agar
membangkitkan semangat anak.
SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar