Happy Cat Kaoani /* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-9/ani878.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

Minggu, 26 Maret 2017

SEMESTER 3 - MAKALAH KPK

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A.    Teori yang Terkait Dengan Tema

a.      Pengertian Keputusan
Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik. Secara umum, pengertian pengambilan keputusan telah dikemukakan oleh banyak ahli, diantaranya adalah :
·         G. R. Terry : Mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.
·         Claude S. Goerge, Jr : Mengatakan proses pengambilan keputusan itu dikerjakan oleh kebanyakan manajer berupa suatu kesadaran, kegiatan pemikiran yang termasuk pertimbangan, penilaian dan pemilihan diantara sejumlah alternatif.
·         Horold dan Cyril ODonnell : Mereka mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif mengenai suatu cara bertindak yaitu inti dari perencanaan, suatu rencana tidak dapat dikatakan tidak ada jika tidak ada keputusan, suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
·         P. Siagian : Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta dan data, penelitian yang matang atas alternatif dan tindakan.
Teknik pengambilan keputusan  dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Teknik atau pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang menasarkan diri pada hitungan matematis, dan pendekatan ini telah memberikan kontribusi yang bersifat ilmiah terhadap pengambilan keputusan.
Pada organisasi modern banyak masalah keputusan yang tidak sekedar membutuhkan penyelesaian secara kualitatif, namun juga membutuhkan kteativitas, motivasi, dan penerimaan. Dalam makalah ini, akan dibahas teknik-teknik pengambilan keputusan yang bersifat kreatif dan mendapat penerimaan karyawanm serta teknik-teknik pengambilan keputusan modern.
Dalam manajemen, pengambilan keputusan (decision making) memegang peranan penting karena keputusan yang diambil oleh manajer merupakan hasil pemikiran akhir yang harus dilaksanakan oleh bawahannya atau organisasi yang yang ia pimpin. Keputusan manajer sangat penting karena menyagkut semua aspek . Kesalahan dalam mengambil keputusan bisa merugikan organisasi, mulai dari kerugian citra sampai pada kerugian uang. Pengambilan keputusan adalah suatu proses pemikiran dalam pemecahan masalah untuk memperoleh hasil yang akan dilaksanakan.
Ada masalah yang mudah diselesaikan ada pula masalah yang sulit, tergantung besarnya masalah dan luasnya dengan beberapa faktor. Model yang bermanfaat dan terkenal senbagai kerangka dasar proses pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh Herbert A.Simon terdiri atas tiga tahap, yaitu :
1. Pemahaman : Menyelidiki lingkungan kondisi yang memerlukan keputusan. Data mentah yang diperoleh diolah dan diperiksa untuk dijadikan petunjuk yang dapat memenyukan masalahnya.
2. Perancangan : Menemukan, mengembangkan dan menganalisis arah tindakan yang mungkin dapat digunakan. Hal ini mengandung proses untuk memahami masalah untuk menghasilkan cara pemecahan dan menguji apakah cara pemecahan tersebut dapat dilaksanakan.
3. Pemilihan : Memilih arah tindakan tertentu dari semua arah tindakan yang ada. Pilihan ditentukan dan dilaksanakan.

b.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan ini, Ada 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dalam Pengambilan Keputusan :
1.    Fisik : Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2.    Emosional : Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
3.    Rasional: Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.    Praktikal : Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5.    Interpersonal : Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6.    Struktural : Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin pria atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan.




B.     Teori atau Konsep yang Relevan

Secara umum, terdapat dua pendekatan dalam pengambilan keputusan, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif. Secara sederhana, pendekatan kualitatif mengandalkan penilaian subyektif terhadap suatu masalah, sedangkan pendekatan kuantitatif mendasarkan keputusan pada penilaian obyektif yang didasarkan pada model matematika yang dibuat. Jika Anda meramalkan cuaca mendasarkan pada pengalaman, maka pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Namun jika, ramalan didasarkan pada model matematika, maka pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif. Keputusan penerimaan karyawan berdasar nilai tes masuk adalah contoh lain pendekatan kuantitatif, sedang jika didasarkan pada hasil wawancara untuk mengetahui kepribadian dan motivasi maka pendekatan yang dilakukan adalah kualitatif.
Umumnya pendekatan kuantitatif dalam pengambilan keputusan yang menggunakan model-model matematika. Matematika sudah ditemukan oleh manusia ribuan tahun yang lalu dan telah banyak digunakan dalam banyak aplikasi. Untuk kasus yang lebih kompleks tentu saja dibutuhkan model matematika yang lebih rumit. Telah banyak model analisis kuantitatif yang dikembangkan dalam pengambilan keputusan.
Langkah-Langkah Dalam Pengambilan Keputusan
·         Mendefinisikan masalah
Secara sederhana, masalah merupakan perbedaan (gap) antara situasi yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Jika seorang mahasiswa ingin memperoleh nilai A, tetapi ternyata hasil yang didapatkan kurang dari itu, maka mahasiswa tersebut menghadapi masalah. Pada dasarnya, semua langkap pengambilan keputusan dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi perbedaan yang ada antara yang diharapkandanyangterjadi.



·         Mengembangkan model
Model adalah representasi dari sebuah situasi nyata. Model dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk; seperti model fisik, logika, atau matematika. Miniatur mobil atau maket rumah adalah contoh model fisik, sedang aliran listrik dengan rangkaian tertentu atau air mengalir dengan pola saluran tertentu adalah model logika untuk arus lalu-lintas. Model ekonomi yang menyatakan bahwa pendapatan merupakan fungsi dari konsumsi dan tabungan merupakan contoh model matematika.
Dalam langkah pengembangan model dikenal istilah variabel yang nilai-nilainya akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Dalam kasus nyata, variabel-variabel ini sebagian dapat dikendalikan dan sebagian yang lain tidak. Lama lampu merah pada lampu pengatur lalu lintas dapat dikendalikan dengan mudah, namun laju kendaraan dan jumlah kendaraan yang melewati sebuah jalan tidak mudah dikendalikan.
·         Mengumpulkan data
Data yang akurat sangat penting untuk menjamin analisis kuantitatif yang dilakukan menghasilkan keluaran seperti yang diinginkan. Sumber data untuk pengujian model dapat berupa laporan-laporan perusahaan seperti laporan keuangan dan dokumen perusahaan lainnya, hasil wawancara, pengukuran langsung di lapangan dan hasil sampling statistik. Membuat solusi. Solusi yang diambil dalam pendekatan kuantitatif dilakukan dengan memanipulasi model dan dengan masukan data yang dihasilkan pada langkah sebelumnya. Banyak metode yang bisa dilakukan dalam membuat solusi, seperti memecahkan persamaan (model matematika) yang sudah dikembangkan sebelumnya, menggunakan pendekatan trial and error dengan data masukan yang berbeda-beda untuk menghasilkan solusi ”terbaik”, atau menggunakan algoritma atau langkah-langkah penyelesaian detil khusus yang telah dikembangkan.
Apapun metode yang digunakan, solusi yang dihasilkan haruslah praktis (practical) dan dapat diterapkan (implementable). Solusi ”terbaik” yang dihasilkan harus tidak rumit dan dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang ada.
·         Menguji solusi
Untuk menjamin bahwa solusi yang dihasilkan merupakan yang terbaik, maka pengujian harus dilakukan, baik pada model ataupun pada data masukan. Pengujian ini dilakukan untuk melihat akurasi (accuracy) dan kelengkapan model dan data yang digunakan. Untuk melihat akurasi dan kelengkapan data, data yang diperoleh dari berbagai sumber dapat dimasukkan ke dalam model dan hasilnya dibandingkan. Model dan data yang akurat dan lengkap seharusnya menjamin.
·         Konsistensi hasil
Pengujian ini penting dilakukan sebelum analisis hasil dilakukan.
Menganalisis hasil. Analisis hasil dilakukan untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan jika sebuah keputusan telah dipilih. Selanjutnya implikasi langkah-langkah yang dilalukan juga harus dianalisis. Dalam langkah ini analisis sensitivitas (sensitivity analysis) menjadi sangat penting. Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah-ubah nilai-nilai masukan model dan melihat perbedaan apa yang terjadi pada hasil. Dengan demikian, analisis sensitivitas akan membantu untuk lebih memahami masalah yang dihadapi dan kemungkinan-kemungkinan jawaban atas masalah tersebut.





BAB III PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metode Kuantitatif

Metode kuantitatif adalah ilmu dan seni yang berkaitan dengan tata cara (metode) pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil analisis untuk mendapatkan informasi guna penarikan kesimpulan dan pengambilan keputusan. (Tuban, 1972 dalam Solimun, 2001). Render, B., et al, 2006 mengemukakan metode kuantitatif adalah pendekatan ilmiah untuk pengambilan keputusan manajerial & Ekonomi.
Metode Kuantitatif merupakan penilaian perusahaan dalam bentuk data yang diringkas dan diatur menurut angka sebelum kesimpulan dideskripsikan berdasarkan tindakan pengendalian strategi. Walaupun data yang dikumpulkan dari pendekatan ini lebih mudah untuk diringkas dan diatur, namun untuk menginterpretasikan apa yang dimaksud oleh pengukuran kuantitatif ini sangatlah sulit dan subyektif juga sifatnya.
Metode kuantitatif berlandaskan pada anggapan-anggapan tertentu yang telah disusun terlebih dahulu, jika anggapan-anggapan tersebut tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, apalagi jika menyimpang jauh maka keampuhan metode ini tidak dapat dijamin atau bahkan dapat menyesatkan. Umumnya pendekatan kuantitatif dalam pengambilan keputusan yang menggunakan model-model matematika. Matematika sudah ditemukan oleh manusia ribuan tahun yang lalu dan telah banyak digunakan dalam banyak aplikasi. Salah satu aplikasi matematika adalah untuk pengambilan keputusan. Sebagai contoh sederhana, bagaimana mengatur 50 kursi dengan ukuran tertentu ke dalam sebuah ruangan dengan ukuran tertentu pula. Dengan ukuran kursi dan ruangan, maka akan ditemukan cara terbaik untuk mengatur kursi; apakah 5 baris kali 10 lajur, atau sebaliknya, semuanya tergantung ukuran ruangan yang ada. Operasi berbagai organisai telah semakin kompleks dan mahal. Karena itu, menjadi semakin sulit dan penting bagi para manajer untuk membuat rencana dan keputusan yang efektif. Berbagai teknik dan peralatan kuantitatif dalam pembuatan keputusan telah dikembangkan lebih dari 40 tahun dan dikenal sebagai teknikmanagement science dan operations research. Pada umumnya, kedua istilah tersebut digunakan bergantian dengan pengertian yang sama yaitu riset operasi (operations research).

B.     Model Analisis Kuantitatif

Telah diketahui bahwa model kuantitatif didasarkan kepada data angka atau numerik dan model-model keputusan menghasilkan variabel-variabel keputusan yang berupa angka. Akan tetapi, model kuantitatif juga dapat menghasilkan angka yang tidak merupakan keputusan. Sebagai contoh adalah model linear programming yang berujuan memaksimalkan laba yang dapat dicapai oleh suatu perusahaan. Model ini akan menghasilkan angka yang merupakan keputusan dan angka yang bukan merupakan keputusan.
Sebagai angka yang merupakan keputusan adalah banyak produk yang harus diproduksi, sedangkan angka yang bukan keputusan adalah maksimum laba yang dapat dicapai. Dengan kata lain, suatu model kuantitatif mengevaluasi data numerik dan akan menghasilkan data numerik keputusan dan bukan keputusan. Keputusan dari berbagai imasalah dalam organisasi secara umum dapat dikelompokan dalam Tabel 1.1 sebagai berikut.
Tabel 1.1 Spektrum Situasi Keputusan
No.
Terstruktur (Terprogram)
Sebagian Terstruktur
Tak Terstruktur        (Tak Terprogram)
1.
Spesifikasi prosedur pengambilan keputusan dapat diprogram sebelumnya.
Hanya sebagian dari proses pengambilan keputusan yang dapat diprogramkan.
Prosedur pengambilan keputusan tidak dapat diprogramkan sebelum-nya.
2.
Waktu yang diperlukan dalam pemecahan masalah sedikit.
Manajer pembuat keputusan akhir dengan menggunakan bagian keputusan yang ter-struktur beserta intuisi dan pengalamannya.
Setiap manager me-mecahkan masalah atas dasar pengalaman, ke-percayaan, dan per-timbangannya sendiri.
3.
Data yang sama akan menghasilkan keputusan yang sama atau berulang.
Dua manajer mungkin setuju terhadap data tertentu yang relevan, tetapi kesimpulan yang diambil berbeda.
Dua manajer akan memdapatkan dua ke-simpuan yang berbeda.
Pembagian masalah ke dalam spektrum situasi keputusan memberikan langkah awal dalam mengidentifikasi karakteristiknya. Mungkin suatu pembagian yang lebih rinci diperlukan dalam membahas metode pendekatan kuantitatif ke berbagai masalah bisnis. Secara konvensional, pembagian masalah dalam kelompok data dilihat pada kondisi certainty, risk, dan uncertainty. Pengertian masalah dalam kondisi seperti ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.         Certainty         : yaitu apabila semua alternatif tindakan diketahui dan hanya terdapat satu konsekuensi atau outcome untuk masing-masing tindakan.
2.         Risk                 : yaitu apabila terdapat lebih dari satu konsekuensi atau outcome untuk setiap alternatif. Pengambil keputusan diasumsikan mengetahui probablitas terjadinya konsekuensi atau outcome ini.
3.         Uncertainty     : yaitu apabila jmlah kemungkinan konsekuensi atau probabilitas terjadinya outcome tidak diketahui oleh pengambil keputusan.
Adapun model-model analisis Kuantitatif dibagi menjadi 3:
a.       Decision Tree (pohon keputusan), unsur utama analisis model adalah hirarki berbagai cabang alternatif penyelesaian. Data yang mewakili bersifat metrik (kuantitatif) atau non-metrik (kualitatif) yang dikuantitatifkan dengan nilai-nilai (atau skor) berupa kategorikal.
b.      Expected Value (nilai harapan), sebagai pendekatan dalam penilaian setiap cabang alternatif penyelesaian (dalam grup cabang turunan pohon keputusan). Nilai yang diwakili oleh data kuantitatif (kategorikal) juga memiliki bobot kepentingan (probablistik) setiap unsur cabang pohon keputusan.
c.       Model Matematika, contohnya Model ekonomi yang menyatakan bahwa pendapatan merupakan fungsi dari konsumsi dan tabungan

C.    Jenis-jenis Analisis Data Kuantitatif

a.      Analisis Univariat
Jenis analisis ini digunakan untuk penelitian satu variabel. Analisis ini dilakukan terhadap penelitian deskriptif, dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil penghitungan statistik tersebut nantinya merupakan dasar dari penghitungan selanjutnya.
b.      Analisis Bivariat
Jenis analisis ini digunakan untuk melihat hubungan dua variabel. Kedua variabel tersebut merupakan variabel pokok, yaitu variabel pengaruh (bebas) dan variabel terpengaruh (tidak bebas).
c.       Analisis Multivariat
Sama dengan analisis bivariat, tetapi pada mutivariat yang dianalisis variabelnya lebih dari dua. Tetap mempunyai dua variabel pokok (bebas dan tidak bebas), variabel bebasnya memliki sub-sub variabel.

D.    Pilihan Teknik Analisis Kuantitatif

a.       Analisis Cost, Profit & Volume (BEP)
b.      Analisis Keputusan
c.       AnalisisProbabilitas
d.      Peralaman
e.       Korelasi dan Regresi
f.       Analisis Jalur
g.      Analisis faktor, deskriminan & Claster
h.      Model Pengendalian Persedian
i.        Linear Programming (Optimaliasi )Optimaliasi)
j.        Network Model
k.      Analisis I-O
l.        SEM, dll

Model adalah suatu konsep yang digunakan untuk menyatakan sesuatu keadaan (permasalahan) ke dalam bentuk simbolik, ikonik atau analog. Pada hakekatnya model adalah abstraksi dari dunia nyata, sensitivitas atas solusi terhadap perubahan dalam model serta perwakil realitas, oleh karena itu wujudnya harus lebih sederhana. Pemodelan Metode kuantitaif adalah upaya memodelkan permasalahan ke dalam konsep kuantintatif dengan prosedur:
(1) Ubah pernyataan ke dalam lambang kuantitatif
(2) Pemilihan metode analisis yang tepat
(3) Aplikasi metode secara benar.

F.     Penyusunan Model

Dalam dunia bisnis, pembuatan model kuantitatif melibatkan spesifikasi dan interaksi banyak variabel. Untuk mendapatkan model kuantitatif ini, masalah harus dinyatakan dalam bahasa matematika. Dalam masalah dunia nyata yang kompleks, biasanya tidak terdapat suatu “cara yang benar” dalam menyusun  sebuah model. Model yang berbeda mungkin dapat dibuat dari suatu situasi yang sama.
Sebagai petunjuk yang menyeluruh, proses penyusunan model keputusan kuantitatif dapat dibuat dalam tiga tahap sebagai berikut.
1.        Studi lingkungan.
Studi lingkungan sering diremehkan oleh mereka yang baru dalam penyusunan model, masalah yang dinyatakan sering kali bukan masalah yang riil. Berbagai faktor, termasuk konflik dalam organisasi, perbedaan antara tujuan organisasi dan tujuan pribadi, dan kompleksitas keseluruhan situasi, akan memersulit pembuat model dan pengetahuan yang jelas tentang masalah.
2.        Formulasi dari reresentassi masalah.
Formulasi mencakup analisis konsepsi dasar di mana  asumsi dan penyederhanaan biasanya harus dibuat. Sering terjadi bahwa masalah yang dihadapai adalah tidak jelas sampapi modelnya dapat diformulasikan. Dalam proses formulasi, pembuat model diharapkan dapat memilih atau memisahkan lingkungan. Karena masalah yang dihadapi melibatkan keputusan dan tujuan, masalah ini harus di diidentifikasi  dan ditentukan dengan tegas.
3.        Penyusunan formulasi yang dinyatakan dalam simbol matematika.
Hakikatnya antara formulasi dan penyusunan model merupakan suatu proses yang terintegrasi. Akan tetapi, penyusunan model mungkin tidaklah sekritis formulasinya. Alasannya adalah formulasi membutuhkan analisis, pemilihan, dan keputusan tentang relevansi dan tujuan. Sedangkan penyusunan model biasanya lebih ditekankan pada proses teknis yang menyangkut matematika, penyesuaian dan penggunaan alat yang telah diketahui.

G.    Penggunaan dan Pelaksanaan Penyusunan Model
Dalam perusahaan, model adalah sinomim dengan perencanaan eksekutif. Model-model perencanaan digunakan untuk memprediksi masa depan, mencari alternatif, menyusun perencanaan berganda, dan meningkatkan flesibilitas. Singkatnya, menyediakan segala macam data bagi perencana.
Kebutuhan akan keputusan manajerial sering kali timbul dari konflik. Model kuantitatif sering digunakan sebagai alat dalam proses ini. Keputusan manajer mungkin memengaruhi karirnya. Kenyataan ini memberikan dorongan untuk mempelajari model dan penggunaan yang pantas dalam bidang manajerial.
Terlepas dari penggunaan model yang berbeda untuk berbagai tingkat yang berbeda dari suatu perusahaan, beberapa hal yang sama dapat diterapkan untuk semua model keputusan kuantitatif. Semua model memberikan kerangka logika dan analisis konsisten yang mencakup hal-hal sebagai berikut.
1.         Model semaksa manajer untuk menentukan tujuan dan asumsi dengan tegas.
2.         Model memaksa manajer untuk mengidentifikasi dan mencatat macam-macam keputusan (variabel keputusan) untuk memengaruhi tujuan.
3.         Model memaksa manajer untuk mengidentifikasi dan mencatat interaksi yang relevan antara variabel-variabel keputusan.
4.         Model memaksa manajer untuk mencatat kendala-kendala dari nilai-nilai bariabel yang diasumsikan.
Akhirnya, model memberikan kesempatan untuk menggunakan secara sistematis metode kuantitatif yang bermanfaat. Model dapat menangani variabel-variabel dan interaksi dalam jumlah besar.

H.    Kelebihan dan Kekurangan Metode Kuantitatif
Adapun Kelebihan dan kekurangan metode kuantitatif.
1. Kelebihan metode kuantitatif :
a. Dapat digunakan untuk menduga atau meramal
b. Hasil analisis dapat diperoleh dengan pasti dan akurat apabila digunakan sesuai aturan aturan yang telah ditetapkan
c. Dapat digunakan untuk mengukur interaksi hubungan antara dua/lebih variabel (peubah)
d. Dapat menyederhanakan realitas permasalahan yang kompleks & rumit dalam sebuah model
2. Kekurangan metode kuantitatif :
a. Berdasarkan pada anggapan anggapan (asumsi)
b. Asumsi tidak sesuai dengan realitas yang terjadi atau menyimpang jauh maka kemampuannya tidak dapat dijamin bahkan menyesatkan
c. Data harus berdistribusi normal dengan skala pengukuran data yang harus digunakan adalah interval & rasio.
d. Tidak dapat dipergunakan untuk menganalisis dengan (sampel) yang jumlahnya sedikit (>30)
Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode kuantitaif dapat dilakukan dan dapat menjadi sangat membantu dalam pengambilan keputusan asalkan sesuai dengan permasalahan/bahan yang akan diteliti atau dipecahkan.
Data bersifat kuantitas menggunakan metode kuantitatif sedangkan data bersifat kualitas menggunakan metode kualitatif.

I.       Contoh Kasus

CONTOH KASUS : MASALAH GROSIR
Salah satu permasalahan yang sering dihadapi grosir adalah bagaimana menentukan tingkat persediaan (stock) barang agar permintaan konsumen terpenuhi dan biaya gudang (tempat penyimpanan barang) tersebut tidak terlalu mahal. Hal ini selalu menjadi tujuan karena ketidakmampuan memberikan solusi yang optimal akan menghasilkan dua jenis kerugian dalam usaha grosir. Sebagai contoh khusus, diambil masalah grosir buah yang menjual buah strawbarry. Buah ini mempunyai masa (waktu) jual yang terbatas, dalam arti jika tidak terjual pada hari pengiriman, maka tidak akan laku dijual pada hari berikutnya.
Jika diandaikan harga pengambilan satu keranjang strawberry adalah $20, dan grosir akan menjualnya dengan harga $50 satu keranjang. Berapa keranjangkah persediaan yang perlu diambil setiap hari oleh grosir agar mendapat resiko kerugian minimum, atau agar mendapat keuntungan maximum? Hal ini dapat diselesaikan dengan konsep peluang jika informasi tentang jumlah data penjualan beberapa hari yang lalu ada dicatat. Untuk membahas kasus ini selanjutnya diandaikan data penjualan selama 100 hari yang lalu tercatat sebagai berikut:
Tabel 1. Data Penjualan
Jumlah Strawbary terjual Jumlah Hari (Dalam Satuan Keranjang)
Penjualan
10
15
11
20
12
40
13
25
Jumlah
100

ANALISIS KEPUTUSAN
Analisis keputusan yang dimaksud disini adalah suatu rangkaian proses dalam membahas permasalahan yang dikemukakan di atas. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan konsep jenis kerugian yang ditimbulkan, pemakaian konsep peluang, dan perhitungan ekspektasi kerugian.  
  • Pendefinisian Jenis Kerugian
Bila dalam membahas permasalahan di atas kita fokuskan terhadap minimisasi kerugian maka perlu didefinisikan dua jenis kerugian yang akan ditimbulkan dalam kasus tersebut. Jenis kerugian yang pertama dikenal dengan obsolescence looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh persediaan yang terlalu banyak sehingga harus dibuang pada hari berikutnya, (jenis ini hampir sama dengan biaya gudang akibat terlalu lama penyimpanan). Misalnya dari kasus tersebut di atas, jika jumlah strawberry yang disediakan oleh grosir adalah 12 keranjang namun permintaan pada hari itu hanya 10 keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $40 (yaitu dari harga pembelian 2 keranjang strawberry yang tidak terjual). Jenis kerugian yang kedua adalah opportunity looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh kurangnya persediaan sehingga ada pembeli yang tidak terlayani.
Dengan kata lain, kerugian ini timbul akibat keuntungan yang seharusnya diperoleh tetapi tidak jadi diperoleh karena kekurangan stock. Misalnya dari kasus di atas, jika jumlah strawberry yang disediakan oleh grosir adalah 10 keranjang sedangkan permintaan pada hari itu mencapai 12 keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $60 (yaitu keuntungan yang tidak diterima dari hasil penjualan 2 keranjang strawberry bila stock ada).
Tabel.2 Tabel Kerugian Bersyarat
Kemungkinan Jumlah
Yang diminta (X)
Kemungkinan Persediaan yang Dilakukan(X)
10
11
                   12               13
10
$0
$20
$40
$60
11
30
0
20
40
12
60
30
0
20
13
90
60
30
0

Adopsi Konsep Peluang
Konsep peluang yang sudah didefinisikan sebelumnya dapat diadopsi untuk data persoalan tersebut di atas. Jika tujuan grosir adalah untuk menentukan persediaan jumlah strawberry dalam satuan keranjang pada hari tersebut, dimisalkan dengan X, maka berdasarkan data di atas X adalah peubah acak diskrit yang dapat mengambil nilai 1O, 11, 12, dan 13. Dan distribusi Peluang X (jumlah keranjang strawberry) dapat dinyatakan sebagai berikut:
Tabel 3. Distribusi Peluang X

Jumlah Strawbary terjual
Dalam Satuan Keranjang
(X)
Jumlah Hari
Penjualan
(f)
Frekwensi
Relatif (fr)
P(X=x)
10
15
0.15
11
20
0.20
12
40
0.40
13
25
0.25
Jumlah
100
1.00

Perhitungan Ekspektasi Kerugian
Mengingat tujuan utama dari analisis ini adalah untuk menentukan jumlah stock strawberry agar resiko (kerugian) minimum, maka analisis dilakukan dengan memperhitungkan ekspektasi kerugian. Analisis perhitungan ekspektasi ini akan disajikan dalam tabel, dengan memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi, dimulai dari tabel ekspektasi kerugian bila persediaan 10 keranjang sampai dengan tabel ekspaktasi kerugian bila persediaan 13 keranjang. 
Tabel 4. Ekspektasi kerugian dari Persediaan 10 Keranjang
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
Kerugian Bersyarat
Peluang X
P (X)
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
10
$0
0.15
$0.00
11
30
0.20
6.00
12
60
0.40
24.00
13
90
0.25
22.50
Jumlah
1.00
$52.50

Kolom kerugian bersyarat pada Tabel 4 di alas diambil, dari tabel 2 untuk kasus persediaan 10 keranjang. Kolom ke empat dari Tabel 4 menyatakan bahwa jika 10 keranjang disediakan setiap hari selama masa yang panjang (long period), maka kerugian secara rata-rata (ekspektasi kerugian) adalah $52.50. Tentu tidak ada jaminan bahwa jika besok diambil persediaan 10 keranjang maka sudah pasti akan rugi %52.50. Dengan cara yang sama tabel 5, 6, dan 7 dapat dibentuk dan diinterpretasikan.
Tabel 5. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 11 Keranjang
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
Kerugian Bersyarat
Peluang X
P (X)
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
10
$20
0.15
$3.00
11
0
0.20
0.00
12
30
0.40
12.00
13
60
0.25
15.00
Jumlah
1.00
$30.00

Hasil analisis ekspektasi kerugian yang disajikan dalam tabel 4 sampai dengan 7 dapat digunakan untuk mengambit keputusan. Dapat dilihat bahwa minimum kerugian yang terjadi adalah $17.50. Hal ini terjadi pada tingkat persediaan 12 keranjang Strawberry. Ini berarti grosir lebih baik menyediakan 12 keranjang setiap harinya, untuk kasus tersebut di atas.
Seandainya untuk membahas permasalahan di atas dilakukan anatisis dengan mempertimbangkan keuntungan yang maksimum, maka hasilnya tidak akan berbeda yaitu dengan jumlah persediaan 12 keranjang perharinya.
Tabel 6. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 12 Keranjang
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
Kerugian Bersyarat
Peluang X
P (X)
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
10
$40
0.15
$6.00
11
20
0.20
4.00
12
0
0.40
0.00
13
30
0.25
7.50
Jumlah
1.00
$17.50


Tabel 7. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 13 Keranjang
Jumlah Kemungkinan Permintaan (X)
Kerugian Bersyarat
Peluang X
P (X)
Ekspektasi Kerugian
X.P (X)
10
$60
0.15
$9.00
11
40
0.20
8.00
12
20
0.40
8.00
13
0
0.25
0.00
Jumlah
1.00
$52.50

KESIMPULAN DARI KASUS DI ATAS

Pemakaian Teori Peluang untuk membahas persoalan ketidakpastian dapat dilakukan bilamana dimiliki suatu informasi yang dapat dimodifikasi menjadi frekwensi relatif. Contoh kasus masalah grosir buah tetah menunjukkan bagaimana penggunaan konsep teori peluang dan ekspektasi digunakan untuk mengambil keputusan. Dan perhitungan dapat diperoleh bahwa nilai minimum kerugian adalah $17.50, dengan jumlah persediaan perharinya 12 keranjang.



DAFTAR PUSTAKA

Dr. Muhammad Muslich, M. (2009). Metode Pengambilan Keputusan Kuantitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
May. (2013, 05 11). Pengambilan Keputusan dalam Manajemen. Retrieved 09 30, 2014, from Meyka blogspot: http://meyka.blospot.com/2013/05/11/penga mbilan-keputusan-dalam-manajemen/
Fiki, E. (2014, 04 30). Pengambilan Keputusan dan Kepemimpinan. Retrieved 09 30, 2014, from Erikand Fiki: http://erikandfiki.wordpress.com/2014/04/30/penga mbilan-keputusan-dan-kepemimpinan/
Suharso, P. (2013). Manajemen Pengambilan Keputusan. Jakarta: PT. Indeks.

Sutabri, Tata. 2003. Sistem Informasi Manajemen. Andi. Yogyakarta.

Willia. (2013, 10 27). Metode Kuantitatif dalam Pengambilan Keputusan. Retrieved 09 30, 2014, from Willia Wordpress: http://williamangga.wordpress.com/20 13/10/27/metode-kuantitatif-dalam-pengambilan-keputusan/

Udhhiyah, Olivia. 2013. Analisis Biaya Laba Volume Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada Home Industri Aryo Collection. [Omlime]. Tersedia di: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2013/06/jurnal-analisis-biaya-laba-volume-sebagai-alat-perencanaan-laba-pada-home-industri-aryo-collection/. Diunduh pada 6 Desember 2014

aang, Sanusi. 2014. Pengambilan Keputusan.[Online]. Tersedia di: https://sanusiadam79.wordpress.com/2014/10/17/pengambilan-keputusan/. Diunduh pada 6 Desember 2014

Andri. 2009. Model Pengambilan Keputusan.[Online]. Tersedia di: http://andri88-blog.blogspot.com/2009/09/model-pengambilan-keputusan.html. Diunduh pada : 6 Desember 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MY INSTAGRAM @TARIPUTRAM
Semoga Bermanfaat Ya, Tulisan Dalam Blog Ini
HALLO FRIEND, THIS IS MY ROOM