Metode Penelitian Kualitatif
Saya dapatkan dari Haryanto, S.Pd on May 28, 2012
Menurut Sukmadinata (2005) dasar penelitian kualitatif adalah
konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif
dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap
individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat
ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya
dengan situasi sosial mereka (Danim, 2002).
Penelitian kualitatif mengkaji
perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan
fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena
sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian penelitian kualitatif tersebut
adalah penelitian yang
digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan
instrumen kunci (Sugiyono, 2005).
Ada lima ciri pokok
karakteristik metode penelitian kualitatif yaitu:
1.
Menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data
Penelitian kualitatif menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu situasi sosial merupakan kajian
utama penelitian kualitatif. Peneliti pergi ke lokasi tersebut, memahami dan
mempelajari situasi. Studi dilakukan pada waktu interaksi berlangsung di tempat
kejadian. Peneliti mengamati, mencatat, bertanya, menggali sumber yang erat
hubungannya dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Hasil-hasil yang diperoleh
pada saat itu segera disusun saat itu pula. Apa yang diamati pada dasarnya
tidak lepas dari konteks lingkungan di mana tingkah laku berlangsung.
2.
Memiliki sifat deskriptif analitik
Penelitian
kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil
pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan
lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk
dan angka-angka. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya
informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data
aslinya (tidak ditransformasi dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa
pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian
naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan
mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Untuk itu peneliti dituntut
memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan
justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data.
3.
Tekanan pada proses bukan hasil
Tekanan penelitian kualitatif ada pada proses bukan
pada hasil. Data dan
informasi yang diperlukan berkenaan dengan pertanyaan apa, mengapa, dan
bagaimana untuk mengungkap proses bukan hasil suatu kegiatan. Apa yang
dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya memerlukan
pemaparan suatu proses mengenai fenomena tidak dapar dilakukan dengan ukuran
frekuensinya saja. Pertanyaan di atas menuntut gambaran nyata tentang kegiatan,
prosedur, alasan-alasan, dan interaksi yang terjadi dalam konteks lingkungan di
mana dan pada saat mana proses itu berlangsung. Proses alamiah dibiarkan
terjadi tanpa intervensi peneliti, sebab proses yang terkontrol tidak akan
menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Peneliti tidak perlu mentaransformasi
data menjadi angka untuk mengindari hilangnya informasi yang telah diperoleh.
Makna suatu proses dimunculkan konsep-konsepnya untuk membuat prinsip bahkan
teori sebagai suatu temuan atau hasil penelitian tersebut.
4.
Bersifat induktif
Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian
kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni
fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau
penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan
melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut. Kesimpulan
atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama
dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan
yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep,
prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori
yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling
berkaitan.
5.
Mengutamakan makna
Penelitian kualitatif mengutamakan makna. Makna yang
diungkap berkisar pada persepsi orang mengenai suatu peristiwa. Misalnya
penelitian tentang peran kepala sekolah dalam pembinaan guru, peneliti
memusatkan perhatian pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya.
Peneliti mencari informasi dari kepala sekolah dan pandangannya tentang
keberhasilan dan kegagalan membina guru. Apa yang dialami dalam membina guru,
mengapa guru gagal dibina, dan bagaimana hal itu terjadi. Sebagai bahan
pembanding peneliti mencari informasi dari guru agar dapat diperoleh
titik-titik temu dan pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan kepala
sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan (kepala sekolah dan guru) diungkap
oleh peneliti agar dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara sahih dan
tepat.
Berdasarkan ciri di atas dapat
disimpulkan bahwa penelitian kualitatif tidak dimulai dari teori yang
dipersiapkan sebelumnya, tapi dimulai dari lapangan berdasarkan lingkungan
alami. Data dan informasi lapangan ditarik maknanya dan konsepnya, melalui
pemaparan deskriptif analitik, tanpa harus menggunakan angka, sebab lebih
mengutamakan proses terjadinya suatu peristiwa dalam situasi yang alami.
Generalisasi tak perlu dilakukan sebab deskripsi dan interpretasi terjadi dalam
konteks dan situasi tertentu. Realitas yang kompleks dan selalu berubah
menuntut peneliti cukup lama berada di lapangan.
Sejalan dengan pendapat di atas, Bogdan dan Biklen
(1992) menjelaskan bahwa bahwa ciri-ciri metode penelitian kualitatif ada lima,
yaitu:
- Penelitian
kualitatif mempunyai setting yang alami sebagai sumber data langsung, dan
peneliti sebagai instrumen kunci.
- Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang deskriptif. Data yang dikumpulkan lebih
banyak kata-kata atau gambar-gambar daripada angka
- Penelitian
kualitatif lebih memperhatikan proses daripada produk. Hal ini disebabkan
oleh cara peneliti mengumpulkan dan memaknai data, setting atau hubungan
antar bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati
dalam proses.
- Peneliti
kualitatif mencoba menganalisis data secara induktif: Peneliti tidak
mencari data untuk membuktikan hipotesis yang.mereka susun sebelum mulai
penelitian, namun untuk menyusun abstraksi.
- Penelitian
kualitatif menitikberatkan pada makna bukan sekadar perilaku yang tampak.
Atas dasar penggunaanya, dapat dikemukakan bahwa tujuan penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan yaitu untuk:
- Mendeskripsikan
suatu proses kegiatan pendidikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan
sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukenali kekurangan dan
kelemahan pendidikan sehingga dapat ditentukan upaya penyempurnaannya.
- Menganalisis
dan menafsirkan suatu fakta, gejala dan peristiwa pendidikan yang terjadi
di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks ruang dan waktu serta situasi
lingkungan pendidikan secara alami.
- Menyusun
hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip pendidikan berdasarkan data
dan informasi yang terjadi di lapangan (induktif) untuk kepentingan
pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kuantitatif.
Bidang kajian penelitian kualitatif dalam
pendidikan antara lain berkaitan dengan proses pengajaran, bimbingan,
pengelolaan/manajemen kelas,
kepemimpinan dan pengawasan pendidikan, penilaian pendidikan, hubungan sekolah
dan masyarakat, upaya pengembangan tugas profesi guru, dan lain-lain. Selain penelitian kualitatif yang digunakan dalam bidang pendidikan adalah penelitian tindakan kelas. (http://belajarpsikologi.com/metode-penelitian-kualitatif/)
MEMAHAMI PENDEKATAN
KUALITATIF
UNTUK
PENELITIAN PSIKOLOGI
III. Analisis dan Interpretasi Data
3.1. Metode Kuantitatif dan Kualitatif dalam
Perbandingan data kualitatif.
Metode kualitatif memiliki
paradigma, pendekatan, gaya, asumsi teoritik yang berbeda dengan metode
kuantitatif. Metode kuantitatif berakar pada paradigma tradisional,
positivistik, eksperimental, materialis atau empirisist Metode ini berkembang
dari tradisi filsafat pemikiran empiris Comte, Mill, Durkeim, Newton dan John
Locke. “Gaya” penelitian kuantitatif umumhya mengukur fakta objektif melalui
konsep yang diturunkan pada variabel-variabel dan diturunkankan pada
indikator-indikator dengan memperhatikan aspek reliabilitas. Penelitian
kuantitatif bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak “kasus” atau
banyak variabel, banyak subjek yang diteliti, sehingga dapat ditampilkan
dalam bentuk data statistik yang berarti. Hal penting yang lain adalah,
peneliti “terpisah” dari subjek yang ditelitinya.
Tabel 2. Asumsi Paradigmatik Penelitian Kuantitatif
dan Kualitatif
|
Asumsi Paradigmatik
|
Pertanyaan
|
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
|
Asumsi
ontologis
|
Apa sifat
dasar realitas?
|
Realitas
bersifat objektif dan singular, terpisah dari peneliti
|
Realitas
bersifat subjektif dan ganda sebagaimana terlihat oleh partisipan dalam studi
|
|
Asumsi
epistemologis
|
Bagaimana
hubungan antara peneliti dengan yang diteliti?
|
independen
dari yang diteliti
|
berinteraksi
dengan yang diteliti
|
|
Asumsi
aksiologis
|
Bagaimana
peranan nilai?
|
Bebas
nilai dan menghindarkan bias
|
Sarat
nilai dan bias
|
|
Asumsi
retoris
|
Bagaimana
penggunaan bahasa penelitian?
|
|
|
|
Asumsi
metodologis
|
Bagaimana
dengan proses penelitian?
|
|
•
Faktor-faktor dibentuk secara simultan
|
Sumber: John W. Creswell, Research Design: Qualitative
and Quantitative Approaches, (California: Sage Publications, Inc, 1994), hlm.
5.
Sedangkan metode kualitatif memliki
ciri-ciri yang berbeda secara diametral dengan metode kuantitatif. Metode
kualitatif berakar dari tradisi paradigma non tradisional, dipengaruhi oleh
paradigma naturalistik-interpretatif Weberian, perspektif
post-positivistik, kelompok teori kritis serta post-modernisme seperti
dikembangkan oleh Baudrillard, Lyotard, dan Derrida (Cresswell, 1994).
Tabel 1. “Gaya” Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
|
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
|
Mengukur
fakta-fakta objektif
|
Mengkonstruksikan
realitas dan makna kultural
|
|
Fokus pada
variabel-variabel
|
Fokus pada
proses dan peristiwa secara interaktif
|
|
Reliabilitas
adalah kunci
|
Otentisitas
adalah kunci
|
|
Bebas
nilai
|
Hadirnya
nilai secara eksplisit
|
|
Bebas dari
konteks
|
Dibatasi
situasi
|
|
Banyak
kasus dan subyek
|
Sedikit
kasus dan subjek
|
|
Analisis
statistic
|
Analisis
tematik
|
|
Peneliti
terpisah
|
Peneliti
terlibat
|
Sumber: W. Lawrence Neuman, Social Research Methods:
Qualitative and Quantitative Approaches, (Needham Heights, MA: Allyn&
Bacon, 1997), hlm. 14
“Gaya”
penelitian kualitatif berupaya mengkonstruksi realitas melalui deskripsi
detil dan memahami maknanya. Sehingga, penelitian kualitatif biasanya sangat
memperhatikan proses, peristiwa dan otentisitas. Memang dalam penelitian
kualitatif kehadiran nilai peneliti bersifat eksplisit, peneliti tidak terpisah
dari subyek penelitian, dan peneliti berperan sebagai instrument penelitian,
dalam situasi yang terbatas. Jumlah subyek penelitian relatif sedikit. Dengan
demikian, hal yang umum dilakukan ia berkutat dengan analisa tematik. Peneliti
kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya.
Tradisi pemikiran yang membentuk
perbedaan paradigma metode kuantitatif dan kualitatif, terletak pada
ontologisnya, epistemologisnya, serta aksiologisnya. Penelitian kuantitatif
secara ontologis menyatakan bahwa obyek penelitian atau realitas sebagai
sesuatu yang obyektif, dan cara pandang “out there”,di luar peneliti.
Sedangkan penelitian kualitatif melihat realitas sebagai hal yang dikonstruksi
oleh individu yang terlibat dalam situasi sosial tertentu, menggunakan kacamata
“view from within”. Perbedaan dari sisi epistemologisnya, Secara
epistemologis atau cara menjelaskan gejala/realitas, peneliti kuantitatif
bersikap independen, obyektif, dan menjaga jarak (detachment) dengan
realitas yang diteliti. Sementara peneliti kualitatif, berinteraksi secara
intens dengan realitas yang ditelitinya.
Penjelasan dan penyajian kesimpulan
dalam penggunaan bahasa atau retorika, penelitian kuantitatif biasanya
menggunakan bahasa-bahasa penelitian yang bersifat formal dan impersonal
melalui angka atau data-data statistik.Sehingga pilihan kata dalam menjelaskan
gejala dalam penelitian kuantitatif yang kerap digunakan adalah “hubungan ”,
“penyebab” dan ”perbandingan”. Sementara, penelitian kualitatif kerap
ditandai penggunaan bahasa informal dan personal seperti “memahami ”, “menemukan
”, dan “makna”.
Secara metodologis, penelitian
kuantitatif menggunakan logika deduktif dimana teori dan hipotesis diuji
dalam logika sebab akibat. Desain yang bersifat statis digunakan melalui
penetapan konsep-konsep, variabel penelitian serta hipotesis untuk
mengonfirmasi gejala.Sementara itu, penelitian kualitatif lebih mengutamakan
penggunaan logika induktif dimana kategorisasi atau pemaknaan gejala, atau
konstruksi atas realitas dilahirkan dari perjumpaan peneliti dengan informan di
lapangan atau data-data yang ditemukan. Sehingga penelitian kualitatif
bercirikan sebagai penggambaran realitas yang berupa ikatan konteks yang akan
menggiring pada pola-pola atau teori yang akan menjelaskan atau mengonstruksi
fenomena sosial (Creswell, 1994: 4-7).
3.2. Jenis, Bentuk, dan Prinsip Dasar Beberapa
Metode Kualitatif
Metode Kualitatif yang kita kenal
terdiri dari beberapa jenis yang memiliki strategi dan prinsip dasar yang
masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda, diantaranya adalah (Creswell,
2003; Proctor& Capaldi, 2006)
:
1). Analisis Naratif (Narrative Analysis), 2). Grounded Theory
3). Metode Etnografi (Etnographic Methods), 4). Studi
Kasus (Case Studies), 5) phenomenological research (penelitian
fenomenologi)
1). Analisis Naratif (Narrative Analysis)
Naratif dapat diartikan sebagai teks
atau cerita (Polkinghorne (1995), dalam Creswell, 2003) . Naratif analisis
dibedakan dengan Analisis Naratif, di mana yang kedua adalah mengumpulkan data
dari subyek penelitian kemudian disajikan dalam sebuah plot atau alur
yang kronologis (Polkinghorne, 1995) . Peneliti dalam hal ini mempelajari
cerita tentang kehidupan sejumlah individu atau menanyakan pada satu atau lebih
individu lain untuk menggambarkan atau menceritakan tentang kehidupan mereka
secara lengkap, dan disusun dalam struktur yang kronologi dan apa makna dari
cerita kehidupan tersebut. Jenis penelitian ini menekankan pada struktur, isi
dan fungsi dari penggambaran atau cerita yang diungkapkan oleh subyek
penelitian.
Beberapa bentuk penelitian Analisis
Naratif adalah, penelitian biografi, yakni peneliti mempelajari dan menuliskan
kisah hidup orang lain dengan lengkap dan detil, kemudian yang berikutnya
adalah autobiografi yakni subyek penelitian menuliskan sendiri cerita yang
lengkap dan detil tentang dirinya, (Ellis, 2004, dalam Creswell, 2003).
Dari sisi waktu kehidupan yang
diteliti terdapat bentuk life history yang mengungkap keseluruhan
kehidupan subyek penelitian dan personal experience yang hanya
mengungkap pengalaman hidup subyek penelitian dalam konteks tertentu, waktu
tertentu, situasi yang privat ataupun dalam budaya/folklore tertentu (Denzin,
1989a). Langkah-langkah dalam penelitian jenis Analisis Naratif ini adalah
(Clandinin & Connelly (2000), dalam Creswell (2003):
- Menentukan
problematika riset atau pertanyaan riset.
- Memilih
satu atau lebih individu yang memiliki cerita atau pengalaman hidup
sebagaimana pertanyaan penelitian atau problematika riset peneliti.
Setelah itu melakukan riset lapangan dengan cara berinteraksi dengan
partisipan untuk mendapatkan cerita yang lengkap dan detil. Termasuk di
dalamnya meneliti teks-teks seperti: jurnal harian, buku harian, catatan,
surat-surat, memo dan artifak seperti foto-foto, barang-barang pribadi,
dan benda-benda yang dimiliki oleh partisipan.
- Mengumpulkan
informasi tentang konteks dari cerita yang telah di dapatkan. Dalam
analisis naratif itu berarti menggali tentang pengalaman personalnya,
kultur (ras, kebiasaan, tradisi) serta konteks histori dari cerita
tersebut (hal-hal yang terkait dengan waktu dan tempat)
- Menganalisis
cerita yang diperoleh dari partisipan dengan secara aktif terlibat dengan
aktifitas partisipan. Kemudian, melakukan konfirmasi atas tema-tema yang
disimpulkan oleh peneliti kepada partisipan untuk mendapatkan validasi,
atau validitas isi.
2). Grounded Theory
Grounded Theory memiliki tujuan,
bergerak dari pendeskripsian (saja) dari suatu gejala menjadi menghasilkan
suatu teori, atau skema analisis abstrak dari sebuah proses (Strauss &
Corbin, 1998). Disebut sebagai grounded karena peneliti memulai dengan
konsep teori yang minimum, mengumpulkan pengamatan (observasi), merevisi
interpretasi, terus mengulang proses tersebut hingga di dapatkan penjelasan
teoritis yang memuaskan diperoleh.Karakteristik utama dari pendekatan ini adalah,
perbandingan data yang terus-menerus dilakukan dengan munculnya berbagai
kategori dan sampling teoritis yang berbeda-beda yang di dapat di lapangan,
untuk memaksimalkan kesamaan dan perbedaan dari informasi yang diperoleh.
3. Metode Etnografi (ethnographic method)
Metode ini difokuskan pada
individual yang berinteraksi, saling berkomunikasi dari sebuah kelompok
tertentu, dan terjadi culture sharing groups (Harris, 1968, dalam
Creswell, 2003) itu sebabnya banyak digunakan oleh sosiolog dan antropolog,
akhir-akhir ini metode ini juga digunakan dalam bidang psikologi, komunikasi
dan pendidikan. Metodi ini banyak berkaitan dengan pemberian makna yang khusus
yang dibentuk oleh struktur budaya tertentu.Dalam pendekatan ini peneliti
melakukan riset pada kelompok budaya tertentu dalam seting naturalistik
(alami), selama periode waktu yang cukup panjang untuk mengumpulkan data.
Karakteristik penelitian yang menggunakan pendekatan
ini:
- Adanya
keterlibatan peneliti dengan partisipan secara terus-menerus dalam waktu
yang cukup lama.
- Peneliti
berusaha untuk tidak mencampuradukkan pemahaman budayanya sendiri dengan
pemahaman budaya partisipan yang sedang diteliti.
- Menguji
tindakan individu dan kejadian dengan cara menginterpretasikannya dalam
konteks budaya partisipan yang sedang diteliti.
- Merevisi
dan memperluas interpretasi ketika informasi baru diperoleh sebagai hasil
dari interaksi terus menerus dengan partisipan
5.Studi Kasus (Case Studies).
Perbedaan studi kasus dengan metode
etnografi adalah metode etnografi memfokuskan pada culture sharing yang
terjadi dalam sebuah kebudayaan, sedangkan studi kasus adalah kasus atau
beberapa kasus dalam bounded system (a case in a bounded system).
Prosedur pelaksanaan metode penelitian dengan pendekatan studi kasus adalah
(Merriam, 1998; Stake, 1995; Yin, 2003)
- Menentukan
pendekatan studi kasus yang tepat untuk menjawab problematika atau
pertanyaan penelitian. Studi kasus adalah pendekatan yang bagus ketika
peneliti telah mengetahui dengan jelas, dan bisa mengidentifikasi sebuah
kasus serta mengetahui batasan-batasan kasus tersebut untuk kemudian
mencari penjelasan secara mendalam tentang kasus tersebut, atau melakukan
perbandingan antara satu kasus dengan kasus yang lain.
- Peneliti
mengidentifikasi satu kasus atau beberapa kasus dengan cara menentukan
sampling tertentu secara maksimal (purposeful maximal sampling)
(Creswell, 1995)
- Mengumpulkan
data yang biasanya dalam studi kasus datanya berupa data ekstensif,
informasi diperoleh dari sumber-sumber yang banyak (multiple resource)
seperti observasi, interview, dan juga document dan audiovisual.
- Melakukan
analisis data dengan memilih diantara dua cara: 1) analisis holistic yakni
menganalisis keseluruhuan data, atau 2) menganalisis aspek yang spesifik
dari kasus tersebut.
- (Phenomenological
Research)
Perbedaan penelitian dengan metode
ini jika dibandingkan dengan analisis naratif adalah pada jumlah partisipan,
jumlah partisipan pada analisis naratif hanya tunggal, sedangkan pada
fenomenologi jumlah partisipan lebih dari satu, dimana tujuan dari fenomenologi
adalah mereduksi pengalaman hidup dari beberapa individu tersebut untuk mencari
kesamaan dari pengalaman hidup yang dialami partisipan ( a graps a very
nature of thing) (van Mannen, 1977). Pengalaman ini bisa saja berupa
fenomena berkabung, penyesalan, marah, rasa nyeri dan sebagainya, dan
yang kemudian digambarkan adalah apa dan bagaimana mereka menjalani pengalaman
tersebut (Moustakas, 1994).
Tipe fenomenologi ada dua, 1) hermeneutic
phenomenology atau interpretasi terhadap text of life (hermeneutic)
dari pengalaman hidup partisipan, (van Mannen, 1995) dan 2) transcendental,
psychological phenomenology yakni bagaimana interpretasi
partisipan terhadap pengalaman hidupnya, dan bukan interpretasi peneliti
terhadap pengalaman partisipan (Moustakas, 1994). Hal penting yang muncul
dalam metode ini adalah proses yang disebut Hursl sebagai epoche
(bracketing) interpretasi peneliti terhadap fenomena yang diteliti, untuk
mendapatkan a view from withing dari pengalaman subyek penelitian atau
partisipan.
Prosedur melakukan penelitian dengan
fenomenologi: 1) mengidentifikasi fenomena dengan cara terlebih dahulu
membraket (epoche) pengalaman peneliti tentang fenomena tersebut, 2)
mengambil data dari partisipan yang memiliki pengalaman dengan fenomena
tersebut 3) menganalisis data dengan cara mereduksi informasi ke dalam
tema-tema. Peneliti melakukan deskripsi tekstural (textural description)
dari fenomena tersebut yakni apa yang dialami oleh partisipan. Kemudian
melakukan deskripsi secara structural (structural description), yakni
bagaimana fenomena tersebut dialami oleh partisipan, dan yang terakhir adalah
menggabungkan deskripsi tekstural dan structural untuk mendapatkan esensi dari
fenomena.
3.3. Mencermati Metode Kualitatif dalam Praktek
Metode kualitatif berkembang
mengikuti suatu dalil sebagai proses yang tidak pernah berhenti (unfinished
process). Ia berkembang dari proses pencarian dan penangkapan makna yang
diberikan oleh realitasdan fenomena sosial. Sebab, seorang peneliti yang
berkecimpung dalam penelitian kualitatif “konvensional” sering mengalami proses
sell and trade.
Proses ini dapat difahami pada dua
gejala. Pertama, peneliti terlibat secara interaktif dengan subjek, interaksi
ini berperan dalam membentuk realitas baru bagi subyek. Demikian juga sebaliknya,
realitas secara interaktif memperkaya pengetahuan dan makna sosial seorang
peneliti.Kedua, peneliti dan “subyek” terlibat dalam hal ini mengalami
‘pertukaran’ realitas.Agar penelitian kualitatif berjalan dengan baik dan
menghasilkan produksi ilmu pengetahuan yang bagus, maka praktik metode
kualitatif harus dilakukan dengan teliti dan memperhatikan hal-hal ini.
Kerap terjadi, ketika proses
penelitian interaksi antara peneliti dan subyek, tidak berjalan dengan setara.
Positioning seorang peneliti kualitatif menjadi salah satu kunci keberhasilan
untuk mendapatkan data-data yang otentik.Kerap terjadi hubungan tidak setara
antara peneliti dengan realitas yang ditelitinya. Tentu saja, hal ini dapat
mengakibatkan bias dari data yang digali bahkan proses interaksi berlangsung
secara tidak wajar dan memuat struktur feodalisme tersembunyi. Sebagai contoh,
seorang peneliti yang memiliki status sosial sebagai kelas menengah atas,
mengenakan pakaian yang sangat bersih dan rapi, berbicara dengan bahasa formal
dan menunjukkan otoritas pengetahuan yang berbeda saat meneliti fenomena
pengemis.Ketika ‘kesetaraan’ atribut sosial, ekonomi, dan budaya yang
lekat pada peneliti lupa untuk ditanggalkan dalam proses penelitian, maka akan
terjadi hubungan timpang yang dilegalisasi oleh kultur patron-klien.
Hal berikutnya adalah dalam proses
pengambilan data (Soemantri, 2005) menyatakan bahwa terdapat 4 tahap
pengambilan data lapangan, dimana keempat tahap tersebut memiliki beberapa hal
yang perlu dicermati oleh peneliti kualitatif, sehingga tujuan mendapatkan ilmu
pengetahuan yang baik (good sains) dapat terpenuhi. Keempat tahap
pengambilan data lapangan tersebut adalah:
- FSD:
Front Stage Disclosed pengambilan data pada tahap ini dapat dilakukan oleh
peneliti pemula, karena sifat data yang permukaan, dan tidak mendalam
seperti nama, pekerjaan, usia dan sebagainya (terkecuali pekerjaan yang
bersifat illegal).
- BSD:
Back Stage Disclosed, pengambilan data yang lebih mendalam dengan
interview baik terstruktur maupun tidak terstruktur. Pada tingkat ini
tingkat kesulitannya semakin tinggi, sehingga dibutuhkan ketrampilan si
peneliti dan juga pengalaman melakukan penelitian kualitatif. Pada tingkat
ini peneliti diharapkan telah memiliki ketrampilan membangun rapport
atau membangun rasa saling percaya antara peneliti dan partisipan.
Diharapkan pula peneliti telah dapat melakukan prosedur triangulasi untuk
melengkapi prosedur pengambilan data pada tahap ini.
- FSE:
Front Stage Enclosed, pada tahap ini peneliti seringkali dihadapkan dengan
persoalan-persoalan etika terkait dengan identitas peneliti. Misalnya pada
penelitian tentang pengambilan keputusan terorisme. Pengambilan data
seringkali menjadi tidak lengkap ketika hal-hal bersifat etik seperti
afiliasi pada kelompok agama tertentu yang mungkin akan menimbulkan
persoalan.
- BSE:
Back Stage Enclosed, ini adalah tahap paling sulit dari pengumpulan data
kualitatif, sebab pada tahap ini peneliti kualitatif harus dapat menembus
realitas tabu yang melingkupi kebutuhan pengambilan data. Data-data
tentang hubungan-hubungan yang bersifat politis, korupsi, kolusi, atau
perilaku menyimpang, adalah contoh ranah data pada tahap ini.
Selain ranah pengambilan data, hal
lain yang perlu diperhatikan adalah sikap peneliti kualitatif. Sikap pertama
adalah pengetahuan yang mencukupi untuk memahami teknik-teknik penelitian.Sikap
kedua adalah sensitivitas pada aspek etika dalam melakukan penelitian (Neuman,
1997: 443-444).
Dari sisi partisipan hal penting
yang harus dipahami secara etika adalah, memberikan informed consent
sebelum melakukan penelitian. Juga keharusan peneliti untuk melindungi
identitas pribadi partisipan, bisa dengan menggunakan pseudonym, atau
inisial.Selain itu tentu saja adalah kepentingan partisipan adalah yang
terpenting, sehingga kesediaan partisipan menjadi hal yang penting.
Jumat, 31
Mei 2013
METODE
PENELITIAN KUALITATIF
Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati
dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang
berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna
dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan
mungkin menggabungkannya. Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga
disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian
kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Dari segi peristilahan para akhli nampak menggunakan
istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama,
untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini,
berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai para akhli dalam penyebutan
kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam berikut ini : Mengemukakan
beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian
kualitatif yaitu: grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik,
interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik . Perbedaan
tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan
serta latar brlakang disiplin ilmunya, istilah grounded research lebih
berkembang dilingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di
Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. Schleigel dari
Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan
Penelitian Ilmu-ilmu soaial Banda Aceh pada tahun 1970-an), ethnometodologi
lebih berkembang di lingkungan antropologi dan ditunjang antara lain oleh
Bogdan , interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat
dikembangkan oleh Blumer, Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh
Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika, matematika dan
penelitian kuantitatif.
Secara lebih rinci Patton (1990 : 88)
mengemukakan-penamaan- macam-macam penelitian kualitatif (Qualitative inquiry)
berdasarkan tradisi teoritisnya yang diuraikan dalam bentuk tabel sebagai
berikut :
1.
variety in qualitative Inquiry : Theoritical
traditions No Perspektif Akar Ilmu Pertanyaan Utama 1 Ethnography Anthropology Apa
kebudayaan masyarakat ini ?
2. Phenomenology
Philosophy Apa struktur dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi
masyarakat tersebut?
3. Heuristics
Psikologi Humanistik Apa pengalaman saya mengenai gejala-gejala ini dan apa
pengalaman essensial bagi yang lain yang juga mengalami gejala ini secara
intens ?
4. Ethnomethodology
Sosiology Bagaimana orang memahami kegiatan sehari-hari mereka sehingga
berprilaku dengan cara yang dapat diterima secara sosial ?
5. Symbolic
interactionism Psikologi sosial Apa simbul dan pemahaman umum yang telah muncul
dan memberikan makna bagi interaksi sosial masyarakat ?
6. Echological
Psychology Psikologi lingkungan Bagaimana orang-orang mencapai tujuan mereka
melalui prilaku tertentu dalam lingkungan yang tertentu ?
7. System
theory interdisipliner Bagaimana dan kenapa sistem ini berfungsi secara
keseluruhan ?
8. Chaos
theory: non -linier dynamics Fisika teoritis : ilmu-ilmu alam Apa yang
mendasari keteraturan gejala-gejala yang tak teratur jika ada ?
9. Hermeneutics
Teologi, filsafat, kritik sastra Apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku
atau produk yang dihasilkan yang memungkinkan penafsiran makna ?
10. Orientaional,
qualitative Ideologi, ekonomi politik Bagimana perspektif ideologi seseorang
berujud dalam suatu gejala ? Dalam perkembangannya, belakangan ini nampaknya
istilah penelitian kualitatif telah menjadi istilah yang dominan dan baku,
meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang
berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling
melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai metodologi penelitian kualitatif.
Oleh karena itu dalam wacana metodologi penelitian,
umumnya diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi penelitian yakni
paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik
(penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun
ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun
bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis
penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran
filosofis/teoritis maupun dalam tataran praktis pelaksanaan penelitian, dan
justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan
masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode
yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan
memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada
tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Meskipun dalam tataran praktis
perbedaan antara keduanya seperti nampak sederhana dan hanya bersifat teknis,
namun secara esensial keduanya mempunyai landasan epistemologis/filosofis yang
sangat berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang
mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan
pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis). Untuk
lebih memahami landasan filosofis kedua paham tersebut, berikut ini akan
diuraiakan secara ringkas kedua aliran faham tersebut.
Perbandingan tataran Metodologis Memahami landasan
filosofis penelitian kualitatif dalam perbandingannya dengan penelitian
kuantitatif merupakan hal yang penting sebagai dasar bagi pemahaman yang tepat
terhadap penelitian kualitatif, namun demikian bagi seorang peneliti penguasaan
dalam tingkatan operasional lebih diperlukan lagi agar dalam pelaksanaan
penelitian tidak terjadi kerancuan metodologis, dan penelitian benar-benar
dilaksanakan dalam suatu bingkai pendekatan yang jelas dan dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam tataran metodologis perbedaan landasan filosofis
terrefleksikan dalam perbedaan metode penelitian, dimana positivisme
dimanifestasikan dalam metode penelitian kuantitatif sedangkan fenomenologi
dimanifestasikan dalam metode penelitian kualitatif.
Kedua pendekatan ini sering diposisikan secara
diametral, meskipun belakangan ini terdapat upaya untuk menggabungkannya baik
dalam bentuk paralelisasi maupun kombinasi, adapun perbedaan antara metode
kuantitatif dengan kualitatif adalah sebagai berikut : Perbedaan Metode Kuantitatif dengan
Kualitatif No Metode Kuantitatif Metode Kualitatif
1.
Menggunakan hiopotesis yang ditentukan sejak awal
penelitian Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penelitian.
2.
Definisi yang jelas dinyatakan sejak awal Definisi
sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung.
3.
Reduksi data menjadi angka-angka Deskripsi
naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan.
4.
Lebih memperhatikan reliabilitas skor yang diperoleh
melalui instrumen penelitian Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas
penyimpulan.
5.
Penilaian validitas menggunakan berbagai prosedur
dengan mengandalkan hitungan statistik Penilaian validitas melalui pengecekan
silang atas sumber informasi.
6.
Mengunakan deskripsi prosedur yang jelas (terinci)
Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif.
7.
Sampling random Sampling purposive
8.
Desain/kontrol statistik atas variabel eksternal
Menggunakan analisis logis dalam mengontrol variabel ekstern
9.
Menggunakan desain khusus untuk mengontrol bias
prosedur Mengandalkan peneliti dalam mengontrol bias
10. Menyimpulkan
hasil menggunakan statistik Menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata
11. Memecah
gejala-gejala menjadi bagian-bagian untuk dianalisis Gejala-gejala yang terjadi
dilihat dalam perspektif keseluruhan
12. Memanipulasi
aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks Tidak
merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah /membiarkan keadaan aslinya
(diadaptasi dari Jack R. Fraenkel & Norman E. Wallen. 1993 : 380) .... Baca
Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2013/05/metode-penelitian-kualitatif.html
Written by Nugroho HP
Published Date
Hits: 15177
Paradigma adalah seperangkat asumsi
tersurat dan tersirat yang menjadi gagasan-gagasan ilmiah (Ihalauw, 2004).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa paradigma bukan masalah salah atau benar,
melainkan lebih memberikan manfaat atau kurang bermanfaat sebagai sebuah cara
pandang terhadap sesuatu. Perbedaan anatar kualitatif dan kuantitatif ini
dibedakan oleh paradigma yang masing-masing menjadi kesepahaman para ahli-ahli
pengikutnya. Banyak tulisan telah membahas apa-apa saja yang membedakan antara
keduanya. Salah satunya disajikan pada Tabel di bawah ini.
|
Asumsi
|
Pertanyaan
|
Kuantitatif
|
Kualitatif
|
|
Ontologis
|
Apa
realitas?
|
Obyektif,
tunggal, terpisah dari peneliti
|
Subyektif,
ganda, seperti yang dilihat penelti
|
|
Episto-mologis
|
Hubungan
peneliti dengan objek?
|
Peneliti
independen
|
Peneliti
berinteraksi dengan yang diteliti
|
|
Aksiologis
|
Peranan
nilai ?
|
Bebas
nilai dan tidak bias
|
Terikat
nilai dan bias
|
|
Retorik
|
Bahasa
penelitian?
|
Formal;
melibatkan seperangkat definisi
|
Informal;
melibatkan keputusan-keputusan
|
|
Metodologis
|
Proses
penelitian?
|
Deduktif;
Hubungan sebab akibat;
Rancangan statis;
Bebas konteks;
Generalisasi yang mengarah prediksi, eksplorasi, pemahaman;
Akurasi & reliabel lewat uji
|
Induktif;
Faktor terbentuk secara
silmutan timbal balik;
Rencana berkembang;
Terikat konteks;
Pola & teori untuk
pemahaman;
Akurasi & reliabel lewat pembuktian
|
Sumber : Modifikasi Cresswel, 2000 dalam Slamet 2006
Berdasarkan tabel tersebut jelas
sekali adanya perbedaan pandangan yang saling berlawanan antara paradigma
kualitatif dan kuantitatif. Menurut Ihalauw (2004), antara kualitatif dan
kuantitatif memiliki susbstansi pendekatan ilmiah yang bertolak belakang. Paradigma
kuantitatif bersifat deduktif, yaitu pada ranah abstrak merupakan telaah
teoritis, penalaran, perenungan, dan pengalaman untuk mengukur konsep dan
menguji dalil atau teori pada ranah empirik. Sebaliknya paradigma kualitatif
bersifat induktif, yaitu pada ranah empirik melakukan amatan terhadap fakta
atau peristiwa untuk membentuk dan
memodifikasi dalil serta menata dalil menjadi teori pada ranah abstrak.
Secara lebih sederhana Yunus (2009) membedakan bahwa penelitian berparadigma
kualitatif menekankan pada proses, sedangkan penelitian berparadigma
kuantitatif menekankan pada produk. Sekali lagi, pandangan tersebut memberi
gambaran tegas perbedaan antara kualitatif dengan kuantitatif
Difinisi paradigma di atas
menyebutkan bahwa paradigma memberikan pandangan lebih bermanfaat atau kurang
bermanfaat. Paradigma akan mempengaruhi pandangan seseorang atau komunitas apa
yang adil atau tidak adil, apa yang baik dan tidak baik (Fakih, 2002). Lebih
lanjut ditegaskan bahwa melalui paradigma akan ada dua orang atau komunitas
melihat suatu realitas sosial yang sama, akan menghasilkan pandangan,
penilaian, dan sikap yang berbeda. Dengan demikian jelas sekali bahwa paradigma
sangat berpengaruh terhadap teori dan analisis yang dianut seseorang atau
komunitas dalam mengambil kebijakan dan keputusan.
Habermas membagi paradigma ilmu sosial menjadi tiga yaitu instrumental
knowledge, hermeneutic knowledge,
dan critical/emancipatory knowledge (Fakih, 2002). Instrumental
knowledge berakar pada paham positivisme yang berpandangan bahwa ilmu
sosial dikembangkan dari pandangan, metode, dan teknik ilmu alam dalam memahami
realitas. Dalam rangka memahami objektivitas atas realitas sosial dalam metode
ilmiah, maka harus dipisahkan antara fakta dengan nilai. Pandangan instrumental
knowledge ini termasuk dalam paradigma kuantitatif. Aplikasi dalam
kehidupan sosial kita sangat nyata, yaitu banyak kehidupan berinstrumen pada
angka-angka yang dianalisis secara statistik. Misalnya untuk mengukur
kepandaian seseorang diukur dari nilai raport, nilai ujian nasional, indeks
prestasi. Kebijakan pemerintah dalam mengukur keberhasilan pembangunan juga
didasarkan pada angka-angka, seperti pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, indek
kesejahteraan dan lainnya, tidak terkecuali penelitian-penelitian ilmiah bidang
sosial yang banyak dilakukan oleh perguruan tinggi.
Sementara itu hermeneutic
knowledge dan critical/emancipatory
knowledge ini masuk dalam paradigma kualitatif. Seringkali Hermeneutic
knowledge disemboyankan dengan
“biarlah fakta berbicara atas nama dirinya sendiri” (Fakih, 2002). Sementara critical/emancipatory
knowledge dipahami sebagai proses untuk memanusiawikan manusia, sehingga
dalam analisis suatu kajian ilmiah harus berpihak kepada perbaikan kehidupan
manusia.
Pada dasarnya paradigma kualitatif
melihat bahwa realitas sosial harus dipahami dari ilmu sosial dan keberpihakan
pada manusia, bukan seperti paradigma kuantitatif yang melihat realitas sosial
dengan pendekatan ilmu alam. Dalam fakta kehidupan saat ini paradigma
kuantitatif jauh lebih mewarnai daripada paradigma kualitatif. Realitas soaial
hasil kajian paradigma kuantitatif juga bisa disaksikan dalam kehidupan kita.
Akan tetapi, untuk ketiga kalinya dalam tulisan ini menyebutkan penjelasan
paradigma, bahwa paradigma memberikan pandangan lebih bermanfaat atau kurang
bermanfaat. Antara paradigma kualitatif dan kuantitatif, mana yang lebih
bermanfaat bagi khususnya ilmu sosial ? Pendekatan apa yang tepat untuk
mengkaji dan memahami anarkisme dalam masyarakat, ketimpangan
kesejahteraan, adaptasi masyarakat
terhadap bencana, patologi sosial, dan banyak lagi permasalahan sosial
kemasyarakatan dalam ruang muka bumi ?
Kiranya
sudah saatnya mengarusutamakan penelitian paradigma kualitatif pada skripsi
mahasiswa, tidak terkecuali bidang geografi yang bernaung di bawah ilmu sosial.
Visi dan misi pendidikan tinggi abad XXI dari UNESCO (1998) berintikan isi
laporan The International Commission on Education for the Twenty-first
Century (Learning:the Treasure Within) yang diketuai oleh Jacques
Delors (UNESCO, 1998)2), pada pokok “Harapan ke depan peran pendidikan tinggi”
poin c menyatakan bahwa orientasi dari pertumbuhan ekonomi ke pengembangan
kemanusiaan (Tim Direktorat Akademik, 2008). Diakui atau tidak paradigma
kualitatif lebih menyentuh pengembangan kemanusiaan pada kajian ilmu sosial.
Perlu
penegasan juga, bahwa sepemahaman penulis, dalam kajiannya ilmu geografi tidak
pernah menentangkan antara paradigma kualitatif maupun kuantitatif. Hal ini
perlu diluruskan karena ternyata masih ada yang berpandangan bahwa geografi
dalam kajiannya berpegang pada paradigma kuantitatif. Pada geomorfologi yang
menjadi domain utama geografi fisik,
paradigma kualitatif maupun kuantitatif menyatu menjadi bagian dari
aspek analisisnya. Dalam ilmu ini dikenal adanya aspek morfologi, yaitu
mendiskripsikan bentuk muka bumi yang meliputi morfografi dan morfometri.
Morfografi mendiskripsikan komposisi dan kondisi bentuklahan secara kualitatif
seperti kipas aluvial, dataran banjir, kerucut gunungapi, dan lain-lain,
sementara morfometri mendiskripsikan tentang kondisi bentuklahan secara
kuantitatif seperti kemiringan lereng, tingkat percabangan sungai, besaran
longsorlahan, dan lain-lain. Demikian juga dalam kegiatan interpretasi foto
udara, interpretasi citra satelit, interpretasi peta, hal tersebut jelas
berparadigma kualitatif. Apalagi dalam geografi manusia yang banyak membahas
tentang hubungan kemasyarakatan dalam ruang muka bumi serta hubungan
kemasyarakatan dengan lingkungannya dalam ruang muka bumi. Yang paling penting
adalah mengenalkan kedua paradigma tersebut secara luas, supaya dapat
menumbuhkan kreativitas dalam penelitian termasuk skripsi dan tentunya
penelitian yang lebih memberikan manfaat bagi kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar