BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.
Teori yang Terkait Dengan Tema
a.
Pengertian
Keputusan
Pengambilan keputusan (desicion
making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini
diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif.
Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh
pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah
utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan
keputusan yang terbaik. Secara umum, pengertian pengambilan keputusan telah
dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah :
·
G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai
pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang
mungkin.
·
Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan
keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran,
kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara
sejumlah alternatif.
·
Horold dan Cyril ODonnell : Mereka mengatakan bahwa
pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara
bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu rencana tidak dapat dikatakan
tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk
atau reputasi yang telah dibuat.
·
P. Siagian : Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis
terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta dan data, penelitian yang matang atas
alternatif dan tindakan.
Teknik pengambilan keputusan dapat dikelompokkan
menjadi dua bagian, yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan pendekatan
kualitatif. Teknik atau pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang
menasarkan diri pada hitungan matematis, dan pendekatan ini telah memberikan
kontribusi yang bersifat ilmiah terhadap pengambilan keputusan.
Pada organisasi modern banyak
masalah keputusan yang tidak sekedar membutuhkan penyelesaian secara
kualitatif, namun juga membutuhkan kteativitas, motivasi, dan penerimaan. Dalam
makalah ini, akan dibahas teknik-teknik pengambilan keputusan yang bersifat
kreatif dan mendapat penerimaan karyawanm serta teknik-teknik pengambilan
keputusan modern.
Dalam manajemen, pengambilan keputusan (decision making)
memegang peranan penting karena keputusan yang diambil oleh manajer merupakan
hasil pemikiran akhir yang harus dilaksanakan oleh bawahannya atau organisasi
yang yang ia pimpin. Keputusan manajer sangat penting karena menyagkut semua
aspek . Kesalahan dalam mengambil keputusan bisa merugikan organisasi, mulai
dari kerugian citra sampai pada kerugian uang. Pengambilan keputusan adalah
suatu proses pemikiran dalam pemecahan masalah untuk memperoleh hasil yang akan
dilaksanakan.
Ada masalah yang mudah diselesaikan ada pula masalah yang sulit,
tergantung besarnya masalah dan luasnya dengan beberapa faktor. Model yang
bermanfaat dan terkenal senbagai kerangka dasar proses pengambilan keputusan
yang dikemukakan oleh Herbert A.Simon terdiri atas tiga tahap, yaitu :
1.
Pemahaman : Menyelidiki lingkungan kondisi yang memerlukan keputusan. Data
mentah yang diperoleh diolah dan diperiksa untuk dijadikan petunjuk yang dapat
memenyukan masalahnya.
2.
Perancangan : Menemukan, mengembangkan dan menganalisis arah tindakan yang
mungkin dapat digunakan. Hal ini mengandung proses untuk memahami masalah untuk
menghasilkan cara pemecahan dan menguji apakah cara pemecahan tersebut dapat
dilaksanakan.
3.
Pemilihan : Memilih arah tindakan tertentu dari semua arah tindakan yang ada.
Pilihan ditentukan dan dilaksanakan.
b.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pengambilan Keputusan
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
ini, Ada 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan :
1. Fisik : Didasarkan pada rasa yang
dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada
kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang,
sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2. Emosional : Didasarkan pada perasaan
atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
3. Rasional: Didasarkan pada
pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai
konsekuensinya.
4. Praktikal : Didasarkan pada
keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi
diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5. Interpersonal : Didasarkan pada
pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya
dapat mempengaruhi tindakan individual.
6. Struktural : Didasarkan pada lingkup
sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung
atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009)
menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah:
jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan
kemampuan.
B. Teori
atau Konsep yang Relevan
Secara umum, terdapat dua pendekatan
dalam pengambilan keputusan, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan
kuantitatif. Secara sederhana, pendekatan kualitatif mengandalkan penilaian
subyektif terhadap suatu masalah, sedangkan pendekatan kuantitatif mendasarkan
keputusan pada penilaian obyektif yang didasarkan pada model matematika yang
dibuat. Jika Anda meramalkan cuaca mendasarkan pada pengalaman, maka pendekatan
yang digunakan adalah kualitatif. Namun jika, ramalan didasarkan pada model
matematika, maka pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif. Keputusan
penerimaan karyawan berdasar nilai tes masuk adalah contoh lain pendekatan
kuantitatif, sedang jika didasarkan pada hasil wawancara untuk mengetahui
kepribadian dan motivasi maka pendekatan yang dilakukan adalah kualitatif.
Umumnya pendekatan kuantitatif dalam
pengambilan keputusan yang menggunakan model-model matematika. Matematika sudah
ditemukan oleh manusia ribuan tahun yang lalu dan telah banyak digunakan dalam
banyak aplikasi. Untuk kasus yang lebih kompleks tentu saja dibutuhkan model
matematika yang lebih rumit. Telah banyak model analisis kuantitatif yang
dikembangkan dalam pengambilan keputusan.
Langkah-Langkah
Dalam Pengambilan Keputusan
·
Mendefinisikan masalah
Secara sederhana, masalah merupakan
perbedaan (gap) antara situasi yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Jika
seorang mahasiswa ingin memperoleh nilai A, tetapi ternyata hasil yang
didapatkan kurang dari itu, maka mahasiswa tersebut menghadapi masalah. Pada
dasarnya, semua langkap pengambilan keputusan dilakukan untuk menghilangkan
atau mengurangi perbedaan yang ada antara yang diharapkandanyangterjadi.
·
Mengembangkan model
Model adalah representasi dari
sebuah situasi nyata. Model dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk; seperti
model fisik, logika, atau matematika. Miniatur mobil atau maket rumah adalah
contoh model fisik, sedang aliran listrik dengan rangkaian tertentu atau air
mengalir dengan pola saluran tertentu adalah model logika untuk arus
lalu-lintas. Model ekonomi yang menyatakan bahwa pendapatan merupakan fungsi
dari konsumsi dan tabungan merupakan contoh model matematika.
Dalam langkah pengembangan model
dikenal istilah variabel yang nilai-nilainya akan mempengaruhi keputusan yang
akan diambil. Dalam kasus nyata, variabel-variabel ini sebagian dapat
dikendalikan dan sebagian yang lain tidak. Lama lampu merah pada lampu pengatur
lalu lintas dapat dikendalikan dengan mudah, namun laju kendaraan dan jumlah
kendaraan yang melewati sebuah jalan tidak mudah dikendalikan.
·
Mengumpulkan data
Data yang akurat sangat penting
untuk menjamin analisis kuantitatif yang dilakukan menghasilkan keluaran
seperti yang diinginkan. Sumber data untuk pengujian model dapat berupa
laporan-laporan perusahaan seperti laporan keuangan dan dokumen perusahaan
lainnya, hasil wawancara, pengukuran langsung di lapangan dan hasil sampling
statistik. Membuat solusi. Solusi yang diambil dalam pendekatan kuantitatif
dilakukan dengan memanipulasi model dan dengan masukan data yang dihasilkan
pada langkah sebelumnya. Banyak metode yang bisa dilakukan dalam membuat
solusi, seperti memecahkan persamaan (model matematika) yang sudah dikembangkan
sebelumnya, menggunakan pendekatan trial
and error dengan data masukan yang berbeda-beda untuk menghasilkan solusi
”terbaik”, atau menggunakan algoritma atau langkah-langkah penyelesaian detil
khusus yang telah dikembangkan.
Apapun metode yang digunakan, solusi
yang dihasilkan haruslah praktis (practical)
dan dapat diterapkan (implementable).
Solusi ”terbaik” yang dihasilkan harus tidak rumit dan dapat digunakan untuk
memecahkan masalah yang ada.
·
Menguji solusi
Untuk menjamin bahwa solusi yang
dihasilkan merupakan yang terbaik, maka pengujian harus dilakukan, baik pada
model ataupun pada data masukan. Pengujian ini dilakukan untuk melihat akurasi
(accuracy) dan kelengkapan model dan
data yang digunakan. Untuk melihat akurasi dan kelengkapan data, data yang
diperoleh dari berbagai sumber dapat dimasukkan ke dalam model dan hasilnya
dibandingkan. Model dan data yang akurat dan lengkap seharusnya menjamin.
·
Konsistensi hasil
Pengujian ini penting dilakukan sebelum analisis hasil
dilakukan.
Menganalisis hasil. Analisis hasil dilakukan untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan jika sebuah keputusan telah dipilih. Selanjutnya implikasi langkah-langkah yang dilalukan juga harus dianalisis. Dalam langkah ini analisis sensitivitas (sensitivity analysis) menjadi sangat penting. Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah-ubah nilai-nilai masukan model dan melihat perbedaan apa yang terjadi pada hasil. Dengan demikian, analisis sensitivitas akan membantu untuk lebih memahami masalah yang dihadapi dan kemungkinan-kemungkinan jawaban atas masalah tersebut.
Menganalisis hasil. Analisis hasil dilakukan untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan jika sebuah keputusan telah dipilih. Selanjutnya implikasi langkah-langkah yang dilalukan juga harus dianalisis. Dalam langkah ini analisis sensitivitas (sensitivity analysis) menjadi sangat penting. Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah-ubah nilai-nilai masukan model dan melihat perbedaan apa yang terjadi pada hasil. Dengan demikian, analisis sensitivitas akan membantu untuk lebih memahami masalah yang dihadapi dan kemungkinan-kemungkinan jawaban atas masalah tersebut.
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengertian
Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif
adalah ilmu dan seni yang berkaitan dengan tata cara (metode) pengumpulan data,
analisis data, dan interpretasi hasil analisis untuk mendapatkan informasi guna
penarikan kesimpulan dan pengambilan keputusan. (Tuban, 1972 dalam Solimun,
2001). Render, B., et al, 2006 mengemukakan metode kuantitatif adalah
pendekatan ilmiah untuk pengambilan keputusan manajerial & Ekonomi.
Metode Kuantitatif
merupakan penilaian perusahaan dalam bentuk data yang diringkas dan diatur
menurut angka sebelum kesimpulan dideskripsikan berdasarkan tindakan
pengendalian strategi. Walaupun data yang dikumpulkan dari pendekatan ini lebih
mudah untuk diringkas dan diatur, namun untuk menginterpretasikan apa yang
dimaksud oleh pengukuran kuantitatif ini sangatlah sulit dan subyektif juga
sifatnya.
Metode
kuantitatif berlandaskan pada anggapan-anggapan tertentu yang telah disusun
terlebih dahulu, jika anggapan-anggapan tersebut tidak sesuai dengan keadaan
sebenarnya, apalagi jika menyimpang jauh maka keampuhan metode ini tidak dapat
dijamin atau bahkan dapat menyesatkan.
Umumnya pendekatan kuantitatif dalam pengambilan keputusan yang
menggunakan model-model matematika. Matematika sudah ditemukan oleh manusia
ribuan tahun yang lalu dan telah banyak digunakan dalam banyak aplikasi. Salah
satu aplikasi matematika adalah untuk pengambilan keputusan. Sebagai contoh
sederhana, bagaimana mengatur 50 kursi dengan ukuran tertentu ke dalam sebuah
ruangan dengan ukuran tertentu pula. Dengan ukuran kursi dan ruangan, maka akan
ditemukan cara terbaik untuk mengatur kursi; apakah 5 baris kali 10 lajur, atau
sebaliknya, semuanya tergantung ukuran ruangan yang ada. Operasi berbagai organisai telah semakin kompleks dan mahal.
Karena itu, menjadi semakin sulit dan penting bagi para manajer untuk membuat
rencana dan keputusan yang efektif. Berbagai teknik dan peralatan kuantitatif
dalam pembuatan keputusan telah dikembangkan lebih dari 40 tahun dan dikenal
sebagai teknikmanagement science dan operations research. Pada umumnya, kedua
istilah tersebut digunakan bergantian dengan pengertian yang sama yaitu riset
operasi (operations research).
B. Model
Analisis Kuantitatif
Telah
diketahui bahwa model kuantitatif didasarkan kepada data angka atau numerik dan
model-model keputusan menghasilkan variabel-variabel keputusan yang berupa
angka. Akan tetapi, model kuantitatif juga dapat menghasilkan angka yang tidak
merupakan keputusan. Sebagai contoh adalah model linear programming yang berujuan memaksimalkan laba yang dapat
dicapai oleh suatu perusahaan. Model ini akan menghasilkan angka yang merupakan
keputusan dan angka yang bukan merupakan keputusan.
Sebagai
angka yang merupakan keputusan adalah banyak produk yang harus diproduksi, sedangkan
angka yang bukan keputusan adalah maksimum laba yang dapat dicapai. Dengan kata
lain, suatu model kuantitatif mengevaluasi data numerik dan akan menghasilkan
data numerik keputusan dan bukan keputusan. Keputusan dari berbagai imasalah
dalam organisasi secara umum dapat dikelompokan dalam Tabel 1.1 sebagai
berikut.
Tabel 1.1 Spektrum Situasi Keputusan
|
No.
|
Terstruktur (Terprogram)
|
Sebagian Terstruktur
|
Tak Terstruktur (Tak Terprogram)
|
|
1.
|
Spesifikasi
prosedur pengambilan keputusan dapat diprogram sebelumnya.
|
Hanya
sebagian dari proses pengambilan keputusan yang dapat diprogramkan.
|
Prosedur
pengambilan keputusan tidak dapat diprogramkan sebelum-nya.
|
|
2.
|
Waktu
yang diperlukan dalam pemecahan masalah sedikit.
|
Manajer
pembuat keputusan akhir dengan menggunakan bagian keputusan yang ter-struktur
beserta intuisi dan pengalamannya.
|
Setiap
manager me-mecahkan masalah atas dasar pengalaman, ke-percayaan, dan per-timbangannya
sendiri.
|
|
3.
|
Data
yang sama akan menghasilkan keputusan yang sama atau berulang.
|
Dua
manajer mungkin setuju terhadap data tertentu yang relevan, tetapi kesimpulan
yang diambil berbeda.
|
Dua
manajer akan memdapatkan dua ke-simpuan yang berbeda.
|
Pembagian masalah ke dalam spektrum situasi keputusan memberikan langkah
awal dalam mengidentifikasi karakteristiknya. Mungkin suatu pembagian yang
lebih rinci diperlukan dalam membahas metode pendekatan kuantitatif ke berbagai
masalah bisnis. Secara konvensional, pembagian masalah dalam kelompok data
dilihat pada kondisi certainty, risk,
dan uncertainty. Pengertian masalah
dalam kondisi seperti ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.
Certainty : yaitu apabila semua alternatif
tindakan diketahui dan hanya terdapat satu konsekuensi atau outcome untuk masing-masing tindakan.
2.
Risk : yaitu apabila terdapat lebih
dari satu konsekuensi atau outcome untuk setiap alternatif. Pengambil keputusan
diasumsikan mengetahui probablitas terjadinya konsekuensi atau outcome ini.
3.
Uncertainty : yaitu apabila jmlah kemungkinan
konsekuensi atau probabilitas terjadinya outcome
tidak diketahui oleh pengambil keputusan.
Adapun model-model analisis Kuantitatif dibagi menjadi 3:
a.
Decision Tree
(pohon keputusan), unsur utama analisis model adalah hirarki berbagai cabang
alternatif penyelesaian. Data yang mewakili bersifat metrik (kuantitatif) atau
non-metrik (kualitatif) yang dikuantitatifkan dengan nilai-nilai (atau skor)
berupa kategorikal.
b.
Expected Value
(nilai harapan), sebagai pendekatan dalam penilaian setiap cabang alternatif
penyelesaian (dalam grup cabang turunan pohon keputusan). Nilai yang diwakili
oleh data kuantitatif (kategorikal) juga memiliki bobot kepentingan
(probablistik) setiap unsur cabang pohon keputusan.
c.
Model Matematika, contohnya Model ekonomi yang menyatakan bahwa
pendapatan merupakan fungsi dari konsumsi dan tabungan
C.
Jenis-jenis
Analisis Data Kuantitatif
a.
Analisis Univariat
Jenis
analisis ini digunakan untuk penelitian satu variabel. Analisis ini dilakukan
terhadap penelitian deskriptif, dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil
penghitungan statistik tersebut nantinya merupakan dasar dari penghitungan
selanjutnya.
b.
Analisis Bivariat
Jenis
analisis ini digunakan untuk melihat hubungan dua variabel. Kedua variabel
tersebut merupakan variabel pokok, yaitu variabel pengaruh (bebas) dan variabel
terpengaruh (tidak bebas).
c.
Analisis Multivariat
Sama
dengan analisis bivariat, tetapi pada mutivariat yang dianalisis variabelnya
lebih dari dua. Tetap mempunyai dua variabel pokok (bebas dan tidak bebas),
variabel bebasnya memliki sub-sub variabel.
D. Pilihan
Teknik Analisis Kuantitatif
a.
Analisis Cost, Profit &
Volume (BEP)
b.
Analisis Keputusan
c.
AnalisisProbabilitas
d.
Peralaman
e.
Korelasi dan Regresi
f.
Analisis Jalur
g.
Analisis faktor,
deskriminan & Claster
h.
Model Pengendalian Persedian
i.
Linear Programming
(Optimaliasi )Optimaliasi)
j.
Network Model
k.
Analisis I-O
l.
SEM, dll
Model adalah suatu konsep yang digunakan
untuk menyatakan sesuatu keadaan (permasalahan) ke dalam bentuk simbolik,
ikonik atau analog. Pada hakekatnya model adalah abstraksi dari dunia nyata,
sensitivitas atas solusi terhadap perubahan dalam model serta perwakil
realitas, oleh karena itu wujudnya harus lebih sederhana. Pemodelan Metode
kuantitaif adalah upaya memodelkan permasalahan ke dalam konsep kuantintatif
dengan prosedur:
(1) Ubah pernyataan ke dalam
lambang kuantitatif
(2) Pemilihan metode analisis yang
tepat
(3) Aplikasi metode secara benar.
F. Penyusunan
Model
Dalam dunia bisnis, pembuatan model
kuantitatif melibatkan spesifikasi dan interaksi banyak variabel. Untuk mendapatkan
model kuantitatif ini, masalah harus dinyatakan dalam bahasa matematika. Dalam
masalah dunia nyata yang kompleks, biasanya tidak terdapat suatu “cara yang
benar” dalam menyusun sebuah model.
Model yang berbeda mungkin dapat dibuat dari suatu situasi yang sama.
Sebagai petunjuk yang menyeluruh, proses
penyusunan model keputusan kuantitatif dapat dibuat dalam tiga tahap sebagai
berikut.
1.
Studi lingkungan.
Studi lingkungan sering diremehkan oleh mereka yang
baru dalam penyusunan model, masalah yang dinyatakan sering kali bukan masalah
yang riil. Berbagai faktor, termasuk konflik dalam organisasi, perbedaan antara
tujuan organisasi dan tujuan pribadi, dan kompleksitas keseluruhan situasi,
akan memersulit pembuat model dan pengetahuan yang jelas tentang masalah.
2.
Formulasi dari reresentassi masalah.
Formulasi mencakup analisis konsepsi dasar di
mana asumsi dan penyederhanaan biasanya
harus dibuat. Sering terjadi bahwa masalah yang dihadapai adalah tidak jelas
sampapi modelnya dapat diformulasikan. Dalam proses formulasi, pembuat model
diharapkan dapat memilih atau memisahkan lingkungan. Karena masalah yang
dihadapi melibatkan keputusan dan tujuan, masalah ini harus di
diidentifikasi dan ditentukan dengan
tegas.
3.
Penyusunan formulasi yang dinyatakan dalam simbol
matematika.
Hakikatnya antara formulasi dan penyusunan model
merupakan suatu proses yang terintegrasi. Akan tetapi, penyusunan model mungkin
tidaklah sekritis formulasinya. Alasannya adalah formulasi membutuhkan
analisis, pemilihan, dan keputusan tentang relevansi dan tujuan. Sedangkan
penyusunan model biasanya lebih ditekankan pada proses teknis yang menyangkut
matematika, penyesuaian dan penggunaan alat yang telah diketahui.
G.
Penggunaan dan Pelaksanaan Penyusunan Model
Dalam perusahaan, model adalah sinomim dengan
perencanaan eksekutif. Model-model perencanaan digunakan untuk memprediksi masa
depan, mencari alternatif, menyusun perencanaan berganda, dan meningkatkan
flesibilitas. Singkatnya, menyediakan segala macam data bagi perencana.
Kebutuhan akan keputusan manajerial sering kali timbul
dari konflik. Model kuantitatif sering digunakan sebagai alat dalam proses ini.
Keputusan manajer mungkin memengaruhi karirnya. Kenyataan ini memberikan
dorongan untuk mempelajari model dan penggunaan yang pantas dalam bidang
manajerial.
Terlepas dari penggunaan model yang berbeda untuk
berbagai tingkat yang berbeda dari suatu perusahaan, beberapa hal yang sama
dapat diterapkan untuk semua model keputusan kuantitatif. Semua model
memberikan kerangka logika dan analisis konsisten yang mencakup hal-hal sebagai
berikut.
1.
Model semaksa
manajer untuk menentukan tujuan dan asumsi dengan tegas.
2.
Model memaksa
manajer untuk mengidentifikasi dan mencatat macam-macam keputusan (variabel
keputusan) untuk memengaruhi tujuan.
3.
Model memaksa
manajer untuk mengidentifikasi dan mencatat interaksi yang relevan antara
variabel-variabel keputusan.
4.
Model memaksa
manajer untuk mencatat kendala-kendala dari nilai-nilai bariabel yang diasumsikan.
Akhirnya,
model memberikan kesempatan untuk menggunakan secara sistematis metode
kuantitatif yang bermanfaat. Model dapat menangani variabel-variabel dan
interaksi dalam jumlah besar.
H.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Kuantitatif
Adapun Kelebihan dan kekurangan metode kuantitatif.
1. Kelebihan metode kuantitatif :
a. Dapat digunakan untuk menduga atau meramal
b. Hasil analisis dapat diperoleh dengan pasti dan akurat
apabila digunakan sesuai aturan aturan yang telah ditetapkan
c. Dapat digunakan untuk mengukur interaksi hubungan antara
dua/lebih variabel (peubah)
d. Dapat menyederhanakan realitas permasalahan yang kompleks
& rumit dalam sebuah model
2. Kekurangan metode kuantitatif :
a. Berdasarkan pada anggapan anggapan (asumsi)
b. Asumsi tidak sesuai dengan realitas yang terjadi atau
menyimpang jauh maka kemampuannya tidak dapat dijamin bahkan menyesatkan
c. Data harus berdistribusi normal dengan skala pengukuran
data yang harus digunakan adalah interval & rasio.
d. Tidak dapat dipergunakan untuk menganalisis dengan
(sampel) yang jumlahnya sedikit (>30)
Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode
kuantitaif dapat dilakukan dan dapat menjadi sangat membantu dalam pengambilan
keputusan asalkan sesuai dengan permasalahan/bahan yang akan diteliti atau
dipecahkan.
Data bersifat kuantitas menggunakan metode kuantitatif sedangkan data bersifat kualitas menggunakan metode kualitatif.
Data bersifat kuantitas menggunakan metode kuantitatif sedangkan data bersifat kualitas menggunakan metode kualitatif.
I.
Contoh
Kasus
CONTOH KASUS : MASALAH GROSIR
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi
grosir adalah bagaimana menentukan tingkat persediaan (stock) barang agar
permintaan konsumen terpenuhi dan biaya gudang (tempat penyimpanan barang)
tersebut tidak terlalu mahal. Hal ini selalu menjadi tujuan karena
ketidakmampuan memberikan solusi yang optimal akan menghasilkan dua jenis kerugian
dalam usaha grosir. Sebagai contoh khusus, diambil masalah grosir buah yang
menjual buah strawbarry. Buah ini mempunyai masa (waktu) jual yang terbatas,
dalam arti jika tidak terjual pada hari pengiriman, maka tidak akan laku dijual
pada hari berikutnya.
Jika diandaikan harga pengambilan satu keranjang
strawberry adalah $20, dan grosir akan menjualnya dengan harga $50 satu
keranjang. Berapa keranjangkah persediaan yang perlu diambil setiap hari oleh
grosir agar mendapat resiko kerugian minimum, atau agar mendapat keuntungan
maximum? Hal ini dapat diselesaikan dengan konsep peluang jika informasi
tentang jumlah data penjualan beberapa hari yang lalu ada dicatat. Untuk
membahas kasus ini selanjutnya diandaikan data penjualan selama 100 hari yang
lalu tercatat sebagai berikut:
Tabel 1. Data Penjualan
|
Jumlah Strawbary terjual Jumlah Hari (Dalam Satuan Keranjang)
|
Penjualan
|
|
10
|
15
|
|
11
|
20
|
|
12
|
40
|
|
13
|
25
|
|
Jumlah
|
100
|
ANALISIS KEPUTUSAN
Analisis keputusan yang dimaksud disini adalah
suatu rangkaian proses dalam membahas permasalahan yang dikemukakan di atas.
Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan konsep jenis kerugian yang
ditimbulkan, pemakaian konsep peluang, dan perhitungan ekspektasi kerugian.
- Pendefinisian
Jenis Kerugian
Bila dalam membahas permasalahan di atas kita
fokuskan terhadap minimisasi kerugian maka perlu didefinisikan dua jenis
kerugian yang akan ditimbulkan dalam kasus tersebut. Jenis kerugian yang
pertama dikenal dengan obsolescence looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh
persediaan yang terlalu banyak sehingga harus dibuang pada hari berikutnya,
(jenis ini hampir sama dengan biaya gudang akibat terlalu lama penyimpanan).
Misalnya dari kasus tersebut di atas, jika jumlah strawberry yang disediakan
oleh grosir adalah 12 keranjang namun permintaan pada hari itu hanya 10
keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $40 (yaitu dari harga
pembelian 2 keranjang strawberry yang tidak terjual). Jenis kerugian yang kedua
adalah opportunity looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh kurangnya
persediaan sehingga ada pembeli yang tidak terlayani.
Dengan kata lain, kerugian ini timbul akibat keuntungan
yang seharusnya diperoleh tetapi tidak jadi diperoleh karena kekurangan stock.
Misalnya dari kasus di atas, jika jumlah strawberry yang disediakan oleh grosir
adalah 10 keranjang sedangkan permintaan pada hari itu mencapai 12 keranjang,
maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $60 (yaitu keuntungan yang tidak
diterima dari hasil penjualan 2 keranjang strawberry bila stock ada).
Tabel.2 Tabel Kerugian Bersyarat
|
Kemungkinan Jumlah
Yang diminta (X)
|
Kemungkinan Persediaan yang Dilakukan(X)
|
|||||
|
10
|
11
|
|
||||
|
10
|
$0
|
$20
|
$40
|
$60
|
||
|
11
|
30
|
0
|
20
|
40
|
||
|
12
|
60
|
30
|
0
|
20
|
||
|
13
|
90
|
60
|
30
|
0
|
||
Adopsi Konsep Peluang
Konsep peluang yang sudah didefinisikan
sebelumnya dapat diadopsi untuk data persoalan tersebut di atas. Jika tujuan
grosir adalah untuk menentukan persediaan jumlah strawberry dalam satuan
keranjang pada hari tersebut, dimisalkan dengan X, maka berdasarkan data di
atas X adalah peubah acak diskrit yang dapat mengambil nilai 1O, 11, 12, dan
13. Dan distribusi Peluang X (jumlah keranjang strawberry) dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Tabel 3.
Distribusi Peluang X
|
Jumlah Strawbary terjual
Dalam Satuan Keranjang
(X)
|
Jumlah Hari
Penjualan
(f)
|
Frekwensi
Relatif (fr)
P(X=x)
|
|
10
|
15
|
0.15
|
|
11
|
20
|
0.20
|
|
12
|
40
|
0.40
|
|
13
|
25
|
0.25
|
|
Jumlah
|
100
|
1.00
|
Perhitungan Ekspektasi Kerugian
Mengingat tujuan utama dari analisis ini adalah untuk
menentukan jumlah stock strawberry agar resiko (kerugian) minimum, maka
analisis dilakukan dengan memperhitungkan ekspektasi kerugian. Analisis
perhitungan ekspektasi ini akan disajikan dalam tabel, dengan memperhitungkan
semua kemungkinan yang dapat terjadi, dimulai dari tabel ekspektasi kerugian
bila persediaan 10 keranjang sampai dengan tabel ekspaktasi kerugian bila
persediaan 13 keranjang.
Tabel 4. Ekspektasi kerugian dari Persediaan 10 Keranjang
|
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
|
Kerugian Bersyarat
|
Peluang X
P (X)
|
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
|
|
10
|
$0
|
0.15
|
$0.00
|
|
11
|
30
|
0.20
|
6.00
|
|
12
|
60
|
0.40
|
24.00
|
|
13
|
90
|
0.25
|
22.50
|
|
Jumlah
|
1.00
|
$52.50
|
|
Kolom kerugian bersyarat pada Tabel 4 di alas
diambil, dari tabel 2 untuk kasus persediaan 10 keranjang. Kolom ke empat dari
Tabel 4 menyatakan bahwa jika 10 keranjang disediakan setiap hari selama masa
yang panjang (long period), maka kerugian secara rata-rata (ekspektasi
kerugian) adalah $52.50. Tentu tidak ada jaminan bahwa jika besok diambil
persediaan 10 keranjang maka sudah pasti akan rugi %52.50. Dengan cara yang
sama tabel 5, 6, dan 7 dapat dibentuk dan diinterpretasikan.
Tabel 5. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 11 Keranjang
|
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
|
Kerugian Bersyarat
|
Peluang X
P (X)
|
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
|
|
10
|
$20
|
0.15
|
$3.00
|
|
11
|
0
|
0.20
|
0.00
|
|
12
|
30
|
0.40
|
12.00
|
|
13
|
60
|
0.25
|
15.00
|
|
Jumlah
|
1.00
|
$30.00
|
|
Hasil analisis ekspektasi kerugian yang
disajikan dalam tabel 4 sampai dengan 7 dapat digunakan untuk mengambit
keputusan. Dapat dilihat bahwa minimum kerugian yang terjadi adalah $17.50. Hal
ini terjadi pada tingkat persediaan 12 keranjang Strawberry. Ini berarti grosir
lebih baik menyediakan 12 keranjang setiap harinya, untuk kasus tersebut di
atas.
Seandainya untuk membahas permasalahan di atas
dilakukan anatisis dengan mempertimbangkan keuntungan yang maksimum, maka
hasilnya tidak akan berbeda yaitu dengan jumlah persediaan 12 keranjang
perharinya.
Tabel 6. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 12 Keranjang
|
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
|
Kerugian Bersyarat
|
Peluang X
P (X)
|
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
|
|
10
|
$40
|
0.15
|
$6.00
|
|
11
|
20
|
0.20
|
4.00
|
|
12
|
0
|
0.40
|
0.00
|
|
13
|
30
|
0.25
|
7.50
|
|
Jumlah
|
1.00
|
$17.50
|
|
Tabel 7. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 13 Keranjang
|
Jumlah Kemungkinan
Permintaan (X)
|
Kerugian Bersyarat
|
Peluang X
P (X)
|
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
|
|
10
|
$60
|
0.15
|
$9.00
|
|
11
|
40
|
0.20
|
8.00
|
|
12
|
20
|
0.40
|
8.00
|
|
13
|
0
|
0.25
|
0.00
|
|
Jumlah
|
1.00
|
$52.50
|
|
KESIMPULAN DARI KASUS DI ATAS
Pemakaian Teori Peluang untuk membahas persoalan
ketidakpastian dapat dilakukan bilamana dimiliki suatu informasi yang dapat
dimodifikasi menjadi frekwensi relatif. Contoh kasus masalah grosir buah tetah
menunjukkan bagaimana penggunaan konsep teori peluang dan ekspektasi digunakan
untuk mengambil keputusan. Dan perhitungan dapat diperoleh bahwa nilai minimum
kerugian adalah $17.50, dengan jumlah persediaan perharinya 12 keranjang.
DAFTAR
PUSTAKA
Dr. Muhammad Muslich, M. (2009). Metode Pengambilan
Keputusan Kuantitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
May. (2013, 05 11). Pengambilan Keputusan dalam
Manajemen. Retrieved 09 30, 2014, from Meyka blogspot: http://meyka.blospot.com/2013/05/11/penga
mbilan-keputusan-dalam-manajemen/
Fiki, E. (2014, 04
30). Pengambilan Keputusan dan Kepemimpinan. Retrieved 09 30, 2014,
from Erikand Fiki: http://erikandfiki.wordpress.com/2014/04/30/penga
mbilan-keputusan-dan-kepemimpinan/
Suharso, P. (2013). Manajemen Pengambilan
Keputusan. Jakarta: PT. Indeks.
Sutabri, Tata. 2003. Sistem
Informasi Manajemen. Andi. Yogyakarta.
Willia. (2013, 10 27). Metode Kuantitatif dalam Pengambilan
Keputusan. Retrieved 09 30, 2014, from Willia Wordpress:
http://williamangga.wordpress.com/20 13/10/27/metode-kuantitatif-dalam-pengambilan-keputusan/
Udhhiyah, Olivia. 2013. Analisis Biaya Laba Volume Sebagai Alat
Perencanaan Laba Pada Home Industri Aryo Collection. [Omlime]. Tersedia
di: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/06/jurnal-analisis-biaya-laba-volume-sebagai-alat-perencanaan-laba-pada-home-industri-aryo-collection/.
Diunduh pada 6 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar